Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Cerpen
Kelinci Kecil di Bulan
* Karya: Melda Tambunan, SMPN1 Silaen
Minggu, 6 Agustus 2017 | 19:22:25
Derap kaki ratusan murid yang saat itu menyerbu telinga dari 8 penjuru mata angin, hanya itu yang dapat diingat gadis kecil, kurus tapi elok ini, yang menyadarkannya dari...

Ruang putih, beberapa dokter beserta suster, selalu saja hal yang sama.  Hal yang membuat gadis ini berdecak dalam beberapa detik berikutnya. Apa kau penasaran akan gadis ini? Dialah Kaila Elsie, gadis yang menurut banyak  orang beruntung karena memiliki arti nama 'kuat dan mulia', 'tapi tidak bagiku', itulah jawaban yang akan terucap dari bibir setipis mawar itu, jikalau kau sekali-kali menanyakannya. Gadis berumur 15 tahun yang membawa serta penyakit mematikan dalam kelahirannya ke dunia ini. Gadis ini menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam ruangan berukuran 5 x 6 meter di sebuah rumah sakit milik ayahnya. Menurutmu, apakah itu sebuah keberuntungan?

"Sudah baikan? tanya seorang wanita paruh baya yang tak lain ibunya sendiri didampingi ayahnya.

"Memang aku kenapa sih?' jawab Kaila dingin.

"Sayang, jawabnya kok gitu? Kamu gak ingat tadi kamu pingsan di sekolah lho. Ayah khawatir gak boleh, ya?"

"Kai enggak ingat tuh. Lagian Yah, ini kan sudah biasa", kata Kaila yang mulai melembutkan nada bicaranya. Ruangan kembali sunyi. Tak ada satupun yang angkat bicara. Kedua orangtua Kaila tahu  beratnya penderitaan yang harus ditanggung putri tunggalnya. Kesunyian itu terus berlangsung hingga seorang dokter datang memanggil dua orang terkasihnya bicara diluar. Rasa sakit dari penyakitnya, rasa pedih di hati, terapi,  ratusan jenis obat yang mulai dianggapnya seperti permen, dan kesepian telah sah menjadi sahabatnya sejak kecil.
***

Puluhan kali sudah, Kaila mengalami masa-masa kritis. Berbagai pengobatan dan terapi dijalaninya serta seribu satu jenis obat menjadi koleksinya, namun sia-sia. Baginya semua hal  dalam hidupnya begitu memuakkan. Lelah rasanya. Terlebih sejak kejadian itu, ibu Kaila memutuskan ikut menginap di kamarnya, kamar yang sudah diubah dekorasinya sejak Kaila menempatinya, sehingga dapat disebut rumah ke-2 bagi orangtuanya, namun rumah utama bagi Kaila.

"Mama betah di sini? Ruanganku bau obat. Menyesakkan, ya?" ucap Kaila pada mamanya yang sedang asik memandang sesuatu di luar.

"Enggaklah, Kai. Memangnya kamu lihat mama merasa terganggu dengan bau obatnya?"

"Soalnya dari tadi mama memandang ke arah  luar jendela. Kai pikir mama merasa terganggu sama baunya", sahut Kaila sedikit ragu.

"Kai, mau tahu apa yang mama lakukan? Mama sejak dulu suka memandang bulan. Saat sedih, bahagia, gelisah, dan dalam keadaan apapun. Melakukannya membuat mama merasa jauh lebih baik. Kadang mama merasa ada rahasia yang tak terungkap di sana. Ada tempat di mana semua orang bisa menyimpan segala perasaannya, cinta-cintanya, cita-citanya, harapan dan lagu kalbunya".

"Menurut Kai, mungkin seperti cerita legenda favoritku. Ada kelinci kecil yang hidup di sana. Kelinci yang menyimpan kapsul waktu berisikan segala hal yang mama ucapkan", jawab Kaila iseng. Tapi keisengan itu malah dianggap serius oleh mama, kemudian memberi anggukan  lembut seraya tersenyum lembut pada Kaila putri kecilnya.

"Kalau gitu, seandainya aku pergi nanti, Kai pengen jadi kelinci kecil di bulan buat mama. Jadi kalau mama rindu Kai, temui Kai di bulan" dengan semangat dan penuh harap, Kaila melontarkan isi hatinya.

Sebenarnya sejak dulu Kaila sudah berharap ketika dia pergi nanti, gadis remaja satu ini, menginginkan kelak dia bisa menjadi kelinci kecil di bulan. Dengan satu alasan, dia akan tetap dekat dengan orang-orang yang dicintainya, hanya itu. Sayang, hal itu begitu berat untuk mamanya yang masih terpaku mendengar ucapan putrinya.

"Bicara apa kamu!" hardik mama, meski ia mengerti Kaila mengucapkannya dengan tulus, tapi tak seharusnya Kaila mengatakannya. Tidak seharusnya. Malam itu Kaila memberanikan diri mengatakan semua rasa, semua hal yang selama ini dipendamnya. Saling beradu argumen, berdebat memecah sunyinya malam.

"Lepas...aku, Mah..! Aku lelah, jangan egois. Semua ini cukup.." ucapnya menyudahi perdebatan itu bersamaan datangnya ayah  Kaila. Tak lama, wanita paru baya yang terkulai lemas di lantai bangkit berdiri, kemudian menjelaskan semua yang terjadi tanpa ada yang meminta.

Ayah tampak menganggukkan kepala pertanda ia mengerti akan apa yang terjadi. Tak kuasa Kaila menahan air mata yang membendung, saat dirinya sendiri menyaksikan ayah menangis karenanya. Tanpa buang waktu, ayah memanggil beberapa orang dokter termasuk seorang psikiater. Sejak malam itu, mereka mulai melakukan  riset terhadap Kaila, menanyainya pertanyaan-pertanyaan yang tentu dapat dijawabnya dengan jujur.

Seminggu berlalu, dan hasil dari riset menyatakan Kaila mendapat kebebasannya. Mengingat umurnya yang juga tidak lama lagi. Berat rasanya bagi kedua orangtua Kaila. Kenyataannya, inilah yang diinginkan putri mereka. Berusaha menjaga perasaan bahagia Kaila dalam hari-hari terakhirnya, hanya hal itulah yang dapat dilakukan saat ini.
***

Kaila's poem;
Malam ini aku bermimpi, mimpi yang sangat aneh. Mimpi yang berbeda dari biasanya, namun begitu familiar buatku. Berpacu dengan waktu lalu menghasilkan buih-buih cinta, kuyakin cinta itu milik orang-orang yang menyayangiku. Kuresapi kelembutan tiap-tiap bulir detik menari bersamaku, mengantarku ke dalam mimpi lain. Kau tahu? Dalam mimpiku, aku masih bisa merasakan hangat dekapan tangan mamaku, aku masih bisa mencium wangi tubuhnya. Jujur, aku tidak mengerti bagaimana aku melakukannya, namun itu sebuah anugerah terindah dari Yang Maha Esa. Sekarang aku mulai merasa lelah, lelah yang memenjara tubuhku, membuatku tak sanggup berdiri tuk menggapai mimpi selanjutnya. Akankah kisahku berakhir di sini? Kalaupun iya, aku siap. Menyambut sang malam dan menggenapi janji untuk..... (c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pemkab Karo Terpilih Mengembangkan 15.000 Sapi yang Disiapkan Kementan
Sungai Sei Lepan Langkat Mengalami Abrasi
Hari Nusantara Diperingati di Karo
Perayaan Natal KB SD Teladan Sidikalang Hikmat
Jalan Tembus Karo-Langkat Jadi Monumental Masyarakat
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU