Home  / 
Cerpen
Teman Terbaik, Selamanya...
* Karya: Florensia Parapat - SMAN 2 Rantau Selatan
Minggu, 15 April 2018 | 19:46:30
Usai UNBK 2018 hura-hura. Pesta anak SMU. Yang ikut tak hanya peserta via komputer tapi siswa yang UNBP juga. Buktinya, jejaring sosial berbasis Android dipenuhi dengan undangan. Lebih tepat ajakan untuk berkumpul di Lapangan Banteng. Tujuannya berpesta warna.

Seperti Holi Festival yang rutin dilakukan warga India. Bedanya, yang kami lakukan berbasis tanda-tangan atau orat-oret di baju seragam.

Aku sih sebenarnya sayang mencoreti uniform karena baju seragamku masih baru. Tapi, karena sebagai kenang-kenangan, aku mau juga. Syaratnya, jangan sembarang coret. Apalagi dengan kata-kata yang tak baik.

Aku hanya mau tekenan para sahabat. Tidak pandang pilih tapi semuanya.

Yang pertama kuinginkan tanda tangan Dinda. Dinda itu sahabat dekatku. Sekarang ia menetap di Bandung. Aku di Jakarta. Meski lain kota lain provinsi, persahabatanku dengannya tetap dekat.

Kan ada smartphone. Tinggal conect ke WA, ngechat atau VC. Gampang kan. Yang jadi soal, bagaimana secepatnya sampai ke wilayah Jakarta sesuai waktu. Bukankah begitu tiba di jalan langsung dimangsa macet. Apalagi yang mengarah ke Jakarta Pusat.

Aku sih sudah mengusulkan ketemu di Lapangan Kalideres aja tapi Dinda ngotot ke Lapangan Banteng. Alasannya, biar seru!

Aku pun menyanggupinya, tapi dengan kondisi seperti sekarang ini... ampyuuun. Aku seperti terjepit. Maju kena mundur kena.

Maju terus, masih butuh berjam-jam lagi. Mundur, sama saja. Aku cuma menikmati keriuhan pengendara sepeda motor dari Transjakarta.

Enak benar mereka. Berboncengan bebas dan meliuk-liuk di celah mobil. Pakai seragam sekolah yang sudah berhias tanda tangan kawan-kawan.

Kuraba uniformku yang kulipat dan kusembunyikan di dalam tas ranselku. Masih ada.

Aku ingin mengeluarkannya. Menawarkan pada cowok macho yang dari tadi memerhatikanku. Minta tanda tangannya. Mungkin aku akan merasa bangga bila yang meneken di bajuku lelaki-lelaki pilihan. Satu di antaranya ya dia itu... 

Haaa kan, tengoklah matanya yang teduh itu sepertinya terus mengawasi gerak-gerikku. Ih, bibirnya merah menatapku dengan senyum. Duhai, lengkaplah ... di sana ada sebaris kumis tipis yang belum hitam.

Jantungku tak tahan menekan detaknya. Sebagai gantinya, aku mendekap tasku kuat-kuat. Ya Gusti Allah... diakah yang diutusan malaikat untuk mendampingiku! Aduh, aku semakin gemetar.

Saking bingungnya, tasku terjatuh dan terlempar di antara kaki penumpang yang berdiri. Aku  mencoba mengejar. Karena tersandung, aku terjerembab.

Pria itu... pria itu mengambil tasku. Lemas badanku dan membiarkannya menarik tanganku.

"Maaf, Bang..."

"Gak apa-apa," jawabnya. "Kamu orang Medan ya!"

"Eeee kok tau?"

"Soalnya suka bergelantungan di bus!"

Aku ingin ngakak panjang tapi malu. Kucubit aja pinggangnya. Ia mengaduh manja.

Pertemuan yang membawaku seperti mengawang. Ia ngotot minta alamat rumah dan nomor HPku. Hmm, siapa takut. Langsung kuberikan dan ia memujiku tak berjarak dengan sifat asli orang Batak. To the point!

Uniknya, ia mau turun bersamaku menemui Dinda yang sudah berbaur menyemut bersama kawan-kawan yang baru selesai ujian nasional. Eh, di situ juga ada Cilla.

Dulu kami tiga serangkai yakni aku - Cilla dan Dinda. Tapi karena pilihan masing-masing, kami terpisah ruang dan waktu. Pertemuan kali ini membuatku seperti mendapat durian runtuh. Berkenalan dengan cowok macho, ketemu Cilla tanpa direncanakan lebih dulu.

Tetapi, yang kuanehkan, Cilla memandang pria yang baru kukenal itu seperti tak suka. Wajahnya yang manis jadi kecut masam. Tanpa senyum di sana.

Aku terheran tapi tak berani bertanya. Soalnya, baru kenal kok sudah musuhan.

Seusai ikut hura-hura, kami berpisah. Cilla masih menyempatkan meludah ke arah pria itu dan bubar jalan. Sikapnya itu membuatku terpukul.

Dan begitu sampai di rumah, jawaban atas pertanyaanku selesai. Jhon, begitu si pria kupanggil, mengaku pernah berteman dekat dengan Cilla tapi pecah karena Cilla mendua hati.

Semua perjalanan Jhon - Cilla terhidang padaku. Aku pun ingat, waktu masuk ke kelas II SMA, Cilla cerita ada cowoknya. Ia bahkan menawarkanku untuk melihat di akun pribadinya tapi aku tidak memenuhi permintaannya. Kupikir, kepo amat sih dengan urusan pirbadi orang.

Jhon pun membenarkan hatinya sudah tertutup pada Cilla karena kadung sakit hati. Yang tinggal padanya hanya dendam dan benci. Dendam ingin membalas sakit hati pada Cilla tapi mempertimbangkan ragam hal, niatnya diurungkan dengan cara mengikhlaskan. Hanya saja, ia sudah tak mau membuka halaman baru dengan Cilla.

Aku jadi segan. Terus terang, aku kadung menyukai Jhon. Jhon pun begitu. Dalam pandanganku, Jhon pria jujur yang pantas mendampingiku tapi bagaimana dengan Cilla? Ia sahabatku...

Lebih tiga bulan aku menggantung permintaan Jhon. Sepanjang waktu itu pula aku terus mengomunikasikannya pada Cilla. Kusimpulkan bahwa Cilla masih berharap banyak dari Jhon tapi si pria kadung menutup hatinya. Lalu, apalah yang harus kulakukan... (q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Ikut Mendaftar Bacaleg dari Partai PKB, Ketua KPUD Palas Mengundurkan Diri
Kajari Labuhanbatu Lantik Jaksa Naharuddin Rambe Jabat Kasi Barang Bukti dan Barang Rampasan
Wakil Wali Kota Buka Focus Group Discussion Sinkronisasi Data Kota Tanjungbalai
PKB Tobasa Daftarkan Bacaleg ke KPUD
DPD Golkar Tobasa Daftarkan 30 Bacaleg ke KPU, Targetkan 7 Kursi di DPRD
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU