Home  / 
2018 IMF-World Bank Annual Meeting di Bali
Indonesia dalam Panggung Ekonomi Dunia
* Oleh Randy Matius Bintang STr.Ak * (ASN di Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan)
Selasa, 4 September 2018 | 15:29:04
Bulan Oktober 2018 nanti, Indonesia akan menjadi tuan rumah dari penyelenggaraan International Monetary Fund (IMF)-World Bank (WB)Annual Meeting yang akan diadakan di Bali. Diadakan sejak tahun 1946 di Washington, pertemuan ini diadakan setiap tahun untuk mendiskusikan perkembangan ekonomi dan keuangan global seperti pengurangan kemiskinan dan pembangunan ekonomi internasional. Dalam bidang keuangan, pertemuan ini akan menjadi pertemuan keuangan paling besar yang pernah diselenggarakan di Indonesia. Sejak pertama diadakan pada tahun 1964, ini kali pertama Indonesia menjadi tuan rumah. 

Pertemuan tahunan ini biasanya diadakan di Washington, AS selama dua tahun berturut-turut, baru kemudian pada tahun ketiga diadakan di Negara anggota.  Pertemuan ini akan diikuti oleh seluruh Dewan Gubernur IMF dan World Bank, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari 189 negara, investor di industri keuangan, dan lembaga internasional. Dengan total peserta sebanyak 12.500 hingga 15 ribu orang, IMF-WB Annual Meeting dipastikan menjadi perhelatan terbesar di Indonesia tahun ini di samping Asian Games 2018 yang telah sukses dilaksanakan. 

Memanfaatkan Momentum Ekonomi
Sekitar 15.000 delegasi dari seluruh dunia, pertumbuhan ekonomi di Bali akan meningkat drastis. Angka ini belum memperhitungkan tingkat kedatangan wisatawan regular yang datang ke pulau dewata tersebut. Tingkat okupansi hotel akan meningkat tajam, bahkan mungkin saja penuh. Sektor transportasi akan sangat dibutuhkan untuk mobilitas peserta sehingga meningkatkan permintaan. Demikian juga dengan tempat wisata dan penjual cinderamata akan mengalami peningkatan penjualan. Peningkatan pendapatan masyarakat di Bali akan merangsang mereka untuk menaikkan produksinya dan meningkatkan belanjanya lagi sehingga ekonomi terus berputar. Efek ini dinamakan multiplier effect.Belum lagi peningkatan penerimaan pajak daerah melalui pajak restoran dan hotel yang terpengaruh langsung peningkatan permintaan. Dalam jangka pendek, pertumbuhan ekonomi sudah dipastikan akan terjadi di Bali. Namun, Indonesia lebih dari sekadar Bali.

Pada tahun 2016, lembaga keuangan internasional JP Morgan mengeluarkan rilis menurunkan peringkat surat utang Indonesia sebanyak dua tingkat dari overweight menjadi underweight. Tidak sependapat dengan hasil riset yang dilakukan dealer keuangan tersebut, Menteri Keuangan kemudian mencabut kontrak kerjasama dengan JP Morgan melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan. Tegasnya pemutusan kemitraan tersebut menunjukkan bahwa kredibilitas perekonomian Indonesia sangat penting bagi pemerintah untuk menjaga iklim investasi yang sedang bertumbuh. Pertumbuhan ekonomi yang sehat kemudian dibuktikan dengan peringkat "Investment Grade"(layak investasi)yang diberikan oleh lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor's (S&P). Rating yang baik ini mencerminkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di dunia. Karena kepercayaan tinggi itu jugalah maka IMF menunjuk Indonesia sebagai penyelenggara Annual Meeting tahun 2018. Indonesia harus menggunakan momentum pertemuan ekonomi dan keuangan terbesar di dunia ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam dunia bisnis dan keuangan, kredibilitas merupakan hal yang sangat penting. Masih segar di ingatan kita bagaimana awal mula Yunani bangkrut karena investor tidak percaya lagi dan berhenti membeli surat utang yang diterbitkan negeri para dewa ini. Akibatnya, Yunani kekurangan dana segar untuk memperbaiki ekonominya, khususnya untuk membayar utang yang sebelumnya. Pada 2015, Yunani dinyatakan gagal bayar (default). Utang, jika digunakan dengan tepat dan terukur, dapat menjadi instrumen yang sangat efektif untuk menggerakkan ekonomi apabila pendapatan negara tidak cukup untuk membiayai belanja negara. Tepat berarti utang dialokasikan untuk pembangunan prioritas dan produktif (menghasilkan), sedangkan terukur berarti komposisi jumlah utang dalam neraca keuangan negara masih dalam kondisi sehat sehingga tidak terlalu membebani APBN berikutnya. Dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat dan pemerintah dunia pada Indonesia, nilai tawar Indonesia dalam transaksi Indonesia akan semakin tinggi juga. Hal ini akan memudahkan kita apabila kita membutuhkan utang luar negeri sewaktu-waktu untuk pembiayaan defisit anggaran. Dikelola secara tepat sasaran dan prudent, rasio utang Indonesia masih terbilang rendah dan sehat dengan angka di bawah 30% dari Produk Domestik Bruto sesuai amanat Undang-Undang.

Apakah peluang ekonomi hanya berasal dari kemudahan utang saja? Tentu tidak. Indonesia dapat menarik investor untuk berinvestasi di Indonesia melalui Foreign Direct Investment. Di depan pengusaha dan pebisnis internasional melalui 2018 IMF-WB Annual Meeting, Indonesia dapat menyuguhkan keuntungan-keuntungan jika berinvestasi di Indonesia. Beberapa tahun terakhir, pemerintah telah menetapkan berbagai kebijakan untuk mempermudah dan "merayu" para investor luar negeri untuk menanamkan modal di Indonesia. Peningkatan infrastruktur, penerapan tol laut, dan simplifikasi prosedur administrasi dalam berinvestasi dilakukan untuk meningkatkan kemudahan berbisnis (ease of doing business/EODB) di Indonesia. Dampak positifnya sudah terlihat, di mana peringkatEODB Indonesia pada tahun 2018 adalah 72 dari 190 negara. Sejak 2016, Indonesia telah naik 34 peringkat hanya dalam waktu dua tahun! Selain peningkatan sarana dan prasarana, Indonesia juga telah memberikan insentif pajak untuk menarik investor, yakni melalui pengurangan pajak (Tax Holiday) hingga 100% yang akan diberikan bagi pemodal di berinvestasi di industri pionir selama 5-20 tahun sesuai jumlah investasinya. Indonesia juga dapat menawarkan kerja sama dengan para pengusaha tersebut untuk membangun proyek-proyek nasional yang menguntungkan melalui skema Public-Private Partnership/PPP (Kerjasama Pemerintah-Badan Usaha/KPBU) apabila BUMN atau BUMS di Indonesia tidak memiliki cukup modal untuk pengerjaan proyek tersebut. Selain menguntungkan, konsep PPP juga sangat bermanfaat sebagai sarana transfer of knowledge untuk sumber daya manusia di Indonesia.

Momen ini juga dapat dimanfaatkan untuk peningkatan devisa negara melalui promosi sektor pariwisata. 10% dari Gross Domestic Bruto (PDB) global berasal dari sektor pariwisata. Angka ini menunjukkan seberapa besarnya proporsi sektor pariwisata dalam ekonomi dunia. Selain itu, pariwisata juga memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja. Tren tiga tahun terakhir menunjukkan sumbangsih sektor pariwisata terhadap penerimaan devisa negara, mengalahkan penerimaan migas dan sebentar lagi diproyeksikan akan mengalahkan penerimaan dari industri kelapa sawit (CPO). Forum keuangan internasional ini dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperkenalkan destinasi-destinasi pariwisata Indonesia ke dunia. Hal ini sebenarnya telah dilakukan oleh panitia IMF-WB Annual Meeting 2018 dengan menggelar Voyage to Indonesia, di mana akan dilakukan pameran proyek pembangunan infrastruktur, hasil seni dan budaya, serta kuliner Indonesia selama kegiatan berlangsung. Dengan 189 negara-negara di dunia datang berkunjung, ini adalah kesempatan emas untuk memberitahu mereka bahwa Indonesia siap menyambut mereka dengan kemudahan akses dan keindahan alam serta kekayaan budayanya. Melalui sekitar 15 ribu orang dari berbagai negara, kita berharap mereka akan menjadi pembawa informasi ke negara mereka masing-masing untuk menarik calon wisatawan lainnya datang ke Indonesia. Karena itu, selain siap untuk promosi, Indonesia juga harus siap dalam sarana dan prasarana di sektor pariwisata. Kualitas dan kuantitas akses dan akomodasi harus dibenahi. Selain itu, pemerintah dapat menambah event-event pariwisata skala internasional untuk menarik minat para turis. Salah satu strategi promosi yang paling efektif  di zaman generasi milenial sekarang adalah melalui media sosial. Semakin instagrammable suatu tempat, semakin digandrungi pula tempat itu oleh para anak muda. Selain itu, masih sangat banyak destinasi pariwisata yang belum dimaksimalkan potensinya di Indonesia. Menjadi tugas berat bagi pemerintah untuk menemukan, mengembangkan, dan merawat seluruh destinasi pariwisata tersebut. Selain untuk peningkatan ekonomi melalui pertumbuhan sektor pariwisata, kita juga harus merawatnya untuk diteruskan bagi anak cucu kita.

IMF-WB Annual Meeting 2018 sudah di depan mata. Waktu persiapan akan terbagi dengan pelaksanaan Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang. Jika dua perhelatan besar ini sukses, Indonesia akan semakin bermartabat di mata dunia. Momentum ini harus kita gunakan untuk mulai berlari mengejar ketertinggalan ekonomi kita dari negara-negara tetangga. Bukan untuk berlari sprint jangka pendek, namun untuk berlari marathon untuk membangun ekonomi yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Kita semua harus mafhum bahwa Indonesia bersedia menggelar kedua kegiatan internasional ini bukan karena "sok" sanggup, melainkan karena kita sanggup. Bukan karena ingin buang-buang anggaran, namun untuk meraup manfaat-manfaat yang lebih besar yang akan mengangkat ekonomi dan kesejahteraan Indonesia di mata dunia. (l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU