Home  / 
Cerpen
Dia dan Sebuah Kota Kecil Jelang Idul Fitri
* Karya: Hot Maruli Tua Siagian, Parluasan Balata - Jorlanghataran, Pematangsiantar
Minggu, 10 Juni 2018 | 18:45:57
Panas alang-kepalang menyengat. Aku berjalan membelah dua jalan persawahan itu. Tanaman jagung dan padi-padian menyambutku dalam hembusan sepoi.

Suasana sekarang ini bertolak belakang dengan agenda di sekolah. Kemarin aku mendapat ancaman hukuman membersihkan kamar mandi sekolah. Itu karena tiga hari tak masuk tanpa pemberitahuan.

Pak Rudi yang mewanti-wantiku menyerahkan kasusku pada Guru BP, yang lebih lembut dan omongannya selalu sejuk. Tetapi kali ini ia menatapku dengan penuh selidik.

Ditariknya tanganku mendekatnya. Tiba-tiba tangannya menempel di keningku hingga mengusap seluruh wajahku. 

"Kamu ada masalah apa?"

Aku menggeleng yakin tapi si ibu sepertinya lebih tahu apa yang ada di hatiku.

"Jangan bohong!"

"Kurasa, Ibu salah mendugaku."

Ia menghadiahiku senyum sarkartis, yang hingga sekarang membuatku terus bertanya-tanya. Kenapa si ibu senyum begitu.

"Hei," teriak Charles yang membuat lamunanku hilang. Ia mengajakku tapi kutolak karena aku ingin mengerjakan tugas kelompok dengan teman-teman sekelasku.

Kali ini aku pulang jadi agak terlambat. Begitu sampai di depan rumah, ibu menyambut dengan senyum bahagia. Tetapi tiba di dalam, ibuku merepet panjang. Sakit hatiku tapi mau bilang apa.

Aku teringat almarhum ayahku. Ia selalu menasihatiku dengan lembut.

Aku janji dalam hati, tidak buat salah lagi, meski dengan alasan belajar kelompok. Tekad seperti itu pun kusampaikan pada Helen Patricia.

Ia seorang yang baru kukenal, tapi sangat mengenalku. Mulai dari ayahku hingga aku. Bahkan, ia hapal nama lengkapku, Christina Geraldine yang anak dari almarhum Yohannes Geraldine.

Aku memanggilnya tante, tapi kalau di sekolah tetap dengan sebutan ibu. Ketika kukatakan alasanku untuk pulang cepat, Tante Helen protes. Katanya, bila ada apa-apa denganku, lapor padanya. Termasuk bila ibuku marah.

"Dia bukan ibu kandungmu!"
Kerap bertemu dengan Tante Helen membuat aku berani bertanya sebenarnya siapakah ibu kandungku? Aku pun jadi ingin memeluknya, seperti anak-anak lain yang boleh leluasa berlari dan menghambur ke pelukan ibunya.

Dan kali ini, aku sudah siap jika ibu memarahiku karena masih pulang terlalu lama. Sebelum mengetuk pintu, aku melekatkan telingaku.

Kudengar ada suara tawa. Ya, tawa ibuku. Tetapi suara pria itu siapa? Kok dari dalam kamar ibu?

Naluriku berpikir macam-macam. Ah, terlalu jahat aku berpikir seperti itu. Tetapi, benar kok. Ada pria di kamar ibu.

Aku kembali teringat ayah. Aku ingin mengadukan apa yang kusaksikan bahwa ibu memasukkan pria ke kamarnya. Tetapi, sudahlah... aku ingin mengurusi diriku.

Genap 17 tahun usiaku, aku ingin menjauh dari ibuku. Pada Tante Helen kuutarakan aku ingin mencari ibu kandungku.

Tanpa menjawab, ia memelukku dan membisikkan bahwa ibuku sudah dipanggilNya.

Aku tak bereaksi karena yang kurasakan pelukan Tante Helen makin erat, menghangatkan hatiku yang hampa. Kosong. Jika ibuku sudah meninggal, di mana makamnya?

Kuberanikan bertanya pada ibuku saat ini, tapi ia jadi marah. Murka. Tante Helen pun menyesalkan sikapku yang nekat bertanya langsung hal tersebut pada ibuku saat ini. Tetapi, karena tekadku sudah bulat, Tante Helen berjanji akan membawaku berziarah ke makam ibu kandungku.

Ia menetapkan waktu saat libur panjang. Kupikir, menjelang Idul Fitri adalah saat yang tepat karena  tidak sekolah.

Bayanganku tentang makam adalah tanah berundak dengan nisan, tapi rupanya Tante Helen tidak tahu di mana makam ibu kandungku.

Kami menyusuri sejumlah tempat, menemui orang-orang yang konon kenal dengan almarhum ayahku. Mereka bercerita banyak tentang orang yang kukagumi itu tapi tak tahu di mana makam ibu kandungku. Meski demikian, aku bangga atas perjalanan hidup ayahku yang penderma. Ayah yang mengasihi sesama, yang mau berkorban untuk kebaikan orang lain.

Hari menuju minggu, ziarah ke makam ibu kandungku tak juga terwujud. Pada akhirnya, setelah lama berjalan, aku bertemu kembali di sebuah kota kecil bernama, ingatan. Tidak ada yang tahu makam ibu kandungku.

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Istana Tepis Prabowo Soal Mark Up LRT: Ada Penghematan Rp13 T
Bawaslu: Ada Patroli 24 Jam Antisipasi "Serangan Fajar" Pilkada
Kemenhub Bagi 5.000 Life Jacket ke Operator Kapal Danau Toba
Tragedi KM Sinar Bangun, Poldasu Tetapkan Empat Tersangka
KM Sinar Bangun Terdeteksi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU