Home  / 
C u r h a t
Jejak Sepatu Buka Tabir Siapa Pelaku
* Fandi Pratama Putra - SMAN 2 Rantau Selatan
Minggu, 29 April 2018 | 20:45:54
Aku penasaran banget. Kawan sekelasku kehilangan uang. Katanya sih alat pembayaran yang saha tersebut diletakkannya di dalam tas, di dalam tempat pulpen.

Dua hari berturut-turun ia kehilangan. Yang pertama Senin. Ketika meletakkan tas ke mejanya, uang itu masih ada. Terus ikut Upacara Pengibaran Bendera. 
Begitu masuk kelas, beberapa lembar rupiah itu raib.

Ia sempat merasa silap. Tetapi, ketika hari selanjutnya hilang lagi, ia uring-uringan. Lapor ke Guru BP. Walau sudah kelimpungan mencari, tetap tak ada.

Aku jadi takut. Soalnya ia cerita tentang kehilangan tersebut dengan melirik ke aku. Ya Allah, sumpah... aku tidak sekotor itu. Tetapi karena tetap saja nada suaranya mengarah padaku, aku jadi takut sendiri.

Aku berdoa kiranya pelakunya berbaik hati. Memulangkan uang yang dicuri. Soalnya uang itu untuk membayar biaya bulanan. Tetapi, ah... sia-sia. Sudah hilang, tak mungkin bakal dijumpai lagi.

Saking penasaran, tiap Senin, aku sengaja datang lebih awal. Kawan-kawan sampai heran. Kok aku jadi begitu rajin. Karena langkahku itu pula rekan-rekan semakin curiga.

Ya Allah... tunjukkanlah siapa malingnya.

Ketika aku datang lebih dulu dan sengaja sembunyi di pojok ruang dengan pura-pura tidur, aku memerhatikan semua yang masuk dan ke luar. Fokus monitor pada meja kursi kawanku yang kehilangan. Sampai-sampai aku tak ikut Upacara Penaikan Bendera.

Aduh, tiba-tiba aku dikejutkan langkah kawanku yang tergesa-gesa. Aku langsung merapatkan badanku agar tak dilihatnya. Ah, tak mungkin Si (nama kawanku sengaja tidak kuterakan) mencuri! Ia anak baik. Supel. Jika ada acara di sekolah selalu berpartisipasi. Mahir soal agama.

Kuikuti jejak sepatunya. Benar... ia mengarah ke meja yang jadi incaran. Dalam sekejap, ia beraksi.

"Maliiing," teriakku dan membuatnya gugup. Aku langsung menangkapnya. Ia membalas dengan memelukku.

"Mengapa kaucuri?"
Kawanku itu tak bisa berkata. Tangannya gemetar, seperti hendak memukulku. Aku berkuda-kuda. Gila. Sudah salah, marah pula.

Tetapi dugaanku tidak tepat. Ia memelukku sambil tersedu. Ia mengaku butuh duit karena uang sekolahnya habis bertaruh bola.

Aku tak bisa berbuat apa pun. Apalagi ia berjanji akan mengembalikan bila ada uangnya. Aku berinisiatif mengembalikan lebih dulu pada kawanku yang kehilangan. 

Tak kuceritakan kejadian sebenarnya. Aku harus menjaga nama baik sahabatku. (d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Harga Cabai Melejit di Raya Simalungun, Rp 35 Ribu per Kg
Harga Kebutuhan Pokok Masih Stabil di Medan
Industri Keramik Waspadai Tambahan Impor dari India
Nilai Barang Milik Negara Melesat Jadi Rp5.728 Triliun
Kondisi Makro Ekonomi Terjaga Baik dalam 4 Tahun
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU