Home  / 
dr Flo Siregar
Dokter Cantik Murah Senyum di Perbatasan RI-Malaysia
Minggu, 22 April 2018 | 13:03:33
SIB/Aisyah/detikHealth
dr Flo memilih pulang kampung untuk mengabdikan diri sebagai dokter.
"Ada dokter cantik, namanya Florida, dia murah senyum, pelayanannya sangat baik. Kalau ada 10 dokter kayak gitu, orang yang sakit jadi bisa sehat," ujar salah seorang bapak dalam sebuah audiensi dengan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek di Balai Karangan, Sanggau, Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu.

Sontak celetukan dari seorang pasien tersebut membuat tawa hadirin pecah. Dokter yang dimaksud adalah dr Florida Linawati Aries Siregar (27), yang ternyata memang murah senyum. 

Ditemui di ruang kerjanya, dokter dengan panggilan dr Flo ini bercerita sudah setahun menjadi dokter umum di Puskesmas Balai Karangan. Ia menceritakan bahwa selama bekerja tentu ada suka duka, sehingga ia mengaku juga pernah dilanda rasa kesal.

"Suka duka pasti ada tapi enggak tahu kenapa, saya sering kok kesel dalam layanan, capek, kurang tidur, apalagi kalau pasiennya ramai. Di sini kan kalau Senin bisa sampai seratus pasiennya, membludak banyak minta cepat. Namanya manusia ya kesal juga, kadang enggak tahu saya masih senyum apa enggak. Tapi kalau lihat orang butuh pertolongan ya jadi care lagi," ungkapnya," ungkapnya.

Lahir di Sanggau, 8 Oktober 1990, membuat dr Flo yang merantau di Jakarta dan menempuh pendidikan di Universitas Kristen Indonesia ingin kembali membagikan ilmunya di kampung halaman. Sempat menghabiskan koas di Sulawesi, ia akhirnya pun memutuskan untuk menjadi dokter di Sanggau.

Namanya manusia ya kesal juga, kadang enggak tahu saya masih senyum apa enggak. Tapi kalau lihat orang butuh pertolongan ya jadi care lagi.

Keinginan dr Flo untuk menjadi dokter terbilang kuat. Cita-cita yang ia pendam sejak kecil ini benar-benar ia wujudkan dengan usaha keras tanpa mau merepotkan orangtuanya.

"Saya dulunya dokter kecil, saya belajar membalut luka, bagaimana cara cuci tangan yang baik. Setelah itu saya jadi bangga dan ingin membagikannya ke orang-orang," kata dr Flo.

"Orangtua saya kan bukan orang kaya, jadi saya kuliah harus tepat waktu. Enggak mau buang-buang waktu dan uang."

Ya, selama menjadi dokter di daerah dekat perbatasan negara tentu saja membuat dr Flo menjumpai banyak tantangan. Apalagi ketika ia menemukan bahwa pasien Tuberkulosis (TBC/TB) di Sanggau masih cukup banyak.

"Di sini pasiennya banyak TBC. Walaupun ini bukan kampung banget, kecamatan yang sudah lumayan dekat perbatasan, tapi banyak juga ditemui pasien TBC yang saya duga sudah sampai tulang. Rata-rata anak remaja, kadang saya suka bingung kasih obat apa. Kebanyakan enggak bisa jalan mendadak, padahal imunisasi lengkap," kisahnya.

Beratnya dunia kedokteran pernah membuatnya hampir menyerah. Ia pun menceritakan ada momen di mana ia merasa agak menyesal terjun di dunia yang satu ini.

"Pernah agak menyesal jujur waktu koas, terlalu capek, lelah, tapi setelah menyesal paling satu hari. Masyarakat sekarang makin pintar, kalau kita salah sedikit banyak cekcoknya, sebagai dokter saya kurang suka yang seperti itu tapi karena memang suka, satu hari kecewa besok-besok udah semangat lagi," tutupnya dengan senyum. (detikhealth/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU