Home  / 
Bu, Hujan Lebat...
Minggu, 24 Desember 2017 | 14:12:46
Amin mengetahui bahwa Salim dalam ketakutan yang tiada tara. Barangkali disebabkan hujan yang lebat serta melihat  kilat, petir sambar-menyambar yang sangat dahsyat serta tiada berhentinya. Dia menghibur Salim supaya sahabatnya itu melupakan hujan yang deras itu.

"Salim", katanya dengan muka yang riang. "Saya mempunyai cerita yang bagus, yang baru diceritakan guru kami di sekolah. Mau mendengar cerita saya?"

Perkataannya yang dua tiga patah itu menggembirakan Salim. Anak lelaki itu perlahan lupa akan kondisi hari yang buruk itu. Dengan tersenyum serta matanya yang bercahaya, ia menyimak "Cobalah abang ceritakan. Betapa sedapnya mendengarnya apalagi pada waktu yang serupa ini".

Mulailah ceriah Salim. Ia mendekat duduk kepada Amin, agar suara sahabatnya bercerita itu jangan dibawa oleh angin yang kencang itu.

"Bukankah engkau bersungguh-sungguh tadi"? tanya Amin "Waktu itu kau berkata", 'Amatlah sakitnya jadi lelaki".

"Pabia?"
"Waktu itu kita menanami padi di ladang", bukanya. "Ibu berbahagia dengan kik".

"Ya, apa sebabnya abang menanyai itu?"

"O, Bukan. Saya hanya hendak memberi nasihat saja, yakni haruslah kita sabar menerima pemberian Allah", ujar Amin. Dengarlah cerita seseorang yang tiada bersenang kepada untungnya. Ia  mengumpat-umpat nasib dirinya. Karena berlain dengan orang-orang yang diatasnya dan dikatakannya Allah itu tidaklah adil".

"Bagaimanakah cerita itu?" tanya Salim dengan inginnya.

Dalam sebuah kampung dekat hutan yang besar tinggal seorang lelaki yang sudah tua. Amin memulai ceritanya. Pekerjaan lelaki itu mencari kayu api. Kayu itu jualnya ke pasar, uang yang sedikit yang diperolehnya dari harga kayu itu dibelikan beras dan garam serta apa berguna  untuk hidupnya. Dengan bersenang hati serta memuji nama Tuhan, ia pulang ke rumahnya. Demikianlah kehidupan lelaki itu. Siang mengambil kayu dan malam tidur dalam rumahnya dengan nyenyaknya. Demikianlah cerita itu, Salim pun sudah tertidur pulas. Amin pun ikut tertidur.

Dalam kehidupan, kita tidak boleh mengeluh, suatu kehidupan seseorang memiliki masa-masa yang indah dan luka. Berputus asa dan mengeluh tidak akan ada nada kata habisnya untuk menyesal dalam kehidupan, hidup bukan untuk diabaikan, tetapi dijuangkan untuk meraih keistimewaan hidup dan harus berjuang untuk mengubah kehidupan yang menjadi lebih baik, tidak memuaskan hawa nafsu dan menghilangkan beban pikiran dengan narkoba maupun gantung diri.

Di dalam mimpi Salim, tiada kata berat maupun salah jadi seseorang  lelaki maupun perempuan asalkan menjalani kehidupan dengan rasa syukur dan selalu berdoa kepada sang pencipta alam semesta. Berpegang teguh dalam jiwa masing-masing tidak perlu mengikuti gaya orang lain tetapi mengikuti cara berpikir orang untuk sukses, sukses dengan rasa jujur dan tidak menjatuhkan orang sebagai lawan kita.

Matahari telah terbit dengan terang, Salim pun terbangun dari mimpi pengubah hidupnya. Mata yang cerah menyambut pagi dengan senyum. Kini Salim menjalani kehidupan yang semestinya. Dia tidak malu lagi dengan apa yang dia kerjakan, asalkan halal dan berkah, tidak mencuri hasil orang lain. (***)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Peringatan Hari Air Sedunia dan Hari Bumi di Sibolangit Ditandai Tanam Bibit Pohon
Jokowi Bertemu PA 212 Jalin Persatuan
Papua Geram MA Hapus Pajak Air Freeport Rp 3,9 Triliun
Sihar Sitorus: Adat Istiadat Harus Dilestarikan!
Mendikbud: Peserta UNBK SMP Melonjak, Server Sempat Overload
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU