Home  / 
P u i s i
Minggu, 4 Februari 2018 | 19:08:39
Pulpen
Tanganku menuntunmu
Untuk menari-nari indah
Di atas kertas putih
Meninggalkan jejak kenangan
Yang berisi kisahku

Ferawaty,
SMP Budi Murni-3 Medan

Tani
Berjuang di tengah ketidakadilan
Menjerit pilu tapi tak didengar
Berontak tapi tak punya kuasa
Hanya mengusap peluh yang bercucuran
Buruh Tani
Berdoa dalam kesengsaraan
Bertanya kapan kiranya hidup sejahtera
Bingung mencari pertolongan
Buruh Tani
Berjuang demi sesuap nasi
Bertahan hidup dalam kepahitan

Melly Gitzu Bre Corona,
Alumni SMA Van Duynhoven Saribudolok

Waktu
Detik demi detik
Menit demi menit
Engkau yang paling berharga
Berharga untuk semua orang
Waktu kau tak bisa kuulur kembali
Karena engkau datang dengan begitu cepat
Sehingga ku tak tau kapan penyesalan itu datang
Waktu Terkadang aku tak sadar
Bahwa aku telah melakukan sesuatu hal
Sesuatu hal tidak biasa kulakukan
Karena engkau datang dengan begitu cepat

Chandra Sibarani,
SMP Budi Murni-3 Medan

Mantan
Kuingin segalanya baik-baik saja
Menjalaninya tanpamu
Kuingin melihat mentari keajaiban
Memiliki hari tanpa adanya kamu disampingku
Mungkin dengan adanya kamu
Aku menjadi semakin buruk dengan semua ini
Melupakan memang hal yang sulit
Tapi dengan melupakan kita dapat saling mengerti

Zefanya,
SMP Budi Murni-1 Medan

Kesepianku
Kadang ku terdiam membisu
Serangan kekelaman menghampiriku
Kini setiap hari-hari kediamku
Terlelap di dalam kesedihanku
Satu hal pasti di hidupku
Ikhlaskan semua kekelamanku
Hanya berkata dalam benakku
Tuk lumpuhkan kesepianku
Hari yang cerah menghampiriku
Namun hati gelap diam di mimpiku
Jika memang tak kunjung henti diriku
Terpatri hanya di kesepianku

Faisal Silaban

Hujan
Hujan air mu membasahi tanah gersang
Hujan suara rintikan air mu
Selalu kudengar
Air terus menetes tak terhitung
Di atas genteng
Air mu selalu menetes
Di daun yang hijau
Pelangi berwarna-warni
Selalu datang
Di langit biru
Sehabis bulan berhenti
Hujan airmu sangat berarti
Untuk makhluk hidup

Dipa Lorena Sembiring,
SMA Nasrani 3 Medan

Dulu
Dulu kau buatku slalu tersenyum
Melewati waktu siang dan malam
Kebahagiaan pun tak lagi muram
Tapi kini kau hancurkan semua mimpi
Cintamu tlah kau bagi
Tak ada lagi sang pujaan hati

Meisya Simanjuntak,
SMP Budi Murni 3 Medan

Tangis Dinding
Pipa rumah terputus
Tangis dinding tak menghibur
Buah busuk tetap bergelantung
Hentakan kaki tak terdengar
Kunci tak bisa membuka gembok
Rambut tak akan tumbuh
Pohon enggan berbuah
Ikan hidup di darat
Retakan tanah tertutup
Goncangan dahsyat mendalam
Mayat-mayat kian hidup

Beribu hari terulang kembali
Debora Sinambela



Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
AJI: Rapor Indonesia Masih Merah untuk Kebebasan Pers
BEM Nusantara Dukung Bawaslu Sumut Larang Paslon Kampanye Terselubung di Rumah Ibadah
Lawan Hoax! Laporkan Jika ASN Langgar 6 Hal ini di Medsos
Wapres AS Posting Pertemuan dengan Pengurus NU, Bahas Lawan ‘Jihad’
Pergeseran Pola Kelompok Radikal Sebabkan Wanita Aktif dalam Aksi Terorisme
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU