Home  / 
Wisata Hutan Mangrove Baru Favorit Anak Muda di Demak
Minggu, 11 Maret 2018 | 14:20:10
Demak (SIB) -Demak punya hutan mangrove kekinian yang bisa dikunjungi traveler. Pengunjungnya pun kebanyakan anak muda yang gemar selfie dan foto-foto. Asyik pokoknya!

Mengunjungi Ekowisata Rumah Edukasi Silvofishery (Reduksi), di Desa Kedungmutih, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, pemandangan hijau hutan mangrove akan tersaji sejauh mata memandang.

Lokasi hutan mangrove ini berada, tepat di antara perbatasan antara Kecamatan Wedung (Demak) dengan Kedung (Jepara). Jaraknya dari pusat Kota Demak sekitar 35 km. Jika traveler datang dari Kota Jepara, maka jaraknya sekitar 30 km.

Kicau burung liar, ditambah kecipak air saat ada ikan bergerak ke permukaan menjadikan suasana alam kian indah. Di tengah trek (berupa jembatan yang terbuat dari bambu dan kayu), terdapat gazebo yang terbuat dari limbah kayu dan bambu.

Di sisi hutan mangrove, berbatasan langsung dengan Sungai Wulan Drainese (SWD) I, yang dapat dijadikan tempat selfie sembari melihat perahu nelayan yang melintas. Tak berlebihan jika tempat ini menjadi favorit muda-mudi untuk berfoto narsis.

Bukan hanya itu, hutan mangrove mini seluas setengah hektar ini juga sebagai tempat edukasi berkait mangrove dan mitigasi bencana. Ekowisata yang dikelola Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) desa setempat cukup ramai dikunjungi wisatawan lokal.

Ketua Sibat Desa Kedungmutih, Husni Walid menuturkan hutan mangrove tersebut mulanya adalah program dari Amcross 2016-2017 dengan penanaman 25 ribu pohon.

"Setelah penanaman itu, kami kemudian mengembangkan menjadi ekowisata edukasi tentang mangrove dan mitigasi bencana," ujarnya saat ditemui di lokasi ekowisata Reduksi, Kamis (1/3).

Hutan mangrove yang tumbuh subur kemudian dibuat trek dan sejumlah sarana lain seperti gazebo, tempat selfie, pembelajaran pembibitan dan penanaman mangrove. Selain itu ada kafe yang dijadikan tempat materi pembelajaran bagi pengunjung.

"Kami juga lengkapi dengan papan-papan berisi pengetahuan tentang mangrove," lanjutnya.

Husni menambahkan, edukasi diberikan bagi pengunjung pribadi maupun kelompok seperti siswa sekolah. Tidak mahal, untuk masuk ke sini hanya seharga Rp 2.000 per orang. Jam bukanya dari pukul 08.00 sampai jam 17.00.

"Wisatawan yang masuk dapat belajar mulai dari mengenal mangrove, pembibitan, penanaman serta mitigasi bencana. Materi diberikan langsung dari Sibat," paparnya.

Di hutan ini, tutur Husni, ada lima jenis mangrove. Yakni bakau panjang, bakau pendek dan bakau pendek merah. Dua lagi bakau api-api dan bakau Rhizophora Apiculata.

"Kalau untuk khusus edukasi kami tarif Rp 15 ribu per orang ditambah untuk ke Pulau Tirang, yang ditempuh sekitar 15 menit dari lokasi," ungkapnya.

Siti Nur Rohmah (16), pengunjung dari Kecamatan Tahuhan Kabupaten Jepara mengaku baru kali pertama berkunjung setelah mendapat informasi dari temannya.

"Dapat kabar dari teman, terus saya datang ke sini. Tempatnya bagus buat foto. Tapi sarana dan prasarana perlu dilengkapi terutama toilet," tandas dia. (detikTravel/q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU