Home  / 
Pupuk Toleransi dengan Pengembangan Kualitas Jati Diri
Minggu, 29 April 2018 | 20:46:42
SIB/Dok
TOLERAN: Pekerja sosial Arni Siringoringo dalam diskusi lintasetnik yang dihadiri ragam kalangan, Kamis, (26/4) di Medan didampingi Ustad Martono.
Medan (SIB) -Sikap intoleran tak semata muncul dari paham kebenaran tunggal tapi disebabkan seseorang  atau individu tidak memahami kualitas diri, kurang memahami jati diri. 

Demikian diutarakan pekerja sosial Arni Siringoringo dalam diskusi lintasetnik yang dihadiri ragam kalangan. Diskusi yang digelar Relawan Radjasi dalam format sharing tersebut menghadirkan Ustad Martono di Medan, Kamis, (26/4). Kegiatan diadakan karena semakin banyak keterlibatan remaja dalam praktik ujaran kebencian di media sosial.

Arni Siringoringo mengatakan, yang paling utama dalam menekan intoleran adalah membuka diri menerima ide dan sikap pihak luar. "Tetapi, yang utama adalah menumbuhkan pemahaman bahwa potensi pribadi-pribadi dapat dikembangkan ke arah positif yang menginspirasi serta bermanfaat bagi banyak orang," ujar perempuan pembimbing anak dan remaja Rohingya, khususnya korban konflik Myanmar tersebut. "Dengan kesadaran ingin menginspirasi, melayani sesama untuk kemajuan orang banyak, maka otomatis sikap intoleran itu pupus!"

Ada sejumlah formula dalam memupuk toleran.  Pertama menerima dan memelajari perbedaan. "Dari sono, ciptaanNya memang beda. Tapi siapapun harus tahu, perbedaan tak bisa dibunuh! Tujuannya jelas, kan yakni untuk menjadi win win solution bagi banyak pihak, terkadang sulit namun harus bisa," tegasnya sambil mengatakan dengan mengenali diri sendiri pun pribadi semakin paham bahwa ada orang lain yang berhak menikmati kehidupan sebagai karuniaNya.

Ia mengatakan, dalam fase kehidupan remaja, perbanyak teman yang tidak dari lingkungan sendiri tapi dari luar. Tujuannya agar semakin paham banyak warna di luar sana. "Dari sana muncul toleransi tersebut," tegas Arni Siringoringo.

Dengan posisi tersebut, lanjutnya, memahami lingkungan.  Dari pergaulan yang luas dengan banyak warna, seorang individu pasti terlatih untuk perpikir dengan bijaksana. "Intoleran itu kan sumbunya berpikiran sempit, mengamalkan asas kebenaran tunggal. Apa yang ada di pikirannya, itulah yang benar!"

Dari sisi moral agama, gampang benar menumbuhkan semangat toleran. "Hindari kemauan mencaci pihak lain apalagi memfitnah," ujarnya sambil mengatakan butuh pendampingan dari pihak lain atau kaum dewasa dalam menumbuhkan hal seperti itu. "Kaum dewasa pun jangan sekali-kali mencaci pihak lain!"

Dalam cakupan media sosial, ujarnya, regulator harus tegas. Misalnya ada cuitan yang mengarah pada persinggungan, langsung diberangus. "Diperlukan polisi syber yang lebih maksimal bekerja," ujarnya sambil mengatakan sejalan dengan cara itu, setiap orang dituntut terus introspeksi diri.

Introspeksi, ujarnya, menumbuhkan kehati-hatian dalam berpikir dan bertindak pada orang lain.

Diskusi tersebut beroleh apresiasi dari sejumlah pihak, termasuk sejumlah like di akun dunia maya. Antara laind ari Emil Hardi, Babubhay Sugananden dan Ahmad Suryadi Purba yang berharap kiranya apa yang dilakukan terus secara kontiniu diadakan. (R10/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
6 Tim Senior Putra Dipastikan Lolos 8 Besar Turnamen Bola Voli
Turnamen Bola Voli Senior Putra di Pematangsiantar, Mangisi Lunggu Sidabutar SE Jagokan Kambat Simalungun
Kisruh Kepengurusan Percasi Asahan, Mandat Pengprov Sumut Dipertanyakan
Atlet Wushu Indonesia Raih Emas di Festival Shaolin China
PSSI Sering Terlambat Bayar Gaji Milla
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU