Home  / 
Semua Sudah Kauambil Dariku, Tuhan...
* Karya: Daniel Markodetta Pardede - Perumnas Mandala, Deliserdang
Minggu, 13 Mei 2018 | 18:28:56
Bang, datanglah ke rumah. Perutku terasa makin keras. Gak sakit sih, tapi badan kok semakin tak enak.

Adikku, Hanna Fansiska ngechat via WA. Aku sih biasa-biasa saja membacanya. Pikirku, adikku ini kangen samaku dan ingin ketemu aku.

Tetapi aku tak langsung pulang. Meski aku rindu, tapi kupikir adikku cuma ingin ketemu. Ntar, bila bersua, kami berantem. Ada aja ucapannya yang membuatku kesal. Mulai dari marah-marah dengan menuduh aku tak perhatian padanya sampai mencurigai aku lebih fokus pacaran ketimbang padanya.

Ia tahu kalau aku kuliah sambil ngojek. Hanna yang memompa semangatku untuk melanjutkan studiku. Dulu, ketika orangtua kami masih ada, perhatian adikku padaku pun begitu tinggi. Hanya saja, selalu membumbui keadaan biar aku dimarahin bapakku. 

Maklumnya, adikku ingin lebih dekat dengan bapak. Di lain hal, aku lebih dekat dengan mamak. Ada semacam persaingan di antara kami berdua.

Ketika mamak dipanggilNya, aku jadi semakin dekat dengan adikku. Ada sih bapak, tapi karena kami sama-sama SMA, selalu terlibat bersama.

Hanna itu lebih pintar dariku. Padahal, kalau belajar, tidak terlalu fokus. Beda dengan aku. Meski fokus tapi hanya sedikit pelajaran yang masuk. Itu sebabnya, bila bagi rapor, ia lebih banyak mendapat hadiah dari bapak.

Saat bapak menghadapNya, aku semakin dekat. Tiap malam, kami selalu berpegang tangan. Berdoa bersama untuk arwah orangtua. Dalam doa itu, berdua pula kami memanjatkan cita-cita dan harapan.

Aku sih bersikukuh dengan kuliahku. Adikku pun tetap ingin melanjutkan studinya. Pernah, karena keterbatasan biaya, aku berniat cuti studi tapi adikku tak mau. Ia bilang lebih baik berhenti sekolah asal kuliahku berlanjut. 

"Abang itu lelaki. Suatu waktu nanti jadi kepala rumah tangga. Jadi, harus sekolah setinggi-tingginya, harus meneruskan cita-cita bapak dan mamak," usulnya.
"Kamu itu perempuan lho," rajukku. "Kalau tak sekolah tinggi-tinggi, sinamotmu nanti kecil!"

"Ah, sinamotku pasti banyak. Soalnya aku kan cantik. Kayak bidadari," kicaunya.

"Cantik pun kalau idiot, sama saja nol. Bisa-bisa tak ada sinamotmu," balasku.

"Tau-tauan kau, Bang," balasnya. "Nanti kalau abang sudah sarjana, cari pacar yang cantik. Harus lebih cantik dari bidadari!"
"Pacarku nanti bintang film,"

"Harus cantiknya melebihi aku!"

Kwkwkwk kami tertawa bersama. Kuperhatikan wajah adikku. Ia emang cantik. Cuma keras kepalanya saja yang tak tahan. Maksudku, jika Hanna mempertahankan pendirian, ia akan habis-habisan berargumen. Aku selalu kalah dibuatnya.

Kadang, saking berdebat panjang, ompung kami ikut menengahi. Sejak orangtua kami meninggal, kami diasuh ompung dari mamak.

Itulah sebabnya tatkala ompung menghadapNya, aku benar-benar merasa kehilangan. Semua orang yang kucintai diambilNya dariku. 

Atas semuanya itu, aku ingin berontak. Kenapa Yang Kuasa berlaku tak adil padaku. Aku masih remaja, adikku masih menjelang remaja tapi kok sudah ditinggal sendiri.

Tiap malam, dalam doa, aku selalu protes padaNya. Tetapi, pada adikku kukatakan, apa yang dilakukanNya adalah satu bentuk kecintaanNya pada kita berdua. Buktinya, meskipun sebagai yatim-piatu tapi tetap bisa sekolah. Itulah sebabnya harus tetap memuliakanNya.

Yang kutanamkan padanya, kami berdua harus tetap sekolah dalam maksud mengejar cita-cita.

Karena prinsip itulah aku harus berusaha. Caranya, memaksimalkan sepeda motor peninggalan orangtua untuk mengojek. 

Disebabkan harus seharian di luar rumah, aku terpisah jarak dengan adikku. Kalau mau bertemu, kami selalu komunikasi via WA.

Seperti kemarin, ia mengirim pesan soal tubuhnya yang seperti tak enakan. Begitu selesai ngojek, aku langsung menemuinya.

Benar, tubuhnya begitu lemah. Badannya seperti kaku. Aku berinisiatif membawanya berobat. Tetapi, dibawa berobat justru kondisinya semakin drop.

Dalam kondisi lemah itu, Hanna sempat cerita bertemu dengan kedua orangtua kami. Ketika cerita, aku menatap dalam-dalam wajahnya. Di sorot matanya itu aku menemui wajah kedua orangtuaku.

Apakah adikku akan bertemu sesungguhnya di sana, di surga nan abadi? Kubunuh pertanyaan itu dengan merawat adikku.

Semampunya kubawa ke rumah sakit. Dokter memvonis Hanna menderita liver. Aku ingin berontak padaNya. Cobaan apalagi yang diberikan padaku. Saat menjaga adik yang terbaring lemah dengan selang-selang ditancapkan ke tubuhnya, aku minta padaNya, jangan cabut nyawa adikku sebagai satu-satunya hartaku yang ada di dunia.

Tetapi, doaku tak didengarNya. Hanna menghadapNya pada 3 Mei 2018 pukul 17:56. Ketika hendak menemuiNya, jari-jemari Hanna lembut sekali meraba tanganku. Entah apa yang ingin dikatakannya tapi aku menerima sinyal sebagai pamit.

Aku berteriak sekerasnya hingga orang-orang di ruangan mengejar ke arahku. Aku kembali ingin berontak padaNya. Kenapa semua yang ada padaku diambilNya secepat itu.

Puas menangis, aku menegarkan diri membaca Alkitab.

Selamat jalan, Dek. Kau bahagia sudah bertemuNya bersama orangtua kita  di surga. Jagai abangmu ini yang masih di bumi bersama malaikatNya. (q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Kopi Simalungun Tidak Kalah dengan Kopi Starbucks
LCA-International Mission Terinspirasi dengan HUT ke-73 Kemerdekaan RI
Oknum Polisi Bertugas di Simalungun yang Ditangkap Polres P Siantar Ditangani Polda Sumut
Peduli Pariwisata, PWI Siantar-Simalungun Berlayar di Danau Toba Parapat
Bupati dan Kajari Simalungun: NKRI Harga Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU