Home  / 
Fenomena Batu Bersusun Juga Ada di Papua dan Himalaya
Minggu, 11 Februari 2018 | 13:12:35
Jakarta (SIB) -Baru-baru ini heboh soal batu bersusun yang banyak jumlahnya di Sukabumi dan dihancurkan. Kalau di ilmu pendakian, batu bersusun ada artinya lho!

Ada 90 paket batu bersusun yang berjejer rapi di aliran sungai Kampung Cibojong, Desa Jayabakti, Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat. Peristiwa itu kemudian viral di media sosial sejak 1 Februari 2018 lalu.

Sebabnya, ada beberapa orang yang mengaitkan hal tersebut dengan isu mistis. Pemerintah setempat langsung menghancurkan susunan batunya dengan dalih agar tidak ada keresahan di masyarakat.

Setelah diselidiki, ternyata ada sekelompok anak muda yang sengaja menyusun batu-batu tersebut. Kejadian serupa pun disebut pernah terjadi di lokasi lain sebagai bentuk ajakan menjaga kelestarian lingkungan.

Soal batu bersusun, fenomena semacam itu rupanya sudah lazim bagi para pendaki gunung. Susunan batu merupakan suatu penunjuk jalan.

"Kalau di gunung-gunung yang treknya berbatu, memang ada batu bersusun sebagai penunjuk jalan," ujar Ardeshir Yaftebi, salah seorang pemandu dari Indonesian Mountain Specialist (IMOSA), Senin (5/2).

Ardeshir bukanlah pendaki sembarangan. Dirinya pernah menjabat sebagai ketua tim ekspedisi Indonesia Seven Summit Expedition di tahun 2012. Dia sudah berdiri di 5 puncak tertinggi dari Seven Summit dunia yaitu Carstensz, Elbrus, Kilimanjaro, Aconcagua dan Vinson Massif.

Ardeshir menjelaskan, trek berbatu yang dimaksud adalah suatu medan pendakian yang tidak ada lagi pepohonan atau semak belukar. Hanya ada batu dan tanah saja, contohnya seperti di Papua atau di trek-trek pendakian Pegunungan Himalaya.

"Di trek menuju Puncak Carstensz, Papua kalau dari New Zealand Pass ke Basecamp itu ada beberapa batu bersusun. Di Lembah Kuning (kaki Puncak Carstensz-red), juga treknya berbatu dan ada batu bersusun untuk penunjuk jalan. Di Himalaya juga banyak," terangnya.

Siapa yang membuat batu-batu itu?
"Yang membuatnya para pendaki. Biasanya dibuat tinggi sampai terlihat dari jarak 100 meter agar kita tahu harus jalan lewat mana. Tapi kalau yang di Himalaya, susunan batu setahu saya juga dipakai untuk berdoa orang setempat," papar pria asal Aceh ini.

Menurut Ardeshir, jika tidak ada susunan batu maka bisa membuat para pendaki tersesat. Sebab trek berbatu yang hanya ada bebatuan dan tanah, tidak dapat ditentukan suatu penanda jalan misal pohon, sungai, semak belukar dan sebagainya.

"Kalau di gunung-gunung di Pulau Jawa, jarang sih saya temukan susunan batu sebagai penunjuk jalan. Mungkin kalau ada, bisa jadi dibuat oleh orang-orang dengan kreatifitas yang tinggi," ujarnya. (detikTravel/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
AJI: Rapor Indonesia Masih Merah untuk Kebebasan Pers
BEM Nusantara Dukung Bawaslu Sumut Larang Paslon Kampanye Terselubung di Rumah Ibadah
Lawan Hoax! Laporkan Jika ASN Langgar 6 Hal ini di Medsos
Wapres AS Posting Pertemuan dengan Pengurus NU, Bahas Lawan ‘Jihad’
Pergeseran Pola Kelompok Radikal Sebabkan Wanita Aktif dalam Aksi Terorisme
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU