Home  / 
Pemetaan Kerawanan Cegah Meluaskan Peredaran Narkoba di Lingkungan Generasi Muda
Minggu, 4 Maret 2018 | 22:10:34
SIB/Dok
DISKUSI PENCEGAHAN: Kapolres Deli Serdang AKBP Eddy Suryantha Tarigan, Kamis (1/3), menerima Ketua PAC Granat Medan Baru Satriya Perdana Bangun SS dan Sekcam Medan Baru H Tarigan di Mapolres Deliserdang.
Lubukpakam (SIB) -Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Nasional Antinarkotika (Granat) Medan Baru Satriya Perdana Bangun SS mengajak semua pihak ikut serta dalam memetakan kerawanan wilayah peredaran bahan adiktif, khususnya yang terkategori narkoba. Cara itu, ujar aktivis pemberdayaan warga miskin kota tersebut, bertujuan mencegah meluaskan peredaran gelap Narkoa di lingkungan generas muda. "Kerawanan wilayah cenderung di irisan dua daerah administratif," ujarnya usai berdiskusi dengan  Kapolres Deli Serdang AKBP Eddy Suryantha Tarigan, Kamis, (1/3), di Mapolres Deliserdang.

Kehadiran Satriya untuk maksud silaturahim dan minta masukan sehubungan kerja sosialnya, khususnya terkait penyuluhan dan langkah preventif sehubungan semakin berkembangnya penyalahgunaan Narkoba di lingkungan anak muda. Dalam kesempatan itu, Satriya datang bersama Sekcam Medan Baru H Tarigan didampingi Kasat Narkoba AKP Erwin Tito.

Menurutnya, pemetaan itu pun untuk maksud mengetahui posisi pemahaman generasi muda pada Narkoba. Ia menegaskan, jenis Narkoba berkembang sangat cepat. Idealnya, pemahaman mengenai zat adiktif yang masih belum diatur dalam regulasi harus lebih dulu disosialisasikan pada masyarakat guna pemahaman yang memadai pada Narkoba. "Selain itu, ya yang tadi... ada pemetaan wilayah," tegasnya.

Satriya bilang, secara geografis Medan berdampingan dan dikelilingi Deliserdang hingga memunculkan sejumlah daerah irisan. Di wilayah itu, prediksinya, mungkin menjadi 'kantung' peredaran gelap Narkoba. "Hal sedemikian itulah yang harus diantisipasi," tegasnya.

Ia menyitir publikasi BNN setahun lalu di mana terdapat 644 jenis zat psikoaktif baru secara global. Di Indonesia, paparnya, sesuai UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika baru 40 jenis yang termasuk dalam UU tersebut. Padahal yang beredar 53 jenis. "Perlu diatur sesegera mengikuti perkembangan termasuk sanksi guna menjerat pelakunya. Karena regulasinya belum sempurna, antisipasi dengan pemetaan keraanan tersebut," harapnya.

Tentang sosialisasi, lanjutnya, sangat diperlukan karena kemungkinan zat-zat yang tergolong psikoaktif tersebut belum diketahui publik dan dengan mengetahui maka masyarakat dapat menghindarinya. "Jangan sampai masyarakat tidak paham lalu mencoba-coba karena mengira itu bukan narkoba. Sama halnya dengan bahan adiktif seperti lem dan obat batuk yang telah diracik sedemikian rupa, yang bila dikonsumsi pasti merusak!" (T/Rel/R10/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU