Home  / 
Curhat
Tak Sekadar Kemeriahan Natal
* Joel Fernando Pasaribu, STT Abadi Sabda Medan
Minggu, 24 Desember 2017 | 14:13:32
Kelap kelip lampu Natal dan keramaian pernak-pernik Natal seakan membuat Natal itu semakin meriah. Ditambah lagi dengan alunan musik yang bertema kan tentang Natal pun semakin membuat Natal itu menjadi hidup. Tak sadar banyak orang mengikuti irama musik itu ikut bernyanyi bahkan sampai ikut menari, hal ini dimaknai bahwa Natal itu membawa sukacita. Dan ada juga beberapa keluarga menikmati Natal itu dengan makan bersama. Dan anak-anak sangat senang dengan aneka makanan dan baju baru. Lalu, bagaimana dengan mereka yang tak memiliki rumah sebagai tempat tinggal? Bagaimana jika tak memiliki uang untuk dapat menikmati makanan yang dapat dimakan? Dan bagaimana mereka yang memiliki kekurangan fisik (buta, bisu, tuli, cacat dan sebagainya) dapat merasakan Natal?

Tapi, apakah beberapa hal tersebut memang mendatangkan sukacita dan bahagia sebagai wujud kelahiran Raja Damai? Bukankah Yesus datang dalam kegelapan malam yang dingin, tanpa lampu, tanpa suara berpesta ria, dan tanpa kasur. Hanya ada kain lampin dan sebuah palungan untuk tempat menidurkan Dia dalam keheningan malam yang dingin, dalam sebuah kandang di kota Daud. Nats ini membawa kita perlu menyadari kembali dan merefleksikan kepada kita, apa sebenarnya makna dari Natal? Sebagai juruselamat bagi manusia yang lahir dengan suasana yang amat tidak normal untuk kelahiran seorang bayi, yaitu tanpa fasilitas yang memadai. Yesus datang untuk semua umat manusia, tidak melihat miskin atau kaya, sakit atau sehat, dan tinggi rendahkanya pekerjaan manusia. Bahkan dalam keseluruhan konteks pada nats ini menyatakan bahwa malaikat-malaikat memberitakan kabar sukacita ini kepada gembala-gembala di padang yang sedang membawa ternaknya untuk makan. Hal ini telah menunjukkan kepada manusia bahwa kelahiran itu bukanlah harus dirayakan dengan kemeriahan yang dilakukan orang-orang serta sebagaimana sering kita lihat dan kita ikut dalam hal itu.

Sekarang ini, banyak orang terjebak dengan ritual dan acara-acara Natal yang penuh dengan kemeriahan yang terkesan mewah. Menyuguhkan acara yang menarik sampai membuat orang lupa pada kenyataan yang terjadi pada sekitar dua ribu tahun yang lalu.

Jika kita hari ini berpikir bahwa Natal adalah sebuah perayaan kelahiranNya saja, maka saat ini ada sebuah berita gembira untuk kita. Natal adalah tentang sebuah berita bahwa Tuhan yang telah menjadi manusia itu datang untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, Ia sangat dekat dengan kita. Yesus Sang Mesias itu ada di tengah-tengah kita. Jadi, Natal bukanlah berbicara mengenai kemeriahan. Tetapi Natal harus mampu membicarakan kedamaian dan membawa kabar sukacita. Dunia sedang bersiap menyambut Dia, maka marilah kita sambut Dia hati yang penuh kasih dan rasa hormat. Tanpa Juruselamat, tidak ada sukacita yang sejati, itulah arti dan makna Natal yang sesungguhnya. (f) 

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Guru Besar Pidana USU Heran, Banyak Ditangkapi Tapi Masih Banyak Kasus Korupsi Muncul
Pemko Medan Gelar Dzikir dan Doa Bersama Peringati HUT ke 428
Mendikbud Berencana Terapkan Sistem Zonasi di Sekolah Swasta
Banyaknya Caleg Loncat Partai Bukan Karena Ideologi
Pesan Jokowi: Beri Bangsa yang Terbaik
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU