Home  / 
Cerpen
Alur Cerita di Akhir Tahun
* Karya: Ripaldi, SMAN 2 Rantau Selatan-Rantauprapat
Minggu, 31 Desember 2017 | 15:02:07
Saya berkali-kali memeringatkan Sukiran. Duduk di samping jendela dengan wajah yang kelihatan dari luar adalah mengundang bahaya fatal. Jendela double glazing tidak berarti tidak tembus peluru. Jendela berkaca ganda ini hanya  untuk mengusir suara bising dan udara dingin.

Sukiran paham akan peringatan saya. Di negeri ini, orang bisa membunuh siapa saja tanpa alasan. Para pembunuh itu bukan mantan GI yang bertaruh nyawa dalam perang Vietnam. Tapi orang-orang sakit yang ingin menyembuhkan penyakitnya dengan membunuh. Korban yang tumbang tidak berkurang dari tahun ke tahun. Akan tergenapi di akhir tahun.

Sasarannya bisa siapa saja. Anak-anak sekolah yang sedang belajar di dalam kelas, para guru yang sedang mengajar, pengunjung restoran, orang yang menunggu kedatangan kereta api di setasiun, pengunjung plaza, supermarket atau mall bahkan orang yang lalu lalang dari jalan raya. Siapa saja. Peringatan saya lontarkan pada suatu massa lampau yang jauh. Di sana bukan di sini.

Peringatan itu mengendap dalam diri Sukiran. Dan ia takluk. Hingga saat ini pun ia takut duduk di samping jendela. Berbelanja di supermarket atau pejalan kaki di sekitar lapangan sepak bola di dekat rumahnya. Kini suasana di sana dan di sini tidak berbeda. Setiap hari ada saja orang pindah ke dunia sana di luar keinginannya. Sukiran tidak ingin menyusul atau menjadi salah satu di antara mereka. Ia waspada bahkan sesekali meningkatkan kewaspadaannya.

Hari ini ledakan terjadi di sebuah pasar tradisional. Lima belas orang tewas, hampir semua identitas mereka sukar dikenal karena luka bakar. Petugas keamanan menarik kesimpulan sementara, ledakan yang memorakporandakan pasar tradisional itu disebabkan oleh perbuatan teroris. Kesimpulan sementara ini bisa menjadi kesimpulan tetap karena petugas keamanan tidak bisa mengungkapkan siapa pelakunya. Bom bunuh diri. Kalimat ini sering menjadi jawaban jika para jurnalis bertanya pada tugas keamanan.

Sukiran percaya saja, karena ia terkagum-kagum dengan upaya yang pernah dilakukan petugas keamanan dalam menyelamatkan sejumlah sandera di dalam sebuah pesawat terbang. Bagi Sukiran tidak ada bedanya petugas keamanan yang menjaga keamanan didalam negeri dan mereka yang bertugas menjaga keamanan dari serangan luar. Yang penting tugas adalah membebaskan dan menyelamatkan orang dari potensi bencana, seperti pembajakan pesawat terbang itu.

Kekaguman  yang tidak pernah sirna itu semata-mata karena petugas keamanan dapat melakukan tugasnya dengan sangat baik. Hanya dalam waktu tiga menit, perhitungan yang cermat membuat mereka dapat membebaskan sandera tiga puluh detik lebih cepat dari yang direncanakan.

Luar biasa. Itulah yang tertanam dalam batok kepala  Sukiran. Sandera dapat dibebaskan dan dipihak tugas keamanan hanya satu yang tewas.

Seseorang memberondongkan  senjatanya ke sebuah toko mainan anak. Dua orang anak tewas dan tiga orang ibu luka parah. Senjata kembali merenggut nyawa orang. Setelah itu muncul peristiwa di mana-mana. Senjata telah menjadi mesin pencabut nyawa yang menakutkan. Karena itu setiap kali terjadi pembunuhan dengan tembakan Sukiran senantiasa terpanggil kembali untuk mendengar saranku. Jangan pamerkan tubuh melalui jendela kaca. Bahaya mengintai  setiap saat.
Tapi peringatan itu pula yang mengantarkan Sukiran kembali ke peristiwa heroik yang dilakukan beberapa dekade lalu. Ketika berjalan kaki di jalan raya di sebuah kota bernama New York, ia mendengar jeritan seorang perempuan tanpa ada yang memerintah ia berlari kearah suara itu. Seorang lelaki berlari meninggalkan perempuan yang menjerit tersebut. Ia baru saja merampok perempuan yang tak berdaya itu.

Pada saat semua orang di sekitar terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa, Sukiran terus mengejar perampok yang kecepatan langkahnya kalah dengan kecepatan langkah Sukiran. Begitu mendekat Sukiran segera melemparkan sebuah pukulan ketubuh lelaki itu. Pukulan telak karate yang membuat perampok tak berkutik. Sukiran yang merasa tugasnya belum selesai segera membawa penjahat itu ke sebuah kantor polisi terdekat.

Perampok, pembegal atau mugger kata orang di sana segera ditahan polisi. Sebelum polisi mengetahui siapa Sukiran ia langsung meninggalkan kantor polisi.
Tidak ada catatan sebarispun catatan tentang dirinya. Polisi ternyata tak diam. Mereka terus melacak siapa Sukiran. Lacakan itu berhasil dua dasawarsa kemudian, setelah polisi memperoleh data-data tentang Sukiran. Namanya di cari dari semua mahasiswa asing yang pernah kuliah di kota itu. Polisi juga mencari semua data-data orang asing, khususnya kulit berwarna yang bekerja di kota itu. Upaya tak mengenal lelah yang akhirnya membuahkan hasil yang diinginkan.
Sukiran mendapatkan penghargaan dari walikota kota metropolitan itu dan namanya di sebut dalam berita setelah upacara pemberian penghargaan tersebut.
Mugger itu bersenjata dan Sukiran berhasil melumpuhkannya. Mengapa ketika itu ia tidak  takut sedikitpun kepada senjata yang setiap saat bisa saja merenggut nyawanya? Itu di luar perhitungan Sukiran, Sukiran tersenyum. Dan merasa peringatanku yang di susul peringatan yang sama dari Suprapto dan Ali tidak harus mempertahankan dan menjadi miliknya seumur hidup.

Ketika membaca berita bahwa seorang petugas keamanan di tembak mati oleh rombongan perampok yang ingin menjarah sebuah mesin ATM, Sukiran tertegun, lalu ketika seorang hakim juga tewas karena berondongan senjata otomatis, Sukiran merasa tidak dapat membebaskan diri dari kegelisahan yang memuncak. Aku harus berbuat sesuatu. Begitu ia berjanji kepada dirinya. Ketika sahabatnya sendiri, Utoyo, seorang pelukis surealis, tertembak, ia  tidak tahan lagi.

Dari temannya yang hanya luka itu iya mendapat informasi bahwa penembak pelukis surealis itu berpakaian sipil, necis dan berdasi. Setelah menembak dengan tenang dan tepat sasaran ia naik ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan. Ia memang hanya menembak kaki teman Sukiran sebagai peringatan. Tidak tau peringatan apa.

Seorang pelukis yang separuh hidupnya di abdikannya untuk seni rupa menjadi korban keganasan orang berdasi. Ini bukan penembak gelap atau penembak misterius, tetapi penembak terang benderang pada siang hari. Utoyo yang lembut hati itu, sangat terpukul karna ada orang yang berbuat jahat terhadap dirinya. Karena Sukiran menjadi tumpuan penganduannya. Dengan sabar menampung pengaduan itu.

Sukiran yang selama ini menggunakan tugasnya sebagai senjata kini merasa perlu memiliki senjata api yang terlalu sering di gunakan untuk membunuh orang itu. Bukan perlu tapi harus. Kejahatan penembakan tidak dapat di toleransi lagi. Bagi Sukiran, tembakan untuk membunuh atau melukai tidak ada bedanya dengan ledakan bom bunuh diri yang beberapa kali terjadi. Ini tidak dapat di biarkan apalagi kalau dilakukan oleh orang-orang yang merasa dirinya tidak dapat di tebus hukum.

Senjata yang menghancurkan ketenangan dan kedamaian. Senjata yang selalu memuntahkan timah panas kepada sasaran yang dijadikan korban. Bisa saja suatu ketika nanti aku akan menjadi korban. Pikir Sukiran, peringatan ku, Gerson Suprapto dan Ali Lubis agar jangan memperlihatkan diri di balik jendela kaca, kini lebih mengerikan dari pada itu. Kini bukan hanya di balik jendela, tetapi di segala tempat baik terbuka ataupun tertutup. Mengerikan.

Sukiran merasa perlu waspada agar tidak menjadi korban penembakan. Tidak ada pilihan lain kecuali menjaga diri dengan memiliki senjata api. Ternyata tidak sulit untuk mendapatkan senjata api apalagi senjata api genggam rakitan yang dimiliki Sukiran, Keinginan waspada dan menjaga diri ini belakangan berkembang menjadi hasrat untuk menjaga keamanan dan keselamatan orang lain.(c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sektor Swasta Diajak Dukung Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan Infrastruktur di Danau Toba Terbaik dan Paling Cepat
Peredaran Hoax Makin Memprihatinkan
Bagikan Buku, Kapoldasu: Generasi Penerus Bangsa Harus Cerdas
4 Tersangka Kasus Khashoggi Diduga Orang Dekat Putra Mahkota Saudi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU