Home  / 
Guru Harus Punya Karakteristik yang Tepat Mengajar Siswa Milenial
Rabu, 7 Februari 2018 | 19:10:53
Bogor (SIB) -Tugas mengajar dan mendidik pada abad ke-21 mempunyai tantangan tersendiri. Hal itu terkait dengan karakteristik siswa di zaman milenial, seperti sangat  aware teknologi, warga global, otentik, liberal, progresif, percaya diri, dan berorientasi tim.

"Karena itu, guru perlu memahami model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman," kata dosen Universitas Pakuan Bogor Dr Yuyun Elizabeth Patras MPd saat mengisi upgrading tenaga pendidik dan kepemimpinan yang diadakan oleh Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) di Bogor, Jawa Barat, balum lama ini.

Yuyun menambahkan, guru abad ke-21 harus mempunyai sejumlah karakteristik yang tepat untuk mengajar siswa milenial. "Karakteristik tersebut antara lain menjadikan siswa sebagai producer, belajar teknologi baru, berwawasan global, siap dengan era digital, berkolaborasi, pembelajaran berbasis proyek, dan terus berinovasi," ujarnya.

Ia mengemukakan,  model pembelajaran atau cara/teknik yang digunakan oleh seorang guru bergantung kepada arakteristik peserta didik, karakteristik kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik, dan daya dukung lingkungan belajar.

"Model pembelajaran abad ke-21 merupakan cara/teknik yang digunakan guru untuk memfasilitasi pengaman belajar terbaik anak sesuai dengan kondisi anak, lingkungan belajar anak, dan daya dukung yang dimiliki," tuturnya.

Model pembelajaran abad ke-21 ini, kata Yuyun, sering  disebut Project Based Learning (Pembelajaran Berbasis Proyek). Model Pembelajaran Berbasis Proyek bertujuan menemukan sendiri (inquiry), dan  menuntaskan suatu kegiatan/proyek. Selain itu, menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tertentu ke dalam berbagai konteks (a variety of contexts) dalam menuntaskan proyek, serta interpersonal skills  dan berkolaborasi dalam suatu tim.

Yuyun menyebutkan, ada beberapa karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek. Karakteristik tersebut antara lain, adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik;  peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan;  peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan; dan proses evaluasi dijalankan secara kontinyu.

"Selain itu, peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan; produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; dan situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan," papar Yuyun.

Ia menjelaskan, sistem penilaian proyek mencakup tiga hal, yakni  kemampuan, relevansi, dan keaslian. "Kemampuan pengelolaan adalah kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan," ujarnya.

Relevansi  adalah kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.  "Adapun keaslian adalah proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik," paparnya. (Rol/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Caleg Partai NasDem, Bongotan Siburian Janji Tampung Aspirasi Rakyat Kecil
Deklarasi Damai Pemilu 2019 Digelar di Pekanbaru
NasDem: Pemanggilan Bawaslu ke Kepala Daerah Pro-Jokowi Berlebihan
MPR Minta Masyarakat Rileks Hadapi Pemilu 2019
Ketua Fraksi Demokrat DPRD Medan Terima Studi Banding SMP Swasta Imelda Medan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU