Home  / 
Dokter Tigor Silaban, Pilih Pedalaman Papua Ketimbang Pertamina
Minggu, 25 Februari 2018 | 12:20:25
SIB/pbs/Dok
Dr Tigor Silaban foto bersama warga pedalaman Papua.
Jakarta (SIB) -Kiprah dokter Tigor Silaban di pedalaman Papua menjadi legenda. Ia rela melepaskan pekerjaan mapan sebagai di lokasi pertambangan lepas pantai demi menjelajah ke berbagai pedalaman sekitar Wamena.

Tigor tak menyangka jika kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1972 terus berlanjut. Ia mengaku malas mempelajari teori dalam perkuliahan. Jika ia gagal dan harus tinggal kelas rencananya ia akan pindah kuliah di Fakultas Teknik Arsitektur, mengkuti jejak ayahnya Friedrich Silaban sebagai arsitek.

Namun gairahnya justru muncul di ruang bedah. Ia selalu antusias mengikuti kuliah bedah mayat di atas meja operasi. Keinginannya menjadi dokterpun kian kuat. Bapaknya merestui rencana kariernya dengan tujuan sederhana, jika ada keluarga sakit mudah mendapat resep dokter.

"Awalnya saya tidak suka, sekolah tidak sepenuh hati. Tetapi tahun demi tahun lulus terus tidak pernah her (mengulang mata kuliah). Saya senang praktek kuliah anatomi, bedah mayat, kuliah teori jarang ikut," tuturnya ketika berbincang melalui telepon, Senin malam (5/2).

Lepas kuliah ia menjajal karier sebagai dokter di Pertamina. Penugasan pertamanya langsung dirujuk ke ladang eksplorasi minyak lepas pantai. Gajinya besar, sampai Rp 300 ribu per bulan pada 1979.

Namun rutinitas bekerja membuatnya bosan. Ia menetap di tengah laut selama dua minggu untuk memberi pelayanan kesehatan. Setelah itu ia kembali ke daratan lalu kembali lagi selama dua minggu. Pekerjaan itu hanya bertahan beberapa bulan hingga ia memutuskan untuk berangkat ke Papua. "Saya bosan dengan laut, saya mau cari pegunungan saja," akunya.

Iapun meminta ditugaskan ke daerah pedalaman, Oksibil di Puncak Jaya. Namun Gubernur Papua (waktu itu masih bernama Provinsi Irian Jaya) dan Panglima Kodam Cenderawasih saat itu menolak permintaannya karena tergolong zona merah (berbahaya). Ia kemudian ditempatkan di Puskesmas Bokondini, Kabupaten Jayapura.

Tigor juga juga melayani Puskesmas kawasan pelosok lain di bagian timur Jayawijaya, seperti Apmisibil dan Kiwirok. "Saya baru bisa menangani Puskesmas Oksibil setelah jadi kepala dinas kesehatan Jayawijaya," jelas dia.

Penempatan di berbagai wilayah pedalaman ini cukup membuatnya senang. Daerah cakupan operasionalnya sebagai dokter cukup luas meliputi Jayawijaya, Bokondini, Yahokimo, Oksibil, dan lainnya. Medan yang berat tak membuatnya ciut, ia memang senang naik gunung. Selain itu hobinya memakai radio komunikasi sangat membantu untuk koordinasi dengan Jayapura dan daerah-daerah terpencil.

Ia pun membangun jaringan radio di seluruh Puskesmas. Radio ini juga dipakainya untuk berkomunikasi dengan bapaknya di Bogor. Malah masa berpacaran dengan Joan Tielman yang berada di Surabaya antara lain dijalani lewat radio.

Puskesmas tempatnya bekerja sangat sederhana. Cuma dibangun dengan kayu, berlantai tanah dan beratap rumbai. Untungnya masyarakat di Wamena sadar kesehatan, mereka mau menyisihkan seribu Rupiah untuk asuransi lokal tiap tahun. Asuransi ini dilakukan selama tiga tahun setelah pemerintah menyediakan anggaran kesehatan masyarakat.

Selama bertugas ia memiliki rekan sekaligus mentor seorang dokter dari Belanda bernama Flin. Mereka berdua berstatus dokter umum. Namun beberapa operasi yang harusnya dilakukan oleh spesialis dituntaskan melalui tangan mereka berdua.

Keberadaan Flin banyak membantu, ia membawa berbagai peralatan untuk membuat obat, kulkas penyimpanan vaksin dan lainnya. Alat ini ini terus dimordenisasi bahkan ketika Flin meninggalkan Papua ia masih sering membantu peralatan.

"Karena saat itu alat-alat sangat susah, membawa aki untuk kulkas vaksin saja harus pakai pesawat, itupun harus dibungkus pakai serbuk gergaji karena tidak boleh ditenteng-tenteng," jelas Tigor.

Mengabdi di wilayah pedalaman Wamena ini dijalani selama 12 tahun. Tigor mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan jenjang master ke Universitas Airlangga, Surabaya pada 1994. Selepas pendidikan itu ia ditempatkan di ibukota Provinsi Papua, Jayapura.

Penempatan ini tak membuatnya diam, ia sering pergi ke daerah untuk memastikan kualitas pelayanan Puskesmas. Kini ia menetap di Jayapura dan sudah pensiun, namun aktivitasnya sebagai konsultan kesehatan terus dijalankannya. "Juga sebagai konsultan kesehatan di Kabupaten Pegunungan Bintang (Oksibil) yang sudah menjadi kabupaten pemekaran selama 2 tahun lebih," imbuh dia.

Dua anak kandungnya, Donar Andrich Silaban dan Binsar Friedrian Silaban, tak mau meneruskan karier bapaknya menjadi dokter. Binsar kini malah mendalami sekolah teknik di Mawela dan bekerja untuk organisasi penerbangan misionaris.

Keberlanjutan karier kedokterannya justru menarik bagi anak angkatnya dari suku Mei, Martha Kietty Silaban. Martha kini masih duduk di kelas 3 SMP dan sering mengutak-atik alat-alat kedokteran milik Tigor.

Tigor menganggap perjalanannya meniti dokter di pedalaman sebagai jalan dari Tuhan. Ayahnya merestui karier ini dan tujuannyapun mulia, membantu sesama manusia.

"Saya anggap ini jalan Tuhan. Sekarang tidak mudah mencari dokter yang mau tugas di pedalaman. Mereka memilih praktek di kota untuk cari uang. Maklum biaya pendidikan dokter sekarang tinggi, dulu murah sekali. Bahkan tiap tahun malah turun," jelasnya. (detikcom/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Tim SAR Temukan 2 Titik Objek di Kedalaman 490 Meter Danau Toba
Kabar Terbaru: Posisi KM Sinar Bangun Berhasil Diidentifikasi
Pemerkosa Turis Prancis di Labuan Bajo Terancam 12 Tahun Penjara
Golok Menancap di Dada, Dadan Tewas Diduga Dibunuh
Saat Silaturahmi, Pencuri di Rumah Kosong Dibekuk
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU