Home  / 
Kids Zaman Now yang Pilih Jadi Relawan Ketimbang Ikut Hura-hura Millenial
Minggu, 15 April 2018 | 19:48:32
SIB/Dok
KIDS ZAMAN NOW: Pengurus Forum Komunikasi Suara Kebenaran (Fokus) di antaranya Sekretaris Fokus Jhonny Silaban dan Bendahara Janson Sihombing, Penanggung Jawab Pelatihan Keterampilan Richard Eddy M Lingga, Dept Diakonia GBI House of Sacrifice Robert Marbun dan drg Caroline Siahaan bersama kids zaman now penerima pendidikan keterampilan bersama relawan tim teknis dari Fokus GBI House of Sacrifice dipimpin Desmon Siagian saat pelepasan tim melayani sesama di bidang servis AS di kompleks Gereja Bethel Indonesia (GBI) House of Sacrifice, Jumat (13/4).
Medan (SIB) -Generasi millenial harus melek teknologi, minimal seputar gadget tapi bukan berarti harus terseret pada hura-huranya. "Daripada 'diperbudak' teknologi lebih baik mengisi diri dengan kualitas. Sekecil apapun itu," ujar Desmon Siagian, instruktur keterampilan di Forum Komunikasi Suara Kebenaran (Fokus) Gereja Bethel Indonesia (GBI) House of Sacrifice, Jumat (13/4) pasca pelepasan dan penyerahan sertifikat lulus pendidikan magang keahlian perbaikan AC.

Ketua Fokus Johannes Sitepu mengatakan, di era millenial memang generasi muda harus menguasai perkembangan global tapi harus memiliki keahlian. "Yang fokus hura-hura, pasti terlindas. Tetapi harus mengisi diri dengan keterampilan serta berpegang pada agama. Kids zaman now harus menguasai dunia dengan segala kemajuan tapi harus memiliki moral agama," tegasnya sambil mengatakan dengan pikiran semacam itulah pihak bersama sejumlah pekerja sosial merekrut relawan muda untuk dididik guna melayani sesama sesuai keterampilan.

Para relawan itu, ujarnya, dididik hingga memiliki keterampilan seperti kemahiran menyervis AC. Bukan sekadar memahami tapi keahlian sesuai standar Dinas Tenaga Kerja Kota Medan (baca: Balai Latihan Kerja). "Para relawan yang mengisi keterampilan adalah tim teknis dari Fokus GBI House of Sacrifice dipimpin Desmon Siagian," ujar Johannes Sitepu didampingi Sekretaris Fokus Jhonny Silaban dan Bendahara Janson Sihombing, Penanggung Jawab Pelatihan Keterampilan Richard Eddy M Lingga, Dept Diakonia GBI House of Sacrifice Robert Marbun dan drg Caroline Siahaan.

Setelah mahir diajarkan, unsur penguatan moral agama diteguhkan. Cara itu dimaksudkan agar dalam melayani sesama (baca: konsumen) tidak diikuti kecurangan. Misalnya, AC tidak rusak tapi karena ingin mendapat masukan lebih, dibilang rusak. "Maksudnya, mereka yang lulus pendidikan keterampilan 
dalam naungan Fokus, bertanggung jawab pada sesama demi melayaniNya," tegas Johannes Sitepu.

Setelah pendidikan keterampilan dan moral pelayanan dipunya, diberi modal usaha mulai dari becak bermotor hingga alat-alat untuk menyervis dengan total bantuan bergulir Rp30 juta. "Fokus menegaskan, yang beroleh bantuan harus mencetak orang-orang muda lainnya agar dengan keahliannya melayani sesama," tambahnya.

Richard Eddy M Lingga menambahkan, dengan cara demikian, peluang ekonomi diisi kaum muda enerjik. Cara demikian, lanjutnya, secara langsung mengurangi angka pengangguran di usia produktif serta mengisi waktu anak-anak muda dengan kegiatan positif dan menghasilkan. "Yang paling utama, anak muda itu memiliki moral agama hingga semakin bersahabat denganNya serta memedomani ajaran Yesus Kristus," tutupnya. (Rel/R10/q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
DPRDSU Tegaskan Hentikan Pembersihan Lahan PTPN II
Wapres JK: Kerajinan Tangan Harus Bersaing dengan Robot
Peringatan Hari Air Sedunia dan Hari Bumi di Sibolangit Ditandai Tanam Bibit Pohon
Jokowi Bertemu PA 212 Jalin Persatuan
Papua Geram MA Hapus Pajak Air Freeport Rp 3,9 Triliun
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU