Home  / 
Khofifah, Pekerja Keras yang Jadi Panutan
Minggu, 28 Januari 2018 | 13:36:29
Khofifah Indar Parawansa
Jakarta (SIB) -Presiden Joko Widodo untuk ketiga kalinya melakukan perombakan kabinet dengan mengganti Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang telah mengabdi selama tiga tahun tiga bulan di Kabinet Kerja.

Penggantian menteri tersebut dilakukan karena Khofifah maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur 2018.

Perombakan kabinet tersebut cukup mengagetkan orang-orang dekat Khofifah, salah satunya adalah ajudan yang senantiasa melekat.

"Malamnya kami masih membahas jadwal besok dan ibu juga sudah merencanakan akan meninjau kelaparan yang terjadi di Papua. Selain itu juga rencana untuk pencairan PKH," kata AKP Ririn Sri Damayanti.

Di mata Ririn, Khofifah merupakan sosok yang luar biasa dan sangat bersahaja.

"Saya salut kepada beliau, dari cara bekerja, cara berpikir, smartnya. Kerja ikhlas tanpa mengeluh biarpun sakit tetap saja bekerja," kata Ririn.

Ia mengaku merasa kehilangan karena Khofifah bukan hanya sebagai pimpinan tapi juga sebagai ibu yang bekerja keras tanpa kenal lelah.

Sementara Iptu Rusmini yang juga menjadi ajudan selama Khofifah menjabat juga mengaku banyak ilmu yang didapat dari perempuan kelahiran Surabaya itu.

"Ibu itu sebagai pimpinan, orang tua kami, kakak kami, bukan hanya sebagai menteri. Jadi kami banyak belajar dan tahu apa arti hidup," ujarnya.

Rusmini mengaku awalnya kaget dengan ritme kerja Khofifah yang sangat dinamis, tanpa hari libur, bahkan terkadang tanpa tidur. Namun lama-kelamaan ia menjadi terbiasa dan mampu mengikuti irama kerja Khofifah.

PEKERJA KERAS
Selain dikenal sebagai sosok pekerja keras, Khofifah juga dinilai kerap berkoordinasi dengan jajaran di Kementerian Sosial dan mitra terkait program di Kemensos.
"Ibu Khofifah pekerja keras, sangat egaliter, waktunya dihabiskan untuk masyarakat dan umat," kata Sekjen Kemensos Hartono Laras.

Hartono mengatakan banyak sekali yang terkesan pada Khofifah karena di tengah kesibukannya memimpin organisasi perempuan terbesar Muslimat NU, sebagai menteri dan juga menyeimbangkan perannya sebagai seorang ibu.

"Beliau sangat perhatian sekali kepada anak-anaknya, padahal sibuk sekali. Ibu Khofifah juga sosok yang detail, selalu mengecek pekerjaan. Jangan sampai kita bicara tapi tidak menguasai informasi itu," ujar Hartono yang telah bekerja dengan delapan menteri sosial di sepanjang kariernya.

Kabag Publikasi dan Pemberitaan Biro Humas Kemensos Salahuddin Yahya juga menilai ritme kerja Khofifah berisi pesan Revolusi Mental yang mengajak untuk terus kerja, kerja dan kerja.

"Kemensos yang selama ini dipandang sebelah mata, di bawah kepemimpinan Ibu Khofifah diakui dengan banyaknya penghargaan yang diperoleh," ujar Yahya.

Di setiap kunjungan kerjanya ke daerah, Khofifah juga kerap mengajak rombongan yang menyertainya untuk selalu makan bersama.

Tidak jarang, sifat perempuan yang suka berbelanja juga muncul. Di kota-kota tertentu ia sering berbelanja oleh-oleh, utamanya kain khas daerah seperti batik.

Buah tangan tersebut tidak lupa dibagikan kepada orang-orang yang menyertainya hingga ke patwal dan staf lainnya.

DOA TERBAIK
Keikutsertaan Khofifah pada Pilkada Jawa Timur 2018 bukanlah pertama kalinya. Ia juga pernah ikut dalam pesta demokrasi untuk merebut posisi Jatim Satu pada 2008 dan 2013, meski di keduanya berujung pada kekalahan.

Putra tertua Khofifah, Jalaluddin Mannagalli, mengaku keluarga sangat mendukung keputusan Khofifah untuk maju pada Pilgub Jatim.

Meski sebelumnya dua kali gagal pilkada, Jalal mengaku tidak trauma. Bahkan ia mendukung dan percaya bahwa keputusan Khofifah untuk bertarung di Pilkada Jatim adalah yang terbaik.

"Kami bekerja untuk rakyat tidak bisa di satu posisi saja. Ibu mau ke Jatim itu sangat bagus, karena Jawa Timur adalah daerah asal kami tidak ada salahnya untuk memajukan daerah asal apalagi jika memang tenaga kita dibutuhkan," ujar anak kedua Khofifah tersebut.

Meski dengan konsekuensi harus sering ditinggal dan waktu yang habis di luar rumah, Jalal dan kedua adik serta kakak perempuannya mengaku mengerti segala kesibukan ibu mereka di luar rumah.

"Kami sebagai anak juga sudah mengerti, dari kecil kami sering ditinggal. Tapi kami juga sadar ibu memang dibutuhkan di luar sana dan sekarang ibu dibutuhkan membangun Jawa Timur," katanya.

Pengertian itu muncul dari teladan yang dicontohkan Khofifah. Ia tidak hanya memberi nasihat dan pengertian, tapi juga memberi contoh sebagai panutan.

Hal itu yang dirasakan Jalal, karena sejak kecil sering diajak Khofifah untuk melihat langsung apa yang dikerjakan bagi masyarakat.

"Saya selalu doakan yang terbaik bagi ibu. Tuhan pasti punya rencana yang terbaik untuk kita semua," kata Jalal. (Ant/Viva.co.id/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sekdaprovsu Buka Sosialisasi E-Formasi Pemprovsu, Sistem Transparan Lindungi Pegawai
Timses Jokowi Balas PAN: Narasi Ekonomi Prabowo-Sandi Cuma Jargon
Jaksa Kembalikan Berkas Nur Mahmudi ke Polisi
Kebakaran di Kementerian Pertahanan, 11 Mobil Pemadam Dikerahkan
3 Bulan Ditahan KPK, Idrus Marham Pamer Bikin Buku
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU