Home  / 
Ketika Sikapku Berubah
* Karya Juliansen Peace Sinaga - SMAN 2 Rantau Selatan
Minggu, 4 Maret 2018 | 22:09:12
Bukan main geramnya aku melihat Fahri. Ngakunya jago main futsal tapi tak pernah menggolkan ke gawang lawan. Ngakunya pengalaman di lapangan tapi memaksimalkan indirect free kick aja tak mampu. Walhasil, setiap setim dengannya, yang datang hanya kegeraman.

Sudah begitu, selalu kali berhitung-hitung bila hendak taruhan. Ngakunya banyak uang tapi tek-tekan untuk taruh saja, ogah. Lalu, apa sih yang bisa diandalkan darinya.

Kegeramanku padanya pun tiap hari semakin bertambah. Kalau kemarin sudah sampai di leher, hari ini sampai ubun-ubun.

Bagaimana tidak kesal. Ia pesan  pada kawan-kawan agar aku cepat-cepat datang tapi justru Fahri yang terus terlambat. Jangan-jangan sudah nyasarrr...

Padahal tadi aku tergesa-gesa ke mari. Tak menghiraukan panas terik dan mengabaikan sisa tugas. Aku buru-buru ke rumah Ari. Harapannya bisa menumpang kendaraan ke lapangan. Tetapi begitulah, zonk.

Andai saja aku diizinkan meludah, wajahnyalah yang pertama kali jadi sasaran kebencianku. Tetapi, kawan-kawanku menyabarkan hatiku.

Rekan-rekan setim bilang, sudah jadi tabiat Fahri seperti itu. Jadi, tak perlu dimasukkan ke hati. Tetapi, suer... aku kadung tak suka. Aku kadung geram. Aku kadung benci.

"Emang kau tak bisa diharapkan. Sikit pun tak bisa diharapkan," hentakku pada Fahri di depan kawan-kawan.

Siapa sih yang tak tersulut marah. Sudah tahu terlambat, Fahri masih nyantai saja. Ketika kuhardik sedemikian, ia baru sadar bahwa tingkahnya menyusahkan orang lain. Menyengsarakan anggota timnya.

Sejak saat itu, aku tak mau lagi berkomunikasi dengannya. Kawan setim pun ikut-ikutan. Hanya saja, tidak seperti aku yang langsung menarik jarak. Dandi, Andi, Ari, Reza dan Bima masih bertegur-sapa denganya. Tetapi  ala kadarnya aja. Aku sama sekali tak mau.

Jika main futsal, aku usahakan tidak bersua dengannya. Selain tak suka, aku juga takut Fahri masih berulah dengan sikapnya yang menyebalkan itu. Tetapi, karena selalu bertemu, kekesalanku mencair.

Kadang aku yang lebih dulu menegur. Soalnya, lapangan futsal tak selebar lapangan bola kaki. Biarpun menghindar agar tak bertemu dengan Fahri, toh tetap saja berjumpa.

Tetapi memang Fahri sulit diingatkan. Sudah tahu aku masih tak suka, ia tetap saja dengan gayanya. Cuek padaku dan ngefutsal memosisikanku sebagai lawan. Padahal, suerrr... aku sudah mulai menerima Fahri seperti sedia kala.

Aku bahkan sudah bersedia satu tim kembali dengannya dalam pertandingan futsal antarpelajar.

Demi nama baik sekolah, aku pun sudah mau bareng latihan dengannya. Apalagi kawan-kawan selalu mengingatkanku untuk bersikap gentle. Jangan membawa urusan pribadi ke lapangan olahraga yang menjunjung tinggi sportivitas.

Tetapi ya Tuhan... kok Fahri masih seperti yang dulu. Masih mau menang sendiri, masih tak peduli pada kawan setim. Sudahlah...

Karena kadung berjanji demi nama sekolah, aku tetap berada dalam tim. Tetapi, nanti... bila turnamen sudah selesai, aku akan tarik diri. Tidak akan pernah lagi mau bermain dengannya.

Sekarang, jadwal pertandingan sudah ditetapkan. Meski hati kesal dalam tiap pertandingan, dengan kegigihan, tim kami mampu masuk ke babak semifinal. Untuk di empat besar, pelatih sekaligus manajer mewanti-wanti bahwa seluruh anggota tim harus datang 15 menit sebelum pertandingan dimulai. Dan harus datang dengan persiapan sempurna.

Soalnya, sebelum peluit dibunyikan, tiap tim dimungkinkan untuk pemanasan. Kesempatan itu dimaksimalkan oleh pelatih kami. Tetapi, Fahri mengulah lagi.

Hingga lima menit sebelum pertandingan dimulai, ia belum menampakkan batang hidungnya. Aku geram bukan main. Ketika keputusan menggantikan Fahri hampir diambil, ia muncul dengan tergopoh.

Dengan wajah seperti tak berdosa ia nyantai melangkah ke arah kami yang sudah was-was. Begitu salin seragam dimulai, Fahri teriak-teriak. Uniformnya tak ada di tas.

Ia menatapku dalam-dalam. Wajahnya memelas. Bahkan, di kelopak matanya terlihat ada air. Fahri bermohon padaku meminjam seragam. Ia menduga seragam futsalnya tertinggal di rumah karena tadi buru-buru.

Aku semakin benci, tapi aku ingat bahwa setiap kali hendak bertanding, aku membawa seragam cadangan.

Refleks kupeluk Fahri. Kubisikkan padanya di tasku ada seragamku yang lain. "Pakailah itu," bisikku.

Saking girangnya, aku dipanggul Fahri seperti pahlawan menang dalam pertandingan.

Kejadian itu membuat pertemanan kami semakin lengket. Aku sudah membunuh rasa benciku. (c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU