Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Macron: Bocah Kemarin Sore yang Jadi Presiden
Minggu, 14 Mei 2017 | 16:23:56
Pernah diperolok di lingkaran politik Perancis, kini, Emmanuel Macron bisa balik menertawakan orang-orang yang meremehkannya. Politikus sentris independen yang belum pernah mengikuti pemilihan umum sebelumnya ini telah menjadi presiden termuda Perancis setelah mengalahkan kandidat ekstrem kanan Marine Le Pen, Minggu (8/5).

Mantan bankir berusia 39 tahun, yang mengikuti persaingan menuju kursi orang nomor satu di negara tersebut tanpa dukungan partai mapan, sempat dicap tak berpengalaman oleh para pesaingnya. Namun, salah satu hal yang membuatnya menjadi menarik adalah latar belakang yang tak biasa--pekerja pemerintahan yang menjadi jutawan dan akhirnya menteri.

Macron Lahir dan bersekolah di Amiens, utara Perancis. Ia belajar di sekolah bergengsi Paris, Lycee Henry IV, sebelum masuk ke Ecole National d'Administrarion, tempat latihan para elite politik Perancis. Ditunjuk sebagai staf Presiden Francois Hollande pada 2012 setelah sukses berkarir di sektor perbankan, Macron diangkat sebagai menteri ekonomi dua tahun kemudian, menggantikan Arnaud Montebourg yang lebih berhaluan kiri.

Walau demikian, masa jabatannya dirundung kontroversi. Niatnya mendorong reformasi liberal yang bersahabat dengan pebisnis membuatnya tidak populer, bahkan di kalangan pemerintahan sendiri. Undang-undang yang disebut "hukum Macron," bertujuan untuk menggenjot perekonomian melalui reformasi buruh, mesti didorong ke parlemen dengan langkah kontroversial. Hal ini berujung pada protes yang berlangsung berhari-hari, tapi itu membuat Macron menyadari bahwa bukan hanya ekonomi yang mesti diubah, tapi sistem itu sendiri.

Mengumumkan pengunduran dirinya pada Agustus, dia menjelaskan bahwa dia "telah menyentuh batasan sistem dengan jari tangan sendiri," sebelum meluncur ke perlombaan menuju kursi presiden dengan membentuk gerakan En Marche.

Manifesto pemilu Macron, menjanjikan reformasi sistem kesejahteraan dan pensiun Perancis. Dia juga vokal dalam peperangan melawan teror, hukum dan ketertiban, mengajukan peningkatan anggaran pertahanan, menyewa 10 ribu anggota polisi tambahan dan membentuk satuan tugas yang akan bekerja penuh melawan ISIS.

Kebijakan-kebijakan Macron sempat diarahkan untuk merebut suara konservatif, tapi belakangan dia juga mengungkapkan proposal untuk menyenangkan sayap kiri, seperti peningkatan gaji guru di daerah kurang sejahtera. Dia dengan tegas mendukung Uni Eropa dan berjanji akan membawa Perancis kembali ke jantung benua biru, bertekad mempertahankan pasar tunggal blok tersebut.

Selain itu, dengan nada diplomatik dia menyatakan ingin berbincang dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sementara tetap menunjukkan ketertarikan untuk bekerja sama denga Rusia, Iran, Turki dan Arab Saudi untuk mencapai solusi damai di Suriah dan zona konflik lain. Dan dia mendapatkan dukungan dari seluruh spektrum politik di Perancis.

Pada Maret, mantan perdana menteri Sosialis, Manuel Valls, menyatakan akan mendukung Macron alih-alih kandidat dari partainya sendiri. Setelah putaran pertama, Benoit Hamond sebagai kandidat Sosialis yang gugur pun menyatakan dukungannya, beserta kandidat Republik Francois Fillon. Secara krusial, Macron berhasil menarik sejumlah pemilih pertama dari semua umur.

En Marche, yang baru didirikan pada September lalu, kini punya lebih dari 200 ribu anggota dan pertemuan-pertemuannya menarik massa dalam jumlah yang besar. Dengan basis dukungan yang kuat dari Republik dan Sosialis, Macron melejit ke Istana Kepresidenan Elysee. Kampanyenya mungkin sudah berakhir, tapi pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai. Sebagaimana dikatakan Macron sendiri, "halaman baru dari sejarah kita," telah dibuka.
Brigitte Trogneux, dari Guru Drama Jadi Ibu Negara

Kemenangan Emmanuel Macron dalam Pilpres Perancis 2017 menjadi sorotan internasional. Namun, lampu sorot tidak hanya mengarah pada sang presiden termuda Perancis itu, melainkan juga pada istrinya, Brigitte Trogneux, yang lebih tua 25 tahun dari Macron.

Bukan hanya soal beda usia yang jadi perhatian, tapi juga kisah cinta mereka yang tidak biasa. Trogneux sudah ada dalam hidup Macron sejak dia berusia 16 tahun, pertama sebagai gurunya, kemudian kekasih, istri dan kini, Ibu Negara.

Bahkan, sebelum Macron dinyatakan menang sebagai presiden mengalahkan rivalnya, Marine Le Pen, rakyat Perancis sudah lebih dulu jatuh cinta pada Trogneux. Wanita berusia 64 tahun itu selalu terlihat anggun dan elegan, serta secara jelas menjadi pendukung terkuat sang bankir di Istana Elysee.

"Setiap malam kami akan mengulangi dan menganalisis apa yang kami dengar tentang satu sama lain," kata Trogneux kepada Majalah Paris Match, tahun lalu. "Saya harus memperhatikan semuanya, melakukan segala hal untuk melindungi dia (Macron)."

Dan itulah yang dilakuan Trogneux. Selama kampanye, Trogneux selalu berdiri di belakang Macron. Memberi tahu dunia bahwa mereka pasangan yang kompak, saling mendukung, saling menguatkan. Tapi, sebelum itu, kisah keduanya bagai cerita opera sabun.

Trogneux adalah istri dan ibu tiga anak. Dia mengajar bahasa Perancis, Latin, juga drama di Amiens, kota kecil di utara Perancis, yang juga merupakan kampung halaman Macron. Trogneux, yang lahir pada 13 April 1953 adalah putra pebisnis sukses di Amiens. Keluarganya mengelola bakeri yang menjual kue-kue dan cokelat.

Kehidupan sempurna khas wanita sub-urban dalam film, melekat pada Trogneux. Namun, semua berubah pada pertengahan 1990an, ketika dia menonton akting seorang murid di drama berjudul "Jacques and his Master".

Trogneux yang menganggap Macron berbakat, setuju memberinya pelajaran tambahan untuk kelas drama. Dari situ, hubungan keduanya berkembang. Dua tahun kemudian, Macron melamar Trogneux. Usianya waktu itu 17 tahun dan Trogneux, 42 tahun. "Saat berusia 17 tahun, Emmanuel berkata: Apapun yang kamu lakukan, saya akan menikah denganmu," kata Trogneux.

Orangtua Macron sempat melarang hubungan mereka, dan meminta Trogneux menjauh. Tapi, Macron tetap bersikukuh. Bahkan, ketika hijrah ke Paris untuk melanjutkan studi, Macron tetap berusaha memenangkan hati Trogneux.

Tiga belas tahun berlalu sejak pertemuan pertama mereka dan Trogneux akhirnya menceraikan suaminya, Andre Louis Auziere pada 2006. Dia menikahi Macron setahun kemudian. Pasangan pengantin baru itu kemudian pindah ke Paris. Macron melanjutkan kuliah dan Trogneux, bekerja sebagai guru.

Bagi mereka yang kenal dengan Trogneux, istri Macron itu adalah orang yang ramah dan rendah hati. Dia juga punya optimisme tinggi yang menjadi daya tarik tersendiri. Gregoire Campion, teman Trogneux selama 40 tahun, menyebut dia bukanlah "bintang pesta" tapi "sangat terpelajar."

Trogneux juga disebut sebagai ibu dan nenek yang sangat perhatian. Dari ketiga anaknya, Trogneux punya tujuh orang cucu dan dia kerap menghabiskan akhir pekan bersama mereka. Adapun, soal kemenangan suaminya, Trogneux menjawab diplomatis.

"Saya sangat beruntung bisa berbagi ini bersama Emmanuel. Namun soal politik, saya tidak punya banyak pilihan," ujarnya, sembari menyebut, sebagai Ibu Negara, dia akan lebih banyak fokus menolong kaum muda yang kurang beruntung. (CNN Indonesia/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
13 Kecamatan di Medan Rawan Bencana
Tingkatkan Kualitas dan Kesejahteraan Guru PAUD
Proyek Penimbunan Jalan Provinsi Rp 10 M di Silau Laut Asahan Terancam Tak Selesai
Hakim Cecar Nazaruddin Soal Dugaan Novanto Terima USD 500 Ribu
Pengunduran Diri Ngogesa Sitepu Sebagai Cawagubsu Disahkan Golkar
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU