Home  / 
Mery Magdalena Sibuea
Putri Batak Goes International Via Papua
* Catatan: Drs Ads Franse Sihombing, Wartawan SIB
Minggu, 17 Desember 2017 | 11:40:37
Mery Magdalena Sibuea, dengan busana batik rancangannya, dan ikebana bunga ucapan sukses dari penggemarnya (Jakarta 2016).
Ada yang menarik di sela-sela puncak perayaan Hari Bakti ke-71 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) di lapangan Satker BBPJN-II Medan, belum lama ini.

Di antara kerumunan peserta dan undangan dari kalangan istri pejabat atau staf jajaran PU-PR dari berbagai instansi terkait itu, ada seorang wanita cantik yang disebut-sebut perancang busana nasional (fashion designer).

"Itu yang bersama artis Ita Purnamasari dan Miss Papua Patricia Herman ketika tampil show di Jepang dan Azerbaijan itu kan...?" ujar hadirin dari kaum wanita, yang rata-rata masih muda dan cantik, saling bertanya di sela-sela acara itu dan dibenarkan rekannya yang lain.

Ya, dia Mery Magdalena Sibuea. Dia dikenal tak hanya sebagai pengurus Darma Wanita Persatuan (DWP) BPPJN-II Medan, atau istri Ir Jon Sudiman Damanik MM (Kepala Bidang Pengujian dan Pembangunan Jalan di BBPJN-II), tapi dikenal juga sebagai salah satu fashioner aktif yang sedang menanjak di kancah dunia perancang dan peraga busana di Jakarta, khususnya produk kombinasi tenun-batik dari lintas etnis di Indonesia.

Profil dan karir Mery dengan bendera perusahaan butiknya Amada Tania Fashion itu, mulai meraih sukses saat tampil dalam event fashion show di Republik Demokratik Azerbaijan pada Oktober 2017 lalu.

Bersama artis Ita Purnamasari dan Miss Papua Patricia Hermane, plus sejumlah peragawati pilihan, Mery mengusung dan menampilkan produk busana motif paduan tenun dan batik dengan corak dan nuansa yang mendekati paduan warna budaya klasik Azerbaijan.

Pendekatan motif sebagai misi jajak pasar dan 'sapa konsumen' ini agaknya disesuaikan Mery melihat profil historis Azerbaijan yang merupakan negara perpaduan Eropa dan Asia Barat Daya, yang berdiri pada 26 Mei 1918 silam.

"Sukses show di Azerbaijan itu mengulang sukses pada gelaran show sebelumnya, seperti di Jepang pada medio 2017 dan 2016, 'Eksibisi Amanda Butik-Batik-Batak' di Kuala Lumpur dan 'Show Batik-Tenun Pleasure' di Singapura pada 2015 dan 2014. Kecintaan dan fokus Mery pada motif tenun-batik ini, memang bermula dari hobinya berkreasi sebelum membuka usaha butik di Jayapura, Papua, pada 2004 lalu," ujar Sontiara Tindaon, seorang pengagum Mery dan pengusaha salon, kepada penulis, di sela-sela acara itu.

Mery, putri Batak kelahiran 10 Januari 1969 itu memulai debutnya ketika melihat nilai etos-karakter dan semangat hidup pada motif tenun di Papua, yang dinilainya mengandung kesamaan dengan citra batik Batak atau ulos.

Sembari mendampingi suaminya Jon Sudiman Damanik yang ketika itu bertugas sebagai Kepala Satker Pembangunan Jalan Nasional di Papua, Mery membuka butik sembari menjajaki mitra dan pasar dengan para relasi di Jakarta selama delapan tahun lebih.

Konsumen dan pasar melirik produk Mery melalui Amanda Tania Boutiq and Fasihon di Jakarta itu karena dinilai dinamis dengan perubahan atau pengembangan model rancangan yang sesuai selera konsumen.

Para segmen pasar di kalangan usia 30-an tahun merasakan kebanggaan tersendiri mengenakan busana karya Mery, tampil modis, memadukan desain modern dengan warna orisinal etnis.

Sontiara mencontohkan, pesan etos karakter diekspresikan Mery melalui pose bertiga (Mery, Ita Purnamasari, Patricia) di sudut kota Baku, Ibu Kota Azerbaijan.

Pose dengan penampilan busana tenun-batik dari lintas etnik Indonesia dengan latar belakang bangunan permanen berupa pendopo modern (lihat foto), tampak menunjukkan optimisme pasar dan konsumen jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Sedangkan pose tunggal Patricia, sang Miss Papua, jelas menunjukkan semangat dan keanggunan orisinalitas yang tertitip dari corak busana terusan tenun, di depan satu gedung kuno yang kokoh dan megah. Inspirasi ini agaknya terbawa Mery ketika menyaksikan bangunan-bangunan tradisional kuno di Papua.

Maka tak heran, kalau produk busana rancangan Mery sudah menyebar ke mancanegara, baik melalui even pertunjukan (fashion show) maupun pameran terbuka (eksibisi). Secara khusus, Mery agaknya jeli mencari pasar di kalangan negara yang memiliki warga peduli dan fanatis pada nilai-nilai tradisional seperti Jepang, Malaysia, Brunai dan Azerbaijan itu. Sehingga, produk dan motif tenun atau batik dari berbagai etnis terjaga dan lestari di Indonesia (negri sendiri).

Wajar pula kalau atas prestasi itu Mery direkrut menjadi salah satu anggota di Asosiasi Showbiz Exhibiton Profesional Indonesia (ASHEPI), sehingga mendapatkan agenda untuk jadwal event-event fashion show ke berbagai kota di luar negeri. Mery juga menegaskan minat dan tekadnya untuk tetap menyertakan motif batik Batak dalam kombinasi semua rancangannya.

Ada tiga misi yang diwujudkan Mery dalam debut karirnya saat ini, menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia kaya nilai budaya yang terkandung dalam motif-motif interaksi sosial dan misi humanisme melalui goresan ukir atau gorga Batak atau lukisan batik pada busana yang layak dikonsumsi warga semua kalangan di seluruh dunia.

Ingin menunjukkan kepada Indonesia bahwa produk dan karya busana yang terwujud dari modifikasi corak tradisional seperti tenun-batik bisa lebih 'fashionable' dan tak kalah pamor dengan produk-produk busana pop, dan ingin menunjukkan kepada keluarga bahwa kecintaan kepada putrinya juga bisa dinyatakan dengan pengabadian nama putrinya dalam karya sehari-hari, sehingga yang dirasakan bukanlah kehilangan, melainkan kesertaan dalam semangat kerja sehari-hari di perusahaan Amanda Tania Boutiq-nya.

Amanda Tania adalah putri tunggal dari pasangan Mery dan Jon Damanik. Tapi Amanda berpulang ke Maha Pencipta dalam usia enam tahun.

Rasa cinta dan kehilangan akhirnya dipadukan Mery dengan mengabadikan nama putrinya sebagai nama perusahaannya. Sehingga nama itu tetap hadir tiap hari di hadapan ketiga abang-adiknya yang semua laki-laki, Richard Handoko ST, Michael David dan Andrew Jeremy.

"Hal yang sangat kami syukuri saat ini adalah, nama Amanda Tania sebagai profil dan produk busana bercorak etnik dari Indonesia, sudah dikenal di sejumlah kota di luar negeri," ujar Jon Sudiman Damanik, suami Mery. (h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Gerak Jalan Beregu dan Jalan Santai Brigade Kartini AMPI Medan
BI dan DPRD Harus Kordinasi Atasi Pengangguran dan Kemiskinan di Medan
KPU Gelar Coklit Serentak Nasional di Hamparanperak
Wagubsu Jenguk Bocah Korban Penganiayaan dari Paluta di RS Adam Malik
Gubsu Tengku Erry Harapkan JCI Medan Bisa Tingkatkan Peran Pemuda
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU