Home  / 
Kerri Pandjaitan dan Dekorasi Pertemuan IMF - World Bank
Minggu, 6 Mei 2018 | 13:28:02
Kerri bersama ayahnya Luhut Pandjaitan.
Ada satu pemandangan yang tidak biasa di beberapa forum dan konferensi pers pada hari terakhir pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional IMF dan Bank Dunia di Washington DC  baru-baru ini. Sejumlah pemimpin dan pengambil kebijakan keuangan dunia mengenakan ulos, termasuk Direktur IMF Christine Lagarde, Ketua Komite Keuangan dan Moneter Internasional (IMFC) Lesetja Kgangyago, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo dan beberapa gubernur bank negara-negara lain.

Lagarde bahkan tidak saja mengenakannya dalam forum pertemuan, tetapi juga saat konferensi pers . Sesekali ia tampak memperbaiki kain khas Sumatera Utara  itu ketika ada fotografer yang ingin mengambil fotonya. "Isn't it beautiful?," ujar Lagarde ketika ditanya wartawan tentang ulos yang dikenakannya.

 Yang berperan di balik pemberian cenderamata tersebut yang sekaligus memberikan dekorasi tersendiri bagi pertemuan internasional itu tak lain adalah Kerri Pandjaitan , seorang warga Indonesia yang mengawasi langsung pembuatan kain kebanggaan masyarakat Batak itu sejak akhir Maret lalu dan ikut membagikannya kepada 70 pemimpin dan pengambil kebijakan keuangan dunia tersebut.

"Ini jenis ulos Harungguan, yang berasal dari Muara, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Desainer ulos ini adalah Torang Sitorus, sementara yang menenunnya adalah  penenun dari daerah Taput,'' ujar Kerri  yang merupakan putri bungsu Luhut Binsar Pandjaitan yang juga Menko Kemaritiman RI.

Ditambahkannya, ada delapan penenun yang bekerja keras menenun puluhan ulos itu. "Secara khusus kami menggunakan kombinasi warna alam dan sintetis, karena memang sedang mencoba merevitalisasi kembali ulos yang menggunakan pewarna alam,'' ujar Kerri.

Ulos bisa menjadi  cenderamata  pada pertemuan di Washington menurut Kerri  berawal saat Pacto (organiser IMF-World Bank Annual Meetings) meminta bantuan kepada Kerri dan ibunya terkait pengadaan cenderamata pada pertemuan tersebut. Dengan adanya remander dari Christine  Lagarde tentang beratnya cenderamata berupa buku-bukuan, ukiran dan lainnya,  diyakini tenunan Indonesia akan cocok, akhirnya dipilihlah ulos.

"Ulos dipilih menjadi cendera mata yang dibagikan kepada para peserta pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Washington DC sebagai cara memperkenalkan dan memancing keingintahuan lebih jauh tentang Indonesia. Juga  untuk memperkenalkan Danau Toba, salah satu daerah yang ditetapkan pemerintah  menjadi daerah kunjungan para peserta pertemuan pertemuan IMF-Bank Dunia, ASEAN Leaders Forum dan Our Ocean Conference   di Bali Oktober mendatang," kata Kerri.

Ulos adalah salah satu kain yang secara turun temurun dibuat, dikenakan dan dipertahankan masyarakat Batak. Warna merah, hitam dan putih kerap mendominasi ulos, meskipun tak jarang ada pula desain yang menggunakan benang emas dan perak. Ulos, yang kerap digunakan sebagai selendang, umumnya dibuat dengan alat tenun, bukan mesin. Awalnya ulos digunakan dalam perhelatan atau upacara-upacara adat resmi, antara lain perkawinan, kelahiran dan kematian; tetapi kini banyak digunakan dalam berbagai kesempatan. Termasuk menjadi bahan dasar untuk pakaian, tas, ikat pinggang, dasi, dompet, taplak meja, sarung bantal, dan berbagai produk souvenir.

Bagi Kerri, ulos merupakan kain khas  kebanggaan masyarakat Batak  karena itu patut dipromosikan ke dunia luar.  Walau  berkecimpung di dunia modern , Kerri tertarik pada ulos  karena melihat ibunya yang menjadi kolektor tenun. Menurut pandangannya, kain tenunan ulos sangat kaya nilai namun belum terapresiasi dengan baik. Karena itu ia tertarik  untuk mempelajari sejarah ulos dan langsung berinteraksi dengan penenun ulos.

Putri Batak kelahiran  27 Februari 1991 ini  menyebutkan, ulos memang dipakai pada acara adat dan ada yang bilang  ulos tidak bisa dipotong-potong, apa lagi jenis yang lebih tinggi. Walau demikian dinilainya apresiasi  terhadap ulos sebagai  karya seni masih kurang dan dilihat hanya sebagai bagian dari adat.

"Ini memang sangat baik untuk masa depan adat di generasi seterusnya, tapi ada baiknya kita berikan chanel (saluran) lain untuk ulos  dilihat sebagai seni yang bernilai," kata Kerri yang mengaku diberi kebebasan oleh orangtuanya dalam menjalani  dan memilih jalan hidup yang penting disiplin, dan mandiri.

Kreasi  ulos menurut alumni   Roedean School, Inggris ini sangat penting  seperti dijadikan bahan cinderamata  secara massal juga  fashion.

"Jadi kita ada platform untuk promosi ulos. Tetapi untuk bidang  fashion dan cenderamata massal, ada baiknya kita bisa inovatif dan menciptakan style ulos yang lebih modern dan inspiratif.  Dan perlu juga orang awam dan non batak  mengerti tidak semua tipe ulos bisa dijadikan baju, souvenir karena memang sakral," katanya.

Saat ini Kerri bersama  Sandra Niessen melakukan proyek revitalisasi ulos lama dan mengembangkan ulos dengan warna alam yang  juga dilakukan Torang  Sitorus. Jadi tidak heran dia akan sering bolak-balik Jakarta-Tapanuli untuk menyelesaikan proyeknya.

MENGOLEKSI TENUN
Ketika diberitahu betapa bangganya Christine Lagarde mengenakan ulos itu di beberapa acara pada akhir pekan lalu, Kerri mengatakan ia tidak heran karena Lagarde dikenal suka koleksi tenun.

"Ia (Lagarde.red) punya banyak tenun ikat Sumba dan batik Jawa. Saya lihat dan dengar sendiri ia memang suka koleksi. Melihat ada ragam tenun lain, tentu sebagai kolektor membuatnya gembira," tambahnya. (VOA/R5/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU