Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Kisah Perempuan Lansia Pengangkut Batu dan Pasir di Wisata Kalibiru
Minggu, 12 November 2017 | 18:37:21
Kulonprogo (SIB)- Suasana cukup terik saat saya mengunjungi Wisata Alam Kalibiru di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, pada Jumat (3/11) sekitar pukul 14.00 WIB.

Bila dibandingkan hari libur bahkan libur panjang, saat itu tak banyak wisatawan yang berlalu lalang. Beberapa wisatawan nampaknya berasal dari negeri tetangga Malaysia dan Singapura.

Saya terus berjalan mengikuti medan yang menanjak dari loket pembelian tiket hingga bangunan pendopo. Di sana saya beristirahat sejenak. Ketika itu pula, ada beberapa wanita yang sudah lanjut usia tampak beberapa kali berjalan memikul sesuatu.

Penasaran, akhirnya saya mendekati mereka demi bisa melihat apa yang dibawa oleh segerombol ibu-ibu itu. Saat melongok, ternyata mereka mengangkut sebongkah batu dan pasir untuk bangunan.

Rasa lelah pun tak terpancar dari wajah perempuan-perempuan itu. Mereka berulang kali mengambil batu dan pasir, kemudian menaruhnya di dekat tempat yang akan dibangun. Terus menerus mereka lakukan sambil bercengkrama dengan kawan lainnya.

Mereka adalah warga asli sekitar Wisata Alam Kalibiru yang mengadu nasib di sana. Bekerja untuk sekedar mencari nafkah memenuhi kehidupan sehari-hari.

Pengelola Wisata Alam Kalibiru, Sudadi mengatakan beberapa ibu-ibu itu memang bekerja untuk membantu membangun fasilitas yang ada di Kalibiru.
"Ini semua orang-orang Kalibiru. Mereka minta diberikan pekerjaan, seperti ini angkat pasir mereka yang kerjakan untuk membangun fasilitas kami," ujar Sudadi saat ditemui di Wisata Alam Kalibiru beberapa waktu lalu.

Salah satu perempuan yang ikut melakukan pekerjaan tersebut adalah Nainem (67). Perempuan yang sudah ditinggalkan suaminya ini mengaku mencari uang untuk bertahan hidup.

"Sebagian ada yang kerja bakti, sebagian diberi (upah) untuk beli minum ya Rp 50 ribu sehari," kata Nainem.

Ia mengatakan, terkadang upahnya belum bisa menutupi kebutuhan sehari-hari. Namun, Nainem tak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang terpenting bagi dia hanyalah bekerja.

Hari itu ada sekitar delapan perempuan rekan Nainem yang bekerja. Nainem mengatakan, sebelumnya ada 16 orang yang bekerja seperti dirinya. Jika pekerjaan banyak, tentu membutuhkan sumber daya manusia yang lebih banyak pula.

Sementara itu, Sakinem (65) yang juga mengangkut batu dan pasir mengatakan ia bekerja untuk membantu suaminya yang sudah tua. Pekerjaan tersebut sudah dilakukannya sejak tahun 2010.

"Udah lama kerja di sini. Setiap hari kerja dari jam 08.00 WIB sampai jam 15.00 WIB," kata Sakinem.

Lalu, Sudadi pun menjelaskan, perempuan lansia itu memiliki keinginan yang sangat baik. Mereka ingin membangun tempat wisata tersebut menjadi bekal kelak untuk anak dan cucunya nanti. (Kps/d)


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Menpar Tinjau Kesiapan Bandara Internasional Silangit
Takut Ditangkap, Taipan Arab Saudi Pindahkan Harta ke Luar Negeri
Presiden Jokowi Belum Putuskan Robert Pakpahan Jadi Dirjen Pajak
Novanto Tegaskan Dirinya Masih Ketua DPR
Kereta Kencana dari Solo Ikuti Geladi Kirab Kahiyang-Bobby di Medan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU