Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Pemerhati Pendidikan:
5 Hari Sekolah di Sumut Kurang Efektif, Pola Pendidikan di Kota Berbeda dengan Desa
Senin, 19 Juni 2017 | 23:09:47
Santo Edy Simatupang
Medan (SIB)- Kebijakan baru Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy soal pemberlakuan 5 hari sekolah dalam sepekan di Sumut dinilai kurang efektif diterapkan sehingga perlu dikaji ulang.

Hal itu dikatakan Pemerhati Pendidikan di Sumut Santo Edi Simatupang SSi kepada SIB di Medan, Sabtu (17/6) terkait program Mendikbud menerapkan 5 hari sekolah selama seminggu secara nasional.

Menurutnya, kebijakan Mendikbud menerapkan 5 hari sekolah belum dapat diterima sepenuhnya di Sumut, karena masih belum meratanya pola kegiatan belajar mengajar (KBM) atau proses belajar mengajar (PBM) di seluruh Kabupaten/Kota se-Sumut.

Dikatakan, pihaknya juga menilai sistem dan pola pendidikan yang ada di wilayah pantai barat tidak sama dengan pada wilayah pantai timur di Sumut bahkan pada kawasan perkotaan sangat berbeda dengan kawasan pedesaan dan selalu tertinggal dalam berbagai hal.

Katanya, siswa di pedesaan usai pulang sekolah diharapkan membantu para orangtua bekerja di sawah atau perladangan. Jarak tempuh sekolah dengan rumah di pedesaan, jika pulang sekolah pukul 16.00 WIB jelas membuang waktu perjalanan selama 2 jam sehingga harus tiba di rumah masing-masing pukul 18.00 WIB.
Sementara siswa di kota diarahkan orangtua untuk mengikuti kegiatan tambahan belajar, seperti privat atau kursus Bahasa Inggris atau Bimbingan Belajar (Bimbel) guna mengisi waktu sore hari.

Di sisi lain, lanjut Santo yang juga Pengelola Bimbingan Belajar Sony Sugema College (Bimbel SSC) Sumut, guru mengajar selama 8 jam sehari dan 40 jam seminggu dikhawatirkan tidak mampu dan nyaman melaksanakan tugas mengajar. "Jangan nanti guru mengajar hanya memberikan catatan atau ringkasan terhadap siswa sehingga pembelajaran tidak efektif atau terjadi sistem belajar di sekolah menjadi CBSA (Catat Buku Sampai Abis," tegasnya.  
  
"Kebijakan baru Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy soal sekolah satu hari penuh belum bisa diterapkan di berbagai sekolah di Sumut terutama sekolah negeri, karena fasilitasnya masih kurang memadai. Sementara sekolah swasta pasti bisa dengan kelengkapan fasilitas sesuai dana tersedia di sekolah tersebut," ujarnya.
Sebelum wacana itu dilontarkan Mendikbud, sekolah-sekolah swasta di Medan sudah menerapkan pola serupa dan akan terkendala jika kebijakan tadi tetap dipaksakan untuk diterapkan. "Kemendikbud selalu memaksakan kehendaknya, tanpa mengkaji lebih dulu apa kendalanya. Sarana dan prasarana yang sudah ada saja kita masih jauh dari kata lengkap," ujarnya.

Dia juga menilai, setiap pergantian menteri akan berganti pula pola menjalankan roda kepemimpinan. Namun sayangnya Pemerintah Pusat tidak memikirkan dampak dari kebijakan baru tersebut ke daerah.

Padahal dengan memanfaatkan teknologi informasi sekarang ini sangat mudah guru dan siswa mencari sumber ilmu atau sumber pelajaran. "Mendikbud harus secara nyata menerapkan 5 hari sekolah dan apakah sudah mendukung sarana & prasarana di semua sekolah di Indonesia dengan memenjarakan siswa 8 jam belajar di sekolah dan apakah mereka nyaman belajar dengan fasilitas yang ada di sekolah," tandasnya. (A06/h)




Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sejak Indonesia Merdeka, Jalan Huta Gulping Simalungun Tidak Pernah Diaspal
Warga Nagori Pondok Buluh Audiensi dengan Plt Pangulu, Pertanyakan DD 2017
Dirjen Imigrasi Keluarkan Layanan Antrian Paspor Secara Online
Kapoldasu Hadiri Perayaan Natal Raja Sonang se-Dunia di Pematangsiantar
Pemkab Simalungun Bangun Jalan Menuju Nagori Pinang Ratus
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU