Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Puisi
Minggu, 5 November 2017 | 22:16:49
Pahlawan

Darahmu adalah pengorbananmu
Jiwamu adalah bara semangatmu
Ragamu menjadi tamengmu
Bambu runcing senjatamu
Hai para pahlawan
Kau slalu terkenang di hati
Kami bangga padamu.

Meisya Simanjuntak, SMP Budi Murni 3 Medan

Pahlawan


Waktu demi waktu kaulalui
Detik demi detik kau alami
Tak kau hiraukan kebahagiaanmu
Namun kau dapati penderitanmu
Kau selalu berjuang
Namun sinar tak kunjung datang
Kau selalu bertanya
Namun jawaban enggan berbicara
Keringatmu kaucucurkan
Darahmu kautumpahkan
Dirimu kaurelakan
Nyawamu kauikhlaskan.

Esther Gracia, SMP Budi Murni 3 Medan

Pahlawan


Rasa nasionalisme yang kaumiliki sangat tinggi berjuang demi Indonesia
Tanah Airku Indonesia
berjuang agar bangsa ini merdeka.
Kau berjuang tanpa kenal putus asa hingga bangsa ini mendapatkan kemerdekaan bebas dari penjajahan bangsa lain.
Terimakasih Pahlawanku
Berkat jasamu
Kami dapat hidup yang aman dan tentram
Tanpa rasa takut akan dijajah.

Eva Shanti Ht. Julu, SMA Nasrani 3 Medan

Seribu Bunga


Bukankah tempat itu teramat dingin
Apa gerangan buatmu diam bertahan
Atau tak berdaya ada yang menahan
Tempat itu bukannya kau membencinya
Meski ukiran bunga menghiasi
Tetap saja aroma kematian menusuk hidung
Katakan apa hasrat terbesarmu
Akan terkabul jika hati mengerti
Katakan bila benci seribu bunga itu
Akan disingkirkan dari pusaramu
Ada hasrat kah tuk bangkit lagi??
Percuma itu mustahil, bisikmu di balik peti
Hanya menunggu hingga tetesan airmata kering
Lalu kau terlupakan bersama terkuburnya raga
Dan seribu bunga menjadi tak berwarna
Mati, lenyap dari hadapan bumi
Terbang hingga sang waktu menelan
Diam membisu tak kuasa melawan
Kematian akan menerkam
Seribu bunga hanya membenci penghiburan

Meny Andriani Br Ginting, Alumni SMA Van Duynhoven, Saribudolok

BERDERING

Hari demi hari ku menantimu
berharap Sesuatu yang terindah darimu
memikirkanmu untuk kebahagiaanku
berharap satu bunyian nada yang terdapat darimu
setiap saat aku melihat telepon
apakah kau hadir disaat itu?
ternyata nada berdering itu tidak pernah terdengar
hanya sebuah harapan yang dapat aku berikan
terkadang aku mencari kesenangan
di saat aku dalam kesedihan
menantimu, itu yang selalu aku lakukan
berharap engkau baik-baik saja

Rinawaty Nurlia Sihite, SMK Taruna Tekno Nusantara Medan

Suara Sunyi


Awan hitam melukis langit putih
Burung gagak terbang bebas
Debu-debu jalanan terseral lampu kita
Lalu lalang kendaraan seperti gulungan ombak
Suara-suara yang tak sampai kepada kita
Membunyikan doa sunyi yang maha besar
Setiap hembusan nafas serpihan perih
Menebarkan kemurnian cinta dengan urih
Pohon-pohon tenang merinduk hening
Sinar rembulan menjelangi malam
Keruh air tak bisa bersembunyi
Gelapnya goa mengurung kesunyian
Rumput liar menutupi batu-batu
Harapan dan luka selalu menyatu
Dan sejarah lalu bercengkrama dewa waktu
Agar suara memberontak kesunyian.

Sahat Francisko Sirait, SMAN 1 Siantar Narumonda.

Di Belakang


Bersih dibilang kotor
Kotor dibilang bersih
Dikit-dikit dibilang kotor
Dikit-dikit dibilang bersih
Ku tak bilang kotor
Ku tak bilang bersih
Di depan bersih di belakang kotor
Di depan kotor di belakang bersih
Di mana pun berada selalu manis

Lilis Janita Sirait, SMAN 1 Siantar Narumonda

Sepercik Air


Takut aku takut
Takut luka, takut kecewa
Tapaki gurun pasir
Hindari angin debu
Bermain pasir dalam hening
Buat tertawa bahagia
Tak melihat masa lalu
Tak harap apapun
Berani aku berani
Tenang dalam sendiri
Memulai sepercik air.

March Cahaya Siagian, SMAN 1 Siantar Narumonda

Matahariku


Engkau adalah cahaya hidup
tak pernah lelah menyinari bumi
Dengarlah matahariku
Suara yang ada dalam hatiku
Gelap terasa tanpamu.

Echa M Manurung, SMAN 1 Siantar Narumonda

SALJU MALAM  INI

Berjalan
diiringi salju yang berdatangan
menyusuri jalan yang sepi
tanpa tujuan yang jelas
takut akan kesepian         hatiku tidak tahan        ketakutan melanda        salju menemani langkahku
malam ini
salju menemaniku
tanpa seorang pun
sendiri hatiku tenang

Raulina br pasaribu, SMK Taruna Tekno Nusantara Medan

Ambigu


Bayang sendu menusuk kalbu
mengusik lara menabur pilu
tersimpan sejuta tanya di benakku
Apakah ini hanya khayalku?
Ku menitih bimbang di tengah gemulai
menjerat angan dan emosi
Bagai raungan gemuruh
Ku menangis dengan ragu
Dilema ini kusimpan dalam jiwa
menjadi saksi bisu jalinan ini
ku harap cinta kita benar adanya
bukan hanya sekedar ambigu.

Tiara Gracia S, SMP Budi Murni 3 Medan



Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
JK Pimpin Mediasi Perdamaian Afghanistan di Istana Wapres
Kesuksesan MTQ Provsu Tolok Ukur Keberhasilan MTQN 2018
Tahap Awal, 1.075 Ha Areal Sawit Rakyat di Sumut Peroleh Hibah Peremajaan
Pengusaha Senior Sumut Tak Berminat Maju Pimpin Kadin SU?
Jelang Hari-H Resepsi Putri Jokowi, Order Spanduk-Baliho di Medan Melonjak
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU