Home  / 
Pentingnya Asuransi Bencana Alam
* Oleh: Parlindungan Purba (Wakil Ketua Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Senator Provinsi Sumatera Utara)
Sabtu, 20 Oktober 2018 | 14:58:01
Bencana alam menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Bencana alam menjadi beban ekonomi dan sosial dalam kehidupan bila tidak ditangani secara baik. Instrumen untuk memitigasi bencana alam dan merecovery dampak bencana alam sangat diperlukan, salah satunya adalah dengan asuransi bencana alam. 

Faktor Pendorong
Kenapa asuransi bencana alam? Setidaknya ada empat alasan. Pertama, Indonesia berada di jalur ring offire (cincin api). Jumlah gunung berapi di Indonesia adalah yang terbanyak di dunia. Di Indonesia tercatat ada sekitar 130  gunung berapi. Jumlah ini merupakan 10% dari jumlah keseluruhan gunung aktif di dunia. Lebih lanjut, dari 130 gunung berapi tersebut, 17 di antaranya masih aktif.

Lokasi di atas cincin api diperparah dengan letak kepulauan Indonesia di pertemuan empat lempeng tektonik, yakni lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Hal ini memungkinkan sering terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami di Indonesia. Berdasarkan data dari United States Geological Survey (USGS) tercatat sejak 1916 hingga 2015, telah terjadi 161 kali gempa dengan skala 7 Mw (magnitudo momen). Sedangkan gempa dibawah 7 Mw tercatat telah terjadi sebanyak ribuan kali. Selama rentang waktu tersebut, gempa Aceh pada 2004 adalah gempa terbesar. 

Faktor kedua perubahan iklim. Perubahan iklim telah membawa negara-negara di iklim tropis lebih dekat dengan bencana. Perubahan iklim hasil dari pemanasan global telah memberikan kerugian kepada sektor pertanian dan sektor ekonomi lainnya. Kerugian tersebut disebabkan oleh bencana banjir yang jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan pada tahun 2002 tercatat 143 bencana alam. Angkanya meningkat menjadi sekitar 2.342 bencana pada tahun 2016. Dari jumlah bencana alam yang ada tersebut, mayoritas disebabkan oleh bencana hidrometeorologi (bencana yang terkait dengan iklim). 

Gempa yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu diperkirakan menimbulkan kerugian sebesar Rp8,8 triliun. Pun dengan kerugian gempa dan tsunami di Palu, Donggala, dan Sigi, Sulawesi Tengah, tidak main-main setara Rp10 triliun. Data BNPB menunjukkan kerugian akibat bencana pada periode 2004-2013 diprediksi mencapai Rp126,7 triliun.

Faktor ketiga, Indonesia menjadi negara dengan tingkat under insurance yang paling jelek (nomor 2 dari bawah setelah Bangladesh). Indonesia bersama dengan Hongkong, Polandia, Kolombia, Thailand, Brazil, Mexico Chile, China menjadi negara dengan kategori coverage asuransi yang kurang. Di sisi lain, Belanda, New Zealand, Amerika Serikat, Kanada dan Jerman masuk kategori negara dengan coverage asuransi tinggi. Fakta ini menjadikan asuransi masih memiliki potensi pasar yang luas, termasuk asuransi bencana alam.

Faktor keempat, sebagai trigger untuk meminimalkan dampak kerugian bencana. Artinya, apabila sebuah objek akan diasuransikan dalam skema asuransi bencana, maka objek tersebut setidaknya memenuhi syarat tidak memiliki risiko bencana karena kesengajaan. Misalnya sebuah objek bangunan yang hendak diasuransikan, maka pembangunannya secara ketat memenuhi ketentuan tata ruang agar bencana bisa dimitigasi. 

Negara Lain
Di Turki, Turkish Catastrophe Insurance Pool (TCIP) yang didirikan pada 2000 ditugaskan untuk menjadi penanggung bagi risiko gempa bumi pada rumah penduduk. Pemerintah Turki mewajibkan asuransi gempa bumi pada bangunan berupa rumah, ruko dan apartemen. Sebagai informasi, tahun 2000, dengan limit harga pertanggungan 50.000 dolar AS, premi tahunan sebesar 47 dolar AS. Terbilang murah. 

Adanya kewajiban asuransi bagi bangunan seperti yang disebutkan, menjadikan pembangunan dan tata letak/ruang bangunan lebih tertata, mengikuti ketentuan tata ruang yang ada. Alhasil bencana alam yang disebabkan oleh kesalahan manusia (longsor, banjir bandang) bisa lebih tereliminasi.

Bagi Indonesia, hingga sekarang asuransi bencana alam sudah ada, namun terbatas. Semisal asuransi yang melekat pada kendaraan bermotor terhadap ancaman banjir. Namun demikian, coverage-nya masih minim dan belum menjadi arus utama industri asuransi nasional. 

Lebih lanjut, penanganan bencana dianggarkan dari dana pemerintah. Hal ini diatur dalam UU Nomor 20 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pasal 60. Bunyi pasal tersebut adalah ayat (1) Dana penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah. Selain dana dari pemerintah, dana penanggulangan bencana juga diusahakan dari masyarakat. Hal ini tercantum dalam ayat (2) pasal yang sama yang berbunyi pemerintah dan pemerintah daerah mendorong partisipasi masyarakat dalam penyediaan dana yang bersumber dari masyarakat.

Namun demikian, sebelum adanya UU Nomor 20 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, sejak 2005 di APBN telah dialokasikan dana penanggulangan bencana dalam Bagian Anggaran Bendahara Umum (BA. BUN). Meski telah dicadangkan, dana penanggulangan bencana tersebut terbatas untuk menanggung total kerugian dan kerusakan yang disebabkan oleh kejadian bencana. 

Menurut hemat penulis, rencana pemerintah dalam menerapkan peta jalan strategi pembiayaan dan asuransi risiko bencana sangat relevan. Sangat penting mengasuransikan barang milik negara, terutama gedung perkantoran dan pendidikan. Dengan begitu, negara akan sangat terbantu dalam memulihkan keadaan pascabencana.

Hingga saat ini, pihak legislatif melalui inisiatif  Komite II Dewan Perwakilan Daerah RI terus mendorong adanya Rancangan Undang-Undang (RUU) Asuransi Bencana Alam.  Usulan RUU diharapkan bisa menjadi dasar hukum bagi pelaksanaan industri asuransi bencana alam di Indonesia. 

Dalam RUU ini diatur mengenai ketentuan-ketentuan asuransi bencana alam dan keterlibatan pemerintah. Keterlibatan pemerintah di sini terutama untuk penanganan jenis bencana dengan Probable Maximum Loss sangat besar semisal asuransi gempa bumi. Kehadiran UU tersebut diharapkan bisa menjadi alternatif bagi semua stakeholder dalam menyikapi bencana alam yang sudah semakin akrab dengan masyarakat Indonesia.

Namun demikian, perlu disadari bahwa usulan RUU sangat panjang dan berliku. Oleh karena itu diperlukan peraturan lain yang bisa mengakomodasi dan mendorong agar asuransi bencana masuk dalam skema pembiayaan penanggulangan bencana. Sebenarnya pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 22  Tahun 2008 Tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana. Aturan ini merupakan turunan dari Pasal 63 UU No. 20 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengamanatkan pengaturan mekanisme pengelolaan dana penanggulangan bencana. 

Pasal 4 PP No. 22 Tahun 2008 menyebutkan dana penanggulangan bencana menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah (ayat 1) dan bersumber dari APBN, APBD, dan atau masyarakat (ayat 2). Dalam pasal tersebut disebutkan hanya dana dari APBN, APBD dan atau masyarakat yang menjadi dana penanggulangan bencana. Menurut hemat penulis, perlu ditambahkan dana asuransi.

Penambahan klausul dana asuransi dalam PP tersebut akan berimplikasi pada semakin bergairahnya sektor asuransi di Indonesia. Selain itu, penambahan klausul tersebut akan mendorong perkembangan sektor jasa konstruksi menuju pada adopsi konstruksi bangunan yang mengadopsi potensi bencana seperti di Jepang. Keduanya akan berjalan beriringan tanpa saling memberatkan. Bagaimanapun juga, sebuah objek yang akan diasuransikan harus memenuhi kriteria khusus yang ditetapkan. Tujuan akhirnya adalah dampak kerusakan akibat bencana bisa diminimalkan. Kerugian pun bisa ditekan. Semoga. (q) 

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sekdaprovsu Buka Sosialisasi E-Formasi Pemprovsu, Sistem Transparan Lindungi Pegawai
Timses Jokowi Balas PAN: Narasi Ekonomi Prabowo-Sandi Cuma Jargon
Jaksa Kembalikan Berkas Nur Mahmudi ke Polisi
Kebakaran di Kementerian Pertahanan, 11 Mobil Pemadam Dikerahkan
3 Bulan Ditahan KPK, Idrus Marham Pamer Bikin Buku
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU