Home  / 
Cerpen
Sampul Lusuh Pembangkit Semangat
* Karya: Yohana Desi Artha Purba, SMAN 4 Pematangsiantar
Minggu, 4 Februari 2018 | 19:10:40
Aku kesal alang-kepalang. Pak Shandi memerintahkanku membersihkan kotoran di perpustakaan. Mulai dari sampah sampai debu-debu yang semua lengket di sepatu rekan sekelas. Hhh, zaman now masih memberesi kelas dengan tangan.

Aku ingin mengutipi sampah kertas saja, tanpa harus menyapu tapi takut ketahuan karena CCTV seperti mata-mata tajam terus memonitor kelas.

Aku berteriak-teriak sendiri. Memanggil nama ketua kelas. Soalnya, Pak Shandi menyuruhku untuk kerja sama dengannya. Tetapi karena kulihat ketua kelas malas-malas, aku menarik tangannya dan menghempaskan begitu saja.

Uniknya, ia diam saja. Dengan sabar ia mengambil sapu sambil menghela napas. Aku menatapnya dan pandangan kami beradu. Cukup lama, seperti adegan Romeo dan Juliet.

Aku tenggelam dalam suasana itu bahkan aku sempat lupa bernapas. Namun lamunan itu buyar ketika ia menoyor kepalaku.

"Jangan lama-lama. Nanti jatuh cinta baru tahu rasa."

Sialan. Baru saja ia meledekku dan membuatku beku di tempat. "Mimpi, ya. Siapa juga gampang jatuh cinta," elakku. "Samamu? Hueekkk," sambarku sambil pura-pura muntah dan memaksanya membersihkan perpustakaan, sesuai perintah awal.

"Dulu kau ngaku punya robot. Gunakanlah," elak Frank.

Ya, ketua kelas itu bernama Frank. Karena kadung bilang tak suka, aku mengancamnya. "Kulaporkan sama Pak Shandi. Siap-siap nilaimu rendah,"
***

Di rumah aku sendiri dan ditugasi memberesi. Sama seperti kemarin, kali ini aku juga benci. Kok mama tak menggunakan robot?

Sama ketika aku merasa benci dilibatkan dalam acara adat. Di zaman modern masih perlukah upacara demi upacara?

Aku melesat ke rumah nenek. Hanya sekadar mencari alibi mengelak mengerjakan tugas dari mama. Tiba-tiba nenek pun minta aku untuk hidup dengan prinsip. Ia mengungkit semangat para pemuda yang melahirkan sumpah seperti kala 28 Oktober 1928.

Entah kenapa, kali ini nasihat nenek memotivasiku. Nenek emang beda dengan mama, yang suka memerintah semata.

***

Aku menemui Frank, menyampaikan ide-ide seperti disampaikan nenek dan meneruskannya pada Pak Shandi. Ide tersebut diapresiasi. Tetapi ada siswa yang tak setuju dan menuduhku cari muka dengan ide-ide usang hanya demi mendapat nilai tinggi.

Aku bersikukuh. Generasi muda harus mengingat jasa para pahlawan dan menjadikannya motivasi ke depan.

"Mila, jangan mengungkit-ungkit masa lalu. Jalan itu ke depan, bukan ke belakang," protes kawanku.

Tetapi aku bersikukuh. Bagiku, tak ada yang mustahil bila dikerjakan dengan ikhlas. Pesan nenek, sesuatu yang berat, bila dikerjakan dengan baik dan semangat mendapatkan yang terbaik, akan ringan.

Aku minta dukungan pada Frank. Kupikir, pria tampan itu pasti mendukung dan bersedia mengerjakan seperti apa yang dirangkai Pak Shandi. Namun Frank masih tetap songon.

"Bagaimana mendukungmu? Kau itu sedang mimpi di siang hari! Siapa yang setuju dengan ide konyolmu itu?" ujarnya.

Aku jadi sakit hati. Emang, tak mungkin melakukan kegiatan besar sendiri. Sebaliknya, jika aktivitas dilakukan bersama, pasti berhasil maksimal.

Soalnya, ideku cuma sederhana yakni menyediakan tempat sampah di perpustakaan dan di lokasi yang biasa menjadi tempat ngumpul rekan-rekan sesekolah.

Aku terus mendekati Frank. Membujuknya. Merayunya dan terus bermohon. Syukurnya, perlahan-lahan ia bersedia. Frank pula yang mengajak kawan lain untuk merealisir ideku.

Kami membawa kotak donasi. Mendatangi kawan-kawan dari satu kelas ke kelas lain, dari kantin ke aula. Dukungan sih banyak tapi masih ada saja yang sirik. Menertawakan bahkan mengejek.

Ketika uang terkumpul, aku berinisiatif menempa tempat sampah yang lebih menarik dari biasanya. Ide tersebut dimaksudkan agar rekan-rekan pelajar tertarik membuang sampah ke tong. Namun, ketika hendak membayar ke tukang, uang yang kubawa hilang. Tak tahu di mana jatuhnya. Mungkin pun dicopet orang.

Aku limbung. Kuceritakan pada Pak Shandi tapi sepertinya ceritaku tak dimengertinya. Apalagi ia mewajibkanku untuk mewujudkan ide tersebut karena sudah dibicarakan pada pimpinan.

Mamaku pun tak yakin dengan itu. Hampir semua rekanku pun demikian. Hanya Frank yang paham. Bersamanya aku menemui nenek dan menceritakan kejadian piluku.

Nenek memahami kesulitanku. Ia membantuku dengan membayar seluruh kebutuhanku.

Nenekku, yang semula seperti sampul lusuh karena usianya sudah senja, menjadi pembangkit semangatku. (h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sekdaprovsu Buka Sosialisasi E-Formasi Pemprovsu, Sistem Transparan Lindungi Pegawai
Timses Jokowi Balas PAN: Narasi Ekonomi Prabowo-Sandi Cuma Jargon
Jaksa Kembalikan Berkas Nur Mahmudi ke Polisi
Kebakaran di Kementerian Pertahanan, 11 Mobil Pemadam Dikerahkan
3 Bulan Ditahan KPK, Idrus Marham Pamer Bikin Buku
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU