Home  / 
Krisis Korupsi Akibat Minimnya Spiritualitas
* Oleh P Moses Elias Situmorang OFMCap (Pastor dari Ordo Kapusin Medan dan Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, Pematang Siantar)
Rabu, 26 September 2018 | 16:22:19
Apa sebenarnya yang kurang lagi di negeri ini? Hasil hutan, perkebunan, laut, dan pertambangan  melimpah.  Keindahan alamnya sangat mempesona yang  mampu memikat hati jutaan turis manca negara yang setia datang berkunjung setiap tahunnya. Sekalipun demikian, jutaan rakyatnya masih tergolong miskin  dan menderita. Utang negara menggunung. Sangat ironis. Indikasi ini menunjukkan bahwa jelas ada masalah dalam pengelolaan keuangan negara atau semuanya berpulang karena negara salah urus. Bahasa kasarnya adalah KORUPSI sudah berurat berakar dari tingkat birokrasi  rendah sampai yang paling tinggi. Seperti bunyi sebuah iklan, negeri ini belum juga putus hubungan dengan korupsi. Praktek lipat-melipat uang terus berdenging menjengkelkan di telinga publik. Kas negara bertubi-tubi dihisap dan dinikmati oknum-oknum tertentu. Uang yang berasal dari masyarakat berupa pajak  dan penerimaan negara lainnya  tidak tepat sasaran. 

 Perkataan latin corruptio berarti pembusukan, kerusakan, kemerosotan dan penyuapan. Maka seorang yang koruptor sebenarnya adalah orang yang busuk. Seorang yang melakukan korupsi sebenarnya adalah orang yang busuk. Dan setiap yang busuk mesti dibuang atau diberantas.  Korupsi tetapi tidak dapat dipandang lepas dari kekuasaan serta strukturnya. Jadi bukan masalah pejabat ini atau itu, melainkan masalah kedudukan. Maka orang, yang hari ini menuntut koruptor supaya ditindak, tidak jarang besok sudah menjadi koruptor sendiri, asal kesempatan terbuka baginya. Pemberantasan korupsi bukan hanya masalah kemauan dan proses hukum (yuridis) dengan bukti di pengadilan, melainkan lebih-lebih masalah kepribadian dan ketabahan. Korupsi hanya dapat ditekan kalau kita bersama-sama mengontrol jalannya pemerintahan  dan terutama kuatnya mental spiritual. 

Kerakusan
Kondrad Lorenz, seorang ahli filsafat abad modern  mengenakan istilah agresivitas pada kekerasan dalam kaitan untuk menguasai dan memiliki seperti  bagaimana binatang buas melakukan   pembunuhan agar tetap survival dan berkuasa. Bagi Lorenz kata aggredior berarti keterlibatan aktif yang mengikat, menjalankan tugas atau memecahkan persoalan. Perilaku tersebut melulu merupakan dorongan untuk terlibat, menguasai atau mengendalikan lingkungan dan dengan demikian, memperoleh sesuatu yang dibutuhkan bagi perjuangan hidup. Agresivitas ada dalam diri seitap orang yang  mendorong  "will to power" keinginan untuk berkuasa. Will to power merupakan perjuangan lanjut demi eksistensi, untuk 'meninggikan' diri sendiri, dan  sasaran akhir agresivitas adalah untuk mencapai kekuasaan  semu (A.Storr, Human Destructivenes, New York, 1975).

Kompetisi dalam mengejar will to power terjadi pada semua level kehidupan, dari sperma di dalam sistem genital perempuan, hingga persaingan kaum pria demi afirmasi status, independensi, dan signifikansi. Melalui kompetisi manusia mencari status dan prestise, berkompetisi dalam turnamen-turnamen, money politics dalam perolehan suara, memenuhi kebutuhan-kebutuhan akademis, atau mau mencapai suatu insight transendental dalam kodrat Tuhan. Dalam arti ini power merupakan keyakinan personal bahwa seseorang bernilai berkat pengakuan dari yang lain. Sedangkan aksi merupakan bentuk penegasan diri individual seseorang dalam memperoleh power atas aneka macam kekuatan di luar dirinya. Tidak jarang dalam mewujudkan aksi, kekuatan sering harus digunakan dan kematian kadang-kadang tidak terelakkan.

Kekerasan bukanlah hasil logis dari agrevitas yang kompetitif. Kekerasan berakar dalam keseluruhan kebutuhan manusia untuk bertindak demi perjuangan hidup;  sesuatu yang ekslusif dari hasil kecerdasan manusia dan yang berperan sebagai suatu solusi alternatif atas persoalan eksistensi. Kekerasan merupakan reaksi terhadap ketakberkuasaan, ketakberdayaan atau ketidakmampuan untuk 'menjadi'. Kekerasan terjadi bila seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya demi power dengan cara-cara normal. Sederhananya kekerasan merupakan ekspresi ketidakmampuan atau ungkapan ketakberdayaan. Aksi-aksi kekerasan memberikan kepada individu suatu cita rasa power yang pada gilirannya menganugerahkan kepadanya suatu cita rasa makna dan identitas. 

Kekerasan tidaklah pararel dengan agresivitas, tetapi merupakan alternatif pada agresitvitas. Potensi untuk kekerasan berkembang seperti agresivitas berkembang dalam penyimpangan. Itulah sebenarnya ketidakwajaran dan produk jahat dorongan hakiki manusia pada kehidupan untuk melakukan yang jahat. Manusia jahat, manusia keras potensial bagi setiap orang bila tidak diolah dengan baik. Kemarahan, kecemasan, kebosanan, keputusasaan, kenekatan dan frustrasi yang tak terkendalikan, semua ini merupakan 'keniscayaan' yang memaksa orang-orang bereaksi dengan cara kekerasan untuk mengamankan kebutuhan-kebutuhan pokok dan mendasar yang tak dapat diperolehnya. Karena itu untuk mengurangi supaya tidak terjadi agresivitas dalam bentuk kekerasan perlu dibangun sikap dan kemauan untuk saling mau berbagi, peduli dan saling menghormati sekalipun berbeda suku, agama, ras dan keyakinan dan dengan   terus-menerus mengumandangkan  dan mengatakan "tidak" pada setiap usaha pelecehan kehidupan. 

Pentingnya Spritualitas
Spiritualitas adalah nama lain dari Teologi  yang dibedakan dari teologi dogmatik. Spiritualitas pada umumnya dimaksudkan sebagai hubungan pribadi seorang beriman dengan Allah-nya dalam  aneka perwujudan dan perbuatan. Spritualitas dapat juga dirumuskan sebagai 'hidup berdasarkan kekuatan rohani dengan secara metodis mengembangkan iman, harapan, dan cintakasih. Dalam kapasitas sebagai kaum awam spiritulitas  dapat diartikan sebagai kehidupan rohani yang menyanggupkan seseorang menghayati dan mengamalkan imannya dalam tindakan baik dan benar serta keberanian untuk menyuarakan ketidakadilan.
 
Orang yang memiliki "spiritualitas"  yang kuat akan mampu mengakui ada yang baik di dunia ini dan sekaligus keterbatasan dunia ini. Dalam arti lain "spritualitas" dapat juga diartikan sebagai semangat. Karena itu spiritualitas dapat juga diartikan sebagai bentuk konkret cara menghidupi kitab suci  maka atas dasar ini juga spiritualitas terarah pada pengalaman rohani atau pengalaman akan Yang Ilahi. Pengalaman di sini berarti mengenal dari dalam batin kehadiran dan aksi Yang Ilahi. Spiritualitas selalu berkaitan dengan keadilan dan salah satu perwujudan keadilan adalah kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat. Spiritualitas yang kuat dapat membuat dan menumbuhkan karakter yang kuat dalam diri seseorang.

Spritualitas dan moralitas yang minim akan membuat seseorang atau masyarakat kehilangan arah hidup dan mudah jatuh pada kenikmatan semu.  Ibarat seseorang yang tidak bisa berenang lalu tercelempung ke sungai yang dalam dan luas. Pertama-tama ia melawan. Setelah itu tubuhnya tenggelam. Karena tidak bisa lagi bernapas maka ia meninggal. Anehnya setelah meninggal tubuhnya mengapung di permukaan air. Dan alasan utama mengapa tubuh manusia meninggal kemudian mengapung karena ia berhenti melawan. 

Dalam hal ini pantas disitir ungkapan seorang filsuf besar abad 20,  Soren Kierkegaard, "bila boleh aku menginginkan bagi diriku, maka yang kuinginkan bukanlah harta atau kuasa, melainkan hasrat untuk meraih kesejahteraan bersama. Aku ingin mempunyai mata yang selalu muda dan selalu cerah terbuka bagi kerinduan untuk melihat apa yang mungkin bagi kesejahteraan bersama." Kesejahteraan bersama itu hanya mungkin kalau masing-masing orang yang diserahi tugas dan tanggungjawab seperti anda, memiliki pribadi berkualias. 

Seorang pemimpin  yang  berkualitas lahir dari pribadi yang  memiliki  spiritualitas mumpuni  yakni  kuat  fisik, rohani  dan moral. Kuat fisik maksudnya kuat jasmaninya-tidak gampang pilek kalau kena hujan atau masuk angin (tidak rentan penyakit ); kuat rohani  artinya cekatan, tangkas, kreatif dan mampu merumuskan sesuatu yang rumit menjadi sederhana serta berani berkorban.  Kuat moral maksudnya adalah  mampu memegang dan  menjalani hidup sederhana (ugahari) dan tak mudah berubah hanya karena perubahan status. 

Kuat fisik, rohani dan moral merupakan penentu dan pengarah  pada eksistensi  tindakan-tindakan  seorang  pemimpin. Dalam konteks ini spiritualitas  patut dimengerti sebagai  daya batin yang menggairahkan. Seorang yang memimilik spiritualitas  seperti  terbakar, berkobar tetapi tidak selalu harus berkoar-koar; tidak gampang bahkan seolah tidak pernah akan tergeletak terkapar sekalipun ada rasa gusar. Spiritualitas yang mantap akan memampukan seseorang   menjalani hidup dengan makna, tujuan dan arah  langkah yang pasti. Spiritualitas  memberi kemampuan dan kemauan untuk bertempur melawan kejahilan dan kejahatan diri dan lingkungan dengan berani mengusahakan kesejahteraan dan kemajuan bagi orang lain biarpun dengan pengorbanan. (c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pemprovsu Tak Bisa Bantu Keberangkatan Tim ke Pesparani Katolik di Ambon
Biaya Kampanye Politik di Indonesia Sangat Mahal
Kapolda: Terduga Teroris yang Tewas di Tanjungbalai Jaringan Syaiful
Pemilih Milenial Dinilai Cenderung Cuek Pada Politik
Arab Saudi Akui Jurnalis Khashoggi Terbunuh
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU