Home  / 
Boy Thohir, dari Calo Tanah Sampai Jadi Orang Terkaya RI
Minggu, 3 Juni 2018 | 12:22:15
Boy Thohir
Meraih kesuksesan butuh proses yang panjang. Sering kali dalam proses itu juga dihadapkan berbagai tantangan. Proses itulah yang menempa seorang Garibaldi Thohir hingga menjadi pengusaha sukses.

Pria yang akrab disapa Boy Thohir itu memang terlahir sebagai anak dari salah satu founder dan generasi pertama karyawan Astra, Muhammad Teddy Thohir. Namun bukan berarti ada sendok emas yang menyuapi Boy.

Kakak dari Erick Thohir itu, memulai langkah sebagai calo tanah. Bisnisnya juga sempat mengalami kegagalan. Namun karena kegigihannya dia berhasil bangkit. Kini dia tengah menuai buah dari kerja kerasnya.

Boy bahkan didapuk sebagai orang paling kaya ke 23 di Indonesia versi majalah Forbes di 2017 dengan total kekayaan mencapai US$ 1,41 miliar atau setara Rp 19,03 triliun (kurs Rp 13.500).

Berawal Dari Calo Tanah
Boy dikenal sebagai pengusaha handal di bidang industri pertambangan batu bara. Meskipun kini dia memiliki banyak perusahaan di berbagai bidang industri. Namun ternyata langkah awal kakinya melangkah di dunia bisnis dilakoninya sebagai calo tanah.

Kisahnya di dunia bisnis bermula ketika Boy pulang dari Amerika Serikat (AS) setelah merampungkan pendidikannya hingga meraih gelar master. Sebagai lulusan universitas luar negeri, Boy ingin bekerja di perusahaan bonafit seperti Citibank, American Express dan IBM.

Namun ternyata keinginannya itu dilarang oleh ayahnya Muhammad Teddy Thohir. Ayahnya yang merupakan salah satu founder Astra Internasional itu ingin dia menjadi seorang pengusaha.

"Saya tanya dulu ke ayah saya bahwa saya mau kerja di Citibank. Ditanya berapa gajinya, saya bilang lumayan US$ 2.000/bulan sekitar Rp 4 juta saat itu. Dia bilang tidak. Saya bilang apa ayah mau saya kerja di Astra? Tapi dia jawab apa lagi di Astra, kamu mulai dari nol mungkin gaji kamu hanya Rp 2 juta, bagaimana kamu bisa balikin duit saya yang sudah habis hampir Rp 1 miliar," kenangnya.

Akhirnya pada 1991 dia terbesit untuk mendirikan bisnis properti. Idenya itu muncul lantaran dia tahu bahwa akan ada pembangunan jalan yang menghubungkan Saharjo dengan Kuningan. Boy pun ingin mendirikan sebuah gedung yang hendak dia sewakan.

Rencana itupun mendapatkan restu, bahkan ayahnya bersedia memberikan modal. Namun rencana itu kandas lantaran dia hanya ingin membebaskan lahan seluas 3.000 meter persegi, sementara ketentuan pembebasan lahan minimum 1 Ha.

Akhirnya dia dibawa ayahnya menemui petinggi-petinggi Astra Internasional saat itu seperti Theodore Permadi Rachmat dan Edwin Soeryadjaya. Boy diminta untuk mempresentasikan pemikirannya tentang peluang bisnis properti di wilayah yang kini menjadi kawasan Kasablanka.

Proposal Boy pun diterima, dia diminta untuk membebaskan lahan seluas 20 Ha. Sayangnya lantaran kondisi perekonomian saat itu sedang terganggu dia hanya bisa membebaskan lahan seluas 3 Ha.

"Waktu itu saya hanya calo tanah, bukan developer, saya hanya bebasin lahan untuk Astra. Jadi basic awal saya jadi pengusaha membebaskan tanah. Saya ini RCTI, rombongan calo tanah Indonesia. Tapi itu pengalaman berharga," tuturnya.

Meski gagal menjadi pengusaha properti dan hanya mentok menjadi calo tanah, justru pengalaman itu yang bisa membuatnya menjadi pengusaha sukses.

Menjajal Peruntungan di Panasnya Batu Bara
Boy pertama kali melangkahkan kakinya di industri batu bara sejak 1992. Saat itu Boy mendapatkan proposal penawaran bisnis batu bara di Sawahlunto dari kerabat ibunya dari Australia.

"Saat itu saya enggak tahu sama sekali batu bara, lihat saja enggak pernah. Tapi insting, saya melihat minyak akan habis, tapi batu bara masih banyak di Indonesia. Saya yakin one day pasti batu bara menggantikan minyak," tuturnya saat berbincang.

Perusahaan batu bara itu bernama PT Allide Indocoal. Di perusahaan itu Boy hanya memiliki saham 20%. Namun karena komoditas batu bara masih belum booming, perusahaannya tidak berkembang.

Ironisnya lagi, partner usahanya dari Australia itu memilih untuk meninggalkan Indonesia pada 1997-1998 lantaran maraknya aksi kerusuhan. Terpaksa Boy harus melanjutkan usaha itu, meskipun harus menghadapi masalah sengketa tanah dengan masyarakat setempat hingga melunasi utang perusahaan yang mencapai US$ 13 juta.

"Untungnya saya memiliki pengalaman sebagai calo tanah. Pengalaman memang sangat berharga," tuturnya.

Titik Balik dan Perusahaan Pembiayaan
Saat tantangan itu dihadapinya, untungnya Boy memiliki bisnis di ranah lainnya. Saat itu dia terbesit untuk mendirikan perusahaan pembiayaan untuk kendaraan dengan nama WOM Finance. Kebetulan ayahnya merupakan founder PT Astra Internasional dan dia juga memiliki banyak kolega di perusahaan otomotif tersebut.

"Modal saya mendirikan WOM Finance hanya Rp 5 miliar ditambah dari perusahaan Ometraco Rp 5 miliar dan sisanya utang dari Bank Tiara Rp 50 miliar," kenang Boy.

Singkat cerita, WOM Finance bernasib jauh lebih baik dibanding bisnis batu baranya. Nah disinilah titik balik Boy menjadi pengusaha sukses.

Ometraco sebagai pendiri WOM Finance ternyata colapse di tahun 2000. Boy pun akhirnya membeli sahamnya. Ternyata perusahaan itu semakin berkembang.
Akhirnya pada sekitar tahun 2003-2004, BII tertarik untuk membeli WOM Finance dengan tawaran harga yang cukup menggiurkan sekitar US$ 150 juta. Padahal WOM Finance dibangun dengan modal hanya Rp 5 miliar.

"Akhirnya saya putuskan menjual 70%, dan saya masih pegang 30%," terangnya.

Uang hasil penjualan WOM Finance itu sebagian dia berikan kepada orangtuanya. Sebagian lagi dia belikan tambang batu bara di Kalimantan Selatan dan membeli saham PT Adaro Energy Tbk dari tangan asing. Sejak saat itu usahanya terus melejit.

Lima Kiat Sukses Boy Thohir
Pria yang lahir pada 1 Mei 1965 ini bisa dibilang memiliki pengalaman segudang sebagai pengusaha. Boy telah menjadi pebisnis sejak usia 25 tahun, itu artinya dia telah terjun di dunia usaha sekitar 28 tahun.

Boy berbagi 5 pedoman yang selalu dia pegang teguh hingga menjadi pengusaha sukses. Pertama pegang teguh karakter pribadi yang santun.

Boy memberi contoh, meski sebagai pengusaha dia tidak pernah menganggap bahwa uang adalah segalannya. Menurutnya pemikiran itu membentuk karakter pribadi yang baik.

"Dalam arti kata bahwa uang itu bukan segalanya. Kalau menganggap uang segalanya karakter kita buruk, menghalalkan segala cara. Kita harus punya integritas, harus menghargai orang, harus rendah diri," tuturnya

Kedua, lanjut Boy, selalu yakin bahwa kesuksesan bukan suatu hal yang instan. Perlu proses dalam meraihnya. Itu artinya butuh kerja keras dan pantang menyerah ketika menjalaninya.

"Seperti naik tangga, pelan-pelan tak terasa sudah tangga ke-100. Tapi kalau kita lompat-lompat dari tangga ke-1 ke tangga ke-4, ya bisa jatuh. Saya juga selalu bilang bisnis itu sulit, tidak mudah," terangnya.

Ketiga, menurut Boy pengusaha sukses harus pintar. Sebab pengusaha berkaitan erat dengan perkembangan zaman. Sehingga perlu kepintaran untuk menyiasatinya jika tidak ingin tergerus perkembangan zaman.

"Keempat, pengusaha harus memiliki jaringan yang luas. Susah berbisnis di Indonesia kalau tidak punya teman," tambah Boy.

Terakhir, berserah dirih kepada Tuhan. Boy percaya segigih apapun berusaha tidak akan bisa meraih keinginannya jika Tuhan tidak berkhehendak. (detikFinance/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pulang dari Turki, Anwar Ibrahim Dilarikan ke Rumah Sakit
Pendiri Dinas Rahasia dan Mantan PM Korsel Meninggal di Usia 92 Tahun
Larangan Mengemudi Bagi Perempuan Saudi Resmi Dicabut
Pemerintah AS Segera Bentuk Satuan Tugas Reuni Keluarga Migran
Macron Dukung Sanksi Bagi Negara Uni Eropa Penolak Imigran
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU