Home  / 
C u r h a t
Cerita Ketegaran Fenancia
* Veronica V Lingga, SMP Katolik Budi Murni 3 Medan
Minggu, 6 Agustus 2017 | 19:23:24
Fenancia. Bagiku nama itu indah sekali. Aku sih  pernah menyamakannya dengan Venesia. Sebenarnya bukan menyetarakan tapi salah sebut tapi Fenancia senyum saja. Ia mengaku bahagia karena aku menyanjungnya, menyamakannya seperti kota wisata terkenal di Italia.

Aku mengenal Venesia dari pelajaran agama. Vatican adalah ibu kota Roma Katolik. Venesia berada tak jauh dari sana. Pernah ada konser termahal yang menghadirkan Luciano Pavaroti almarhum di kota  tersebut.

Guru agama kami, seorang pastor, juga cerita tentang keindahan suara tenoris dunia tersebut. Fenancia juga sangat gemar dengan cerita tersebut. Keceriaan sahabatku itu sama seperti dua adiknya.

Fenancia sama seperti aku. Satu sekolah, sekelas tapi tekad dan kemauannya belajar jauh lebih tinggi ketimbang aku. Tengoklah, meski sepulang sekolah Fenancia harus membantu perekonomian keluarganya, ia lebih pintar dari aku.

Ia berjualan koran. Tetapi, bukan berdagang yang utama. Fenancia justru fokus untuk mencari barang bekas. Mulai koran, eks tempat minuman mineral, kaleng-kaleng.

Aku pernah minta ikut, tapi Fenancia marah. Katanya, aku tak pantas dekat dengannya karena pasti orangtuaku akan marah jika tahu apa yang kulakukan. Meski kukatakan tidak apa-apa, tapi  Fenancia menolak.

Alhasil, aku cuma dapat cerita tentang perjalanan keseharian Fenancia. Misalnya, kemarin ia dapat duit dari tempat sampah. Fenancia bingung hendak mengembalikan pada siapa uang itu. Kusarankan pergunakan saja karena berarti rezekinya tapi Fenancia tak mau.

Jalan tengahnya, uang itu ia beri ke kolekte di gereja. Meski sudah menyerahkannya pada Tuhan Allah tapi Fenancia mengaku merasa bersalah sebab belum menemukan siapa pemilik uang yang di bak sampah tersebut.

Kemarin, Fenancia cerita disenggol pengendara sepeda motor. Wadah tempat menampung barang-barang loaknya berserakan. Meski demikian, Fenancia mengaku tak marah pada si penabrak yang lari meninggalkannya. Katanya, apa yang diterimanya mungkin karena hukum tabur tuai. Ia bahkan mengajak aku untuk mendoakannya agar tidak beroleh karma lagi.

Meski tangan Fenancia ikut terluka karena insiden tabrak lari, tapi ia tetap sekolah dan terus membantu orangtuanya memungut barang sisa bermilai jual untuk membantu ekonomi keluarganya.(c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pemerintah Turki Akhiri Keadaan Darurat
Mengenal Deretan Presiden yang Rela Gajinya Dipangkas
Rusia Klaim Ciptakan Teknologi yang Bisa Bikin Tentara Menghilang
Demi Ritual Ilmu Hitam, Tiga Kakak Beradik Mutilasi Ibu Kandung
Trump Sebut Tidak Ada Batasan Waktu untuk Denuklirisasi Korea Utara
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU