Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Ipda Tono Listianto STK: Basmi Kejahatan di Binjai, Nantikan Cinta dari Polres Lahat
Minggu, 16 April 2017 | 21:43:37
SIB/Dok
CINTA DI AKPOL: Ipda Tono Listianto STK dan Ipda Marty STK menjalani kisah cinta di Akpol Semarang.
Binjai (SIB) -Berpegang teguh menjalani tugas sebagai polisi dan mempertahankan hubungan cinta, menjadi dua hal berbeda yang tidak mudah dijalankan secara bersamaan. Tapi, hal itu sudah hampir dua tahun dijalani Ipda Tono Listianto STK yang saat ini bertugas sebagai Kanit Pidum Sat Reskrim Polres Binjai.

Kepada SIB, Jumat (14/4), Tono mengaku, setelah menyelesaikan pendidikan dengan pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda), sulung dari 4 bersaudara anak pasangan Sugianto dan Umiyeh itu harus terpisah jauh dengan Ipda Marty (24), taruni cantik yang sekira 4 tahun menjalani pendidikan bersama di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang. Demi tugas, Tono yang ditempatkan di Polres Binjai Polda Sumatera Utara, harus mempertahankan hubungan cinta jarak jauh dengan Marty yang bertugas di Polres Lahat Polda Sumatera Selatan.

Menilik masa lalu, Tono mengaku Marty merupakan anugerah kedua yang diperolehnya, setelah Taruna Akpol. Meski harus sembunyi-sembunyi, akunya, cinta dengan puteri bungsu pasangan Letkol Jauhari Dani SPd dan Nurmala itu telah dijalani sejak masih berpangkat Brigadir Dua Taruna. Cinta itu tumbuh serta berkembang bersamaan dengan sering bertemu saat bertugas di Drum Corps Cenderawasih Akpol. Tono yang merupakan Taruna Akpol asal Malang itu dipercaya menjadi stick master dan Marty sebagai penata rama (Feel Commander).

"Saat itu, saya terpilih melempar stick pertama kali. Hal itu sangat mendebarkan, karena keberhasilannya diperhitungkan untuk menjadi stick master. Nah saat itu, Meti (Marty) yang bertugas sebagai Field Commander memberikan semangat. Alhamdullilah, saya berhasil dan semenjak itu hati ini saya percayakan kepadanya. Bahkan pernah, Meti pingsan karena saya terluka di kepala tertimpa stick saat gagal lakukan atraksi. Cinta yang besar itu jadi landasan saya menjaga hati selama bertugas di Sumut," ujarnya sembari tersenyum.

Ditambahkan, perjuangan cinta semakin terasa berat ketika diberlakukan peraturan tidak boleh ada hubungan asmara antara taruna dan taruni selama pendidikan. Selain dipaksa Komandan Detasemen Taruna (Kadentar) bersumpah untuk putus, Onot (panggilan kecil Tono) juga pernah dihukum pangkas plontos dan dibebani ransel berat karena kedapatan menyimpan foto Polwan yang direncanakannya dinikahinya pada 2018 mendatang. Beruntung, setelah berhasil mempertahankan cinta dengan Marty selama pendidikan, Tono juga berhasil merebut hati dan mendapat restu Letkol Jauhari Dani SPd.

"Meski dalam pendidikan dibuat peraturan tidak boleh pacaran, kami tetap komitmen menjaga hati dan komunikasi aktif setiap ada kesempatan. Selain kecantikan, kebaikan dan perhatian yang Meti berikan selama ini, pengertian dan dukungannya menjadi penambah semangat bagi saya. Kebahagiaan saya komplit setelah ada restu dari ayahnya yang selama ini melarang Meti pacaran. Sulitnya jaga komunikasi dan hubungan itu yang membuat cinta kami tetap bertahan. Jadi, saat ini saya menjalankan tugas melindungi, melayani dan mengayomi masyarakat, sambil menjaga hati menanti dipersatukan dengan cinta saya dari Polres Lahat," aku alumni SMA Taruna Nusantara itu dengan bangga.

Secara pribadi, pria yang sempat phobia hewan melata dan segala makanan dari daging sapi itu mengaku, sejak kecil memang sudah bertekad menjadi polisi. Hal itu berawal dari kekecewaannya ketika seorang oknum polisi memarahi neneknya. Karena pengalaman itu, Tono menjalani hidup dan tugas dengan tidak sombong, sesuai pesan yang disampaikan kedua orangtuanya selama ini. Selain orangtua, Tono mengaku menjadikan sosok Irjen Pol Sambudi Gusdian sebagai panutan.

"Selama taruna, kecelakaan atraksi stick dan penghargaan peringkat 3 jadi bagian pengalaman paling menarik. Sementara, setelah menjadi polisi, saya mendapatkan pengalaman menarik dari pengungkapan sejumlah kasus, serta dipercaya menjadi wakil Polri mengikuti pendidikan kejuruan kejahatan internet (Cybercrime) di China. Bagi saya, Polri memiliki arti kompleks karena mengurusi semua urusan yang berkaitan langsung dengan masyarakat, sebagai pelindung, pelayan dan pengayom masyarakat, sekaligus penegak hukum," ujar pemuda yang ingin bertugas di Subdit Cybercrime Ditreskrimsus Polda Jatim itu.

Ditambahkan, kontribusi maksimal mengikuti pendidikan kejuruan kepolisian dijalaninya pada 2016, antara lain Combatting Cybercrime in Changsa Tiongkok, Financial Criminal Investigation Cosmo Amarrosa di Jakarta, serta Chief of Unit Criminal Training di Bogor. Sebagai Kanit Pidum Sat Reskrim Polres Binjai, sejumlah kasus perjudian dan kejahatan dengan kekerasan di wilayah hukum Polres Binjai berhasil diungkap. (A16/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Gubernur Riau: Rohul Merupakan Daerah Strategis
2 Gajah Mati di Aceh Timur Berusia 10 dan 20 Tahun
Massa Koalisi Transportasi Aceh Tolak Kehadiran Angkutan Online
Banjir di Sungai Dekat Gunung Slamet, Banyak Kendaraan Hanyut
Jumlah Napi Tipikor di Indonesia 3.801 Orang, Paling Banyak di Jatim
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU