Home  / 
Kasus Hoax Ratna, Hanura: Swing Voters Mikir 2 Kali Pilih Prabowo
* Timses Prabowo Tak Yakin
Selasa, 9 Oktober 2018 | 22:23:04
Jakarta (SIB)- Kasus hoax Ratna Sarumpaet diprediksi membuat Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sulit mengambil suara swing voters. Hanura mengatakan swing voters akan berpikir dua kali untuk memilih Prabowo di Pilpres 2019.

"Jangankan hanya kasus Ratna Sarumpaet, kalau Prabowo sendiri yang punya kasus, pasti pendukungnya bakalan bela juga, iya kan? Yang menjadi persoalan adalah swing voters yang jumlahnya masih besar, pasti mikir 2 kali deh untuk milih Prabowo," ujar Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir lewat pesan singkat, Minggu (7/10) malam.

Inas melihat kasus Ratna Sarumpaet berbau konspirasi. Inas memprediksi suara Prabowo-Sandi di Pilpres nanti tak akan bertambah lagi alias sama seperti hasil survei yang dikeluarkan Saiful Mujadi Research Center (SMRC).

"Apalagi kasus Ratna Sarumpaet berbau konspirasi dengan strategi Prabowo yang gak pernah berubah yakni: Rampoklah Tetanggamu yang sedang Kesusahan. Yaitu bikin susah orang yang sedang kesusahan," ujar Inas.

"Percaya deh bahwa angka 28,7% yang diperoleh Prabowo bisa jadi nggak nambah-nambah alias mentok akibat kasus Ratna Sarumpaet," sambungnya.

Tak Yakin
Sementara itu, kubu Prabowo-Sandiaga tak yakin hal tersebut. Apa alasannya?
"Jadi yang perlu disampaikan isu ekonomi yang dirasakan puluhan juta, ratusan juta masyakarat jauh lebih berdampak dibanding kasus hoax yang kemarin menyebar yang notabene kami dari pihak Koalisi Adil Makmur jadi korban juga. Sehingga saya anggap isu itu tidak akan terlalu mempengaruhi karena dia tidak berdampak kepada personal ekonomi warga," kata juru bicara tim Prabowo-Sandiaga, Gamal Albinsaid, saat dihubungi.

Gamal berpendapat persoalan ekonomi akan lebih berdampak pada tingkat elektabilitas. Sementara kasus hoax Ratna Sarumpaet menyangkut personal saja.
Menurutnya, dengan bicara persoalan ekonomi rumah tangga, hal itu justru akan diperhitungkan masyarakat. Sebab, setiap hari masyarakat punya kebutuhan hidup.

"Kalau kasus hoax ini kan berpengaruh Bu Ratna dan beberapa pihak terkait. Kalau kita bicara dapur, jadi bagaimana tiap warga punya masalah di dapurnya masing-masing, dan kalau kita mau menyelesaikan isu dapur di masyarakat, saya pikir lebih baik," ucap dia.

Gamal kemudian menyorot soal penanganan bencana di Nusa Tenggara Barat (NTB) maupun di Sulawesi Tengah. Dia mengaku sempat ke Lombok pada Minggu (7/10) dan mendapatkan kabar soal dana stimulan pemulihan sosial yang belum diterima korban gempa.

"Kita sedang ada bencana di Donggala, Palu, Lombok. Tadi saya ke Lombok. Bahkan ada medianya, itu diberitakan 'Janji Pusat Nyaris Palsu' di Lombok. Jadi ada surat yang beredar dari Kemensos terkait bantuan stimulan pemulihan sosial yang itu menginstruksikan gubernur untuk meminta bupati dan wali kota tidak menjanjikan kepada calon penerima tentang bantuan itu," tuturnya.

Selain itu, Gamal juga menyinggung soal besarnya dana untuk menggelar pertemuan tahunan IMF dan WB di Bali. Dia mengatakan semestinya pemerintah menghemat pengeluaran sehingga ada dana yang bisa dialihkan untuk penanganan bencana di NTB maupun Sulteng.

"Jadi jangan ibaratnya, di rumah dapur kita sedang bermasalah, terus warga kita ada yang bermasalah soal penerimaan bantuan tapi kita pesta pora di ruang tamu kita," kata dia.

Sebelumnya diberitakan, Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan menilai kasus hoax Ratna Sarumpaet tak akan mempengaruhi perolehan suara Prabowo-Sandiaga. Kasus tersebut tidak akan membuat para pemilih Prabowo-Sandi berpaling.

Kendati demikian, menurut hipotesa Djayadi, permasalahan yang timbul akibat kasus eks Jurkamnas Prabowo-Sandi itu adalah, citra Prabowo menjadi negatif. Dengan citra negatif itu, akan mempersulit eks Danjen Kopassus itu meraih suara dari undecided voters atau swing voters.

"Akan sulit bagi dia menambah suara. Itu dugaan saya ya, namanya hipotesis. Harus dibuktikan dengan data," kata Djayadi.

"Jadi citra negatif itu membuat pemilih yang tadinya bisa dibujuk, sekarang jadi mikir-mikir lagi. Dan itu menjadi problem karena menurut berbagai survei, Prabowo itu masih ketinggalan," imbuhnya. (detikcom/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Akademisi dan Politisi Apresisasi Niat Presiden Jokowi Kucurkan Dana Kelurahan
Rutan Labuhandeli Dituding Cemari Lingkungan
Gubsu Edy Rahmayadi Berharap Perbankan Tingkatkan Kredit Pertanian
Menyambut Wisatawan di Danau Toba
Seribuan Jamaah dari Tabagsel Doakan Kapoldasu
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU