Home  / 
Park Geun-Hye: Berawal dari Istana Kepresidenan Berakhir di Bui
Minggu, 15 April 2018 | 18:23:44
Seoul (SIB)- Park Geun-Hye yang baru saja divonis 24 tahun penjara atas kasus korupsi, sebelumnya mencetak sejarah sebagai presiden wanita pertama di Korea Selatan (Korsel). Park setidaknya akan mendekam di penjara hingga usianya 90 tahun nanti.

Seperti dilansir AFP, Jumat (6/4/2018), Park yang kini berusia 66 tahun baru saja dinyatakan bersalah atas dakwaan penyuapan, penyalahgunaan kekuasaan, dan pemaksaan terkait skandal korupsi besar-besaran yang melengserkannya dari kursi Presiden Korsel tahun lalu.

Sosok Park yang sangat familier di kalangan warga Korsel, diketahui tumbuh besar dalam sorotan media di Istana Kepresidenan Korsel atau Blue House. Park hidup enak sejak kecil sebagai putri sulung mendiang diktator Korsel, Park Chung-Hee.

Pemerintahan ayah Park antara tahun 1961-1979 banyak diwarnai pelanggaran HAM dan praktik kekerasan terhadap kelompok-kelompok oposisi. Namun sosok ayah Park tetap dihormati oleh banyak warga Korsel, karena perekonomian Korsel melambung di bawah kepemimpinannya.

Saat itu, keluarga Park diperlakukan bagai raja oleh para pendukungnya. Park sendiri dijuluki sebagai 'putri', sebutan yang disandangkan selama bertahun-tahun meskipun dia beranjak dewasa.

Pembunuhan kedua orangtua Park, semakin menambah simpati publik kepadanya. Ibunda Park ditembak mati oleh seseorang yang berkewarganegaraan ganda Korea-Jepang, yang sebenarnya berniat membunuh sang diktator Park Chung-Hee tahun 1974. Penembak mati ibunda Park diyakini mendapat perintah dari Korea Utara (Korut).

Jadi Ibu Negara Saat Masih Muda
Usai ibundanya tewas dibunuh, Park yang saat itu masih kuliah di Prancis, kembali ke Korsel untuk mengambil peran sebagai 'Ibu Negara' mendampingi ayahnya. Tahun 1979, ayah Park tewas dibunuh oleh kepala keamanannya sendiri. Setelah insiden itu, Park menjauhi sorotan selama dua dekade, sebelum dia kembali ke dunia politik dengan menjadi anggota parlemen Korsel tahun 1998.

Sebagai politikus, Park menjadi sosok bintang terutama di kalangan konservatif yang masih sangat memuja ayah Park. Berusaha memanfaatkan momen nostalgia dan menarik simpati, Park kerap memulai pidatonya dengan kalimat 'Setelah saya kehilangan orangtua saya secara tragis akibat peluru si pembunuh'.
Karier politik Park naik dengan cepat dan dia dijuluki 'Ratu pemilu' karena mampu meraup dukungan besar dan loyal dari warga Korsel yang lanjut usia dan konservatif. Fakta bahwa Park tidak menikah dan tidak pernah berkomunikasi dengan dua saudaranya, menjadi daya tarik tersendiri. Diketahui bahwa Korsel marak diwarnai pemimpin yang terseret skandal korupsi yang melibatkan keluarganya.

"Saya menikah pada Republik Korea. Saya tidak punya anak. Rakyat Korea Selatan adalah keluarga saya," ucap Park pada suatu momen, mengutip kalimat khas Ratu Elizabeth I yang dijuluki 'Virgin Queen' yang menjadi panutannya.

Dalam pilpres tahun 2012, Park menang dan mencetak sejarah sebagai presiden wanita pertama Korsel. Perolehan suara Park saat itu tercatat sebagai yang tertinggi dari kandidat capres manapun sepanjang sejarah demokratis Korsel.

Dikendalikan Teman Dekat dan Orang Kepercayaan
Hanya sedikit orang yang tahu soal rahasia Park, termasuk soal tokoh-tokoh religius yang mengendalikan seluruh aspek kehidupannya.

Pengaruh tokoh religius bernama Choi Tae-Min terhadap Park dimulai tahun 1970-an. Saat itu Choi mengirim surat yang isinya mengklaim dirinya bertemu mendiang ibunda Park dalam mimpinya. Choi Tae-Min merupakan pemimpin kultus religius yang menikah 7 kali dan berusia 40 tahun lebih tua dari Park.
Pengaruh Choi Tae-Min atas Park terus berkembang hingga salah satu kawat diplomatik Amerika Serikat (AS) yang dibocorkan WikiLeaks membahas soal rumor bahwa Choi Tae-Min 'sepenuhnya mengendalikan tubuh dan jiwa Park'.

Choi Tae-Min meninggal tahun 1994 lalu. Salah satu putrinya, Choi Soon-Sil, mewarisi peran sebagai penentu keputusan Park setiap harinya, mulai dari siapa yang ditemuinya hingga pakaian apa yang dikenakannya.

Choi Soon-Sil terus mengendalikan Park hingga dia menjadi Presiden Korsel. Selama Park menjabat presiden, Choi Soon-Sil menikmati akses rahasia dan bebas ke kediaman Park dan diduga mencampuri setiap keputusannya, termasuk soal pencalonan pejabat senior Korsel.

Keterlibatan Choi Soon-Sil dalam urusan pemerintahan terungkap tahun 2016 melalui berbagai testimoni dari kalangan dalam Blue House. Unjuk rasa besar-besaran menuntut dilengserkannya Park digelar selama berminggu-minggu di Korsel. Park akhirnya dimakzulkan pada Maret 2017.

Park dan Choi Soon-Sil sama-sama ditangkap dan diadili atas skandal korupsi. Pada Februari lalu, Choi Soon-Sil divonis 20 tahun penjara karena memanfaatkan hubungannya dengan Park untuk memeras puluhan juta dolar AS dari para konglomerat atau chaebol Korsel, termasuk dari perusahaan elektronik ternama Samsung dan raksasa retail Lotte. (detikcom/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Qualcomm Hadirkan Chipset Canggih untuk Ponsel Mid-Range
Sensor Sidik Jari dalam Layar Smartphone Apakah Bakal Populer?
Fakta-fakta Tentang Media Sosial yang Jarang Anda Ketahui
Indonesia Butuh Internet 5G untuk Industry 4.0
Bus Tanpa Sopir Bakal Mondar-mandir di GBK Selama Asian Games 2018
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU