Home  / 
Cerpen
Mulai Dari Awal
* Karya : Wahyu Ramadhansyah - Medan
Minggu, 8 Juli 2018 | 19:02:25
Tiba-tiba aku terjaga. Menatap ke jam yang menempel di dinding. Ha, jam tiga? Jam tiga dini hari atau jam tiga petang. Gak yakin. Aku beralih ke pergelangan tangan. Menarik jaket yang menutup, tapi di sana tak ada arlojiku. Ke mana?

Tadi saat  mau tidur, masih menempel tapi sekarang kok tak ada lagi. Aku meyakinkan diri. Ya, jam tanganku sudah tak ada. Untuk menjawab ketakmenentuan hatiku, aku menjulur tangan ke tumpukan bajuku. Arlojiku pun tak ada di situ. Aku jadi makin tak enak perasaan.

Cepat-cepat aku mengintip dari balik pintu. Masih gelap. Di luar pun masih sepi. Berarti masih jam tiga dini hari. Buru-buru aku mengemas barang-barang. Mulai baju yang sudah kucuci dan kering di jemuran yang ada di kamar kos. Baju kotor yang teronggok di pojok ruang dan dua pasang sendal yang sudah jauh dari baru.

Melindap-lindap aku mengintip ke tetangga. Takut diketahui mereka bahwa aku hendak lari malam. Tetapi, ah kenapa rupanya kalau mereka tahu. Toh aku tidak membuat tindakan yang tak terpuji.

Aku cuma ingin pindah kos. Rasanya di tempat ini sudah tidak nyaman lagi. Memang, sejak semula sudah tak enak sih. Lingkungannya memang familiar tapi jika sudah menjelang malam, ribuuut banget.

Anak-anak pada hilir-mudik dan teriak-teriak. Belum lagi remaja yang begitar. Sudahlah gitarnya sumbang, suara nyanyinya parau sampai suara yang tidak nyambung dengan petikan gitar. Mending dengan suara genjrang-genjreng pengamen cilik yang berdendang tanpa musik. Suaranya jernih tanpa polesan. Tak dibuat-buat. Tidak seperti di seputaran kosku. Bergitaran tapi sok ngartis. Pekak!

Hal lain yang membuatku pergi, aku ingin melangkah lebih lebar. Soalnya, butuh kerjaan baru. Maksudnya di tempat baru dengan gaji yang lebih memadai. Biar cukup membayar biaya kos dan kebutuhan sehari-hari.

Itu sebabnya, aku pindah tanpa gembar-gembor. Yang pasti, aku sudah membayar biaya bulanan tanpa meninggalkan utang.

Kawan-kawan semua heran, kok aku berhenti tiba-tiba. Tanpa ada pemberitahuan lebih dulu. Padahal, untuk masuk kerja saja harus memberi uang muka. 
Kawan-kawan bilang sebagai nyogok. Aku sih bilang seperti itu, tapi pihak yang memasukkan aku ke kerjaan mengatakan biaya yang dikutip untuk bayar uang seragam.

Uniform, kok semahal itu? Padahal jika membeli sendiri, dengan biaya yang disampaikan, bisa dapat 6 - 7 stel.  Tapi sudahlah. Mudah-mudahan berkah dan uang yang diterima bermanfaat. Meski aku yang di posisi dirugikan, aku ikhlas kok.

Yang jadi fokus ke depan, aku harus cepat-cepat dapat kerja baru. Langkahku cuma bermodal ijazah SMA. Begitu tamat, langsung mengadu nasib ke Medan. Konon, di ibu kota provinsi, kesempatan kerja lebih banyak ketimbang di kampungku.

Benar sih. Begitu merantau setengah bulan, langsung dapat kerja. Sebagai sekuriti. 

Terkait dengan kerjaku, aku bahagia saja. Meski berat aku anggap sebagai tantangan semata. Yang buat kesal cuma kawan-kawan setim. Mau menang sendiri. Kalau jaga selalu saja ada alasan untuk mengatur lokasi jaga. Memilih lokasi.

Emang bener sih. Jika jaga sesuai kehendak, menikmati udara lebih sejuk. Soalnya, jika di pojok utara, AC lebih banyak dengan udara sejuk lebih maksimal tapi di pojok selatan, sebaliknya.

Aku sih menerima saja ditempatkan di mana pun. Dapat kerja saja sudah syukur kok. Meski demikian, lama-kelamaan aku bosan juga. Menunggu kan kerjaan membosankan. Kerja menjadi sekuriti kan menunggu waktu. Datang pagi pulang petang. Datang petang pulang pagi. Sudah demikian, gaji pun masih tergolong sedikit. Padahal, pengeluaran makin banyak. Soalnya, hobi ngemil dan ngerokok jadi semakin memuncak. Belum lagi makan dan kebutuhan tiap hari.  

Tetapi, yang membuatku benar-benar ingin pindah karena persoalan pertemanan. Karena aku orang merantau, warga setempat menyepelekan. Meski aku sudah mengalah dan terus bersabar, tetap saja diganggu. Aku berusaha diam. Diam dan tetap ramah pada mereka. Uniknya, sikapku itu dianggap mereka sebagai bentuk ketakutan.

Pantang bagiku untuk mengelak dari tawaran pembeli. Mereka jual, aku beli sih. Seperti malam Minggu kemarin. Tepat di depan pintu, mereka meletakkan kotoran manusia. Begitu aku melintas dan menginjak, mereka tertawa ngakak. Aku sih tak dapat menuduh pelakunya mereka tapi dari polanya seperti itu, terlihat ada keterkaitan.

Meski demikian, aku tetap menahan amarah. Eh, lama-kelamaan kok makin menginjak. Kini ngajak aku duel. Aku tak takut, begitu tangan satu di antara mereka mengarah ke aku, aku langsung menampik. Tonjokan tanganku lebih cepat memukul.

Aku dikeroyok. Aku tak peduli. Justru aku merasa diperuntungkan. Membalas pukulan dengan membabi buta. Tiap pukulan pasti mengenai mereka. Sementara aku berusaha mengelak. Entah apa yang membuatku kok semakin kuat.

Sekitar 15 menit pertarungan terjadi. Aku hampir kehilangan tenaga, tapi aku yakin masih dapat memukul. Setelah itu, ada orang datang dan ibu-ibu setempat pada ribut. Melerai. Aku mendapat pembelaan menyeluruh.

Tak sedikit ibu-ibu mengategorikan aku sebagai pria baik-baik. Supel. Apalagi memerhatikan latar belakang pemuda yang menyerangku, mereka dari latar belakang yang sama, sementara aku sendiri. Itu memosisikan aku dapat pembelaan.

Meski begitu, aku tetap meminta maaf pada mereka. Menyalami satu per satu sambil minta maaf. Setelah situasi terkendali, aku langsung masuk ke kamar kos.
Bercermin.  Aduh, begini parahnya wajahku. Di bagian bawah mata, merah lebam kehitaman. Aku ingin mengobatinya dengan membungkus nasi panas. Tetapi aku tak punya. Ingin minta tolong pada ibu kos tapi malu. Kelihatan sekali aku yang kalah. Aku mencari alternatif lain.

Menggumpalkan t-shirtku. Meniupnya dengan harapan memberi rasa panas dan kutempelkan di bawah mata dan bagian wajah yang lembab. Aku ingin orangtuaku. Mulai ayah dan ibu sampai nenek. Aku jadi sedih. Bulan lalu nenek meninggal, aku tidak dapat pulang ke kampung karena tidak ada waktu. Soalnya masih baru kerja, belum siap training. Selain itu, tak punya uang. Kan butuh biaya, selain sekadar ongkos.

Mungkin kejadian ini adalah karma dari kelalaianku. Dosaku pada nenek yang dipanggilNya tapi tak kuantar sampai ke liang lahat. Maafkanlah aku, Nek.

Itulah, karena insiden itu, aku bertekad harus pergi. Soalnya, sedikit banyak, hatiku masih sakit dengan insiden tersebut. Ingin membalas semaksimalnya. Minimal ingin membuktikan bahwa aku bukan lelaki cemen. Jangankan pemuda kampung, preman di jalanan saja aku hadapi kok.

Setelah membulatkan tekad harus pergi. Malam-malam aku melangkah sambil membawa barang-barang. Tidak tahu tujuan pasti. Tapi aku merasa pasti dibantuNya. Aku melangkah ke rumah sahatbatku. Menceritakan keadaan sejujurnya. Syukur, sahabatku mau membantu dan mempersilakan aku menginap beberapa hari.  Gratis.

Hanya saja, kerjaan yang belum dapat.  Soalnya, aku terus berkurung di rumah. Menunggu wajahku kembali ke posisi semula. Dalam pada itu aku terus berdoa. Kiranya Allah Swt membantuku. Aku optimistis karena tak akan mungkin Sang Pencipta meninggalkanku sendiri tanpa jamahan tanganNya. Amin. (f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Di Tengah Spekulasi Berdamai, Artis Terkemuka Dunia Bela Brad Pitt dalam Perebutan Anak dengan Angelina Jolie
Joshua Siahaan dan Reza Azhari Ukir Prestasi dengan Lagu dan Puisi
Sule Lajang Lagi Pasca Digugat Cerai Sebab Orang Ketiga
Senat AS Setujui UU Royalti untuk Lagu yang Diciptakan Sebelum Tahun 1972
Menag Nilai Agama Modal Indonesia Rajut Persatuan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU