Home  / 
Antara Pariwisata dan Keramba Jaring Apung di Danau Toba
* Oleh Bisman Nababan Ph.D. (Dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian Bogor)
Senin, 27 Agustus 2018 | 17:05:05
Pemerintah pusat dan daerah telah sepakat menetapkan kawasan Danau Toba menjadi tujuan daerah wisata internasional terbesar ketiga di Indonesia setelah Bali dan Lombok. Hal ini ditunjukkan dengan alokasi dana yang besar dari pusat untuk pembangunan infrastruktur dan lingkungan di kawasan Danau Toba dan sekitarnya, serta kunjungan langsung Presiden Republik Indonesia Joko Widodo ke kawasan Danau Toba.

Akan tetapi untuk mewujudkan tujuan di atas tidaklah mudah, mengingat kondisi lingkungan kawasan Danau Toba sudah semakin rusak, terlebih kualitas air Danau Toba sudah termasuk dalam kategori tercemar berat (Dinas Lingkungan Hidup, Pemprov Sumut, 2016). Faktor lain yang sangat menentukan untuk terwujudnya tujuan wisata internasional tersebut adalah merobah mental penduduk kawasan Danau Toba dan sekitarnya yang umumnya kurang ramah terhadap sesamanya atau pendatang dan kurang peduli terhadap lingkungannya.

Faktor jual wisata dari kawasan Danau Toba untuk wisman internasional/nasional sebenarnya terletak pada kebersihan air Danau Toba dan keindahan lingkungannya serta budaya dan peninggalan sejarah orang Batak di sana. Faktor budaya dan peninggalan sejarah dapat dipelihara, diperbaiki, dan dikembangkan untuk lebih menarik perhatian para turis. Sedangkan faktor kebersihan air Danau Toba dan keindahan lingkungannya menjadi tantangan yang sangat berat sekarang ini.

Kualitas air Danau Toba yang sudah termasuk dalam kategori tercemar berat mungkin disebabkan karena semakin banyaknya sumber bahan pencemar yang masuk ke Danau Toba melalui aliran sungai, buangan limbah dari rumah tangga yang tinggal di sekitar Danau Toba, buangan industri skala kecil dan industri rumah tangga, semakin gundulnya hutan di sekitar kawasan Danau Toba. Dan yang paling menarik adalah jumlah Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Toba sudah melebihi daya dukung lingkungan Danau Toba itu sendiri.

Data dari Dinas Lingkungan Hidup Pemprov Sumut tahun 2015, di Danau Toba ditemui sebanyak 11.781 unit KJA. Sekitar 95,5% dari jumlah ini adalah milik masyarakat, 3,9% milik PT AN, dan 0,6% milik PT SP. Produksi ikan dari seluruh KJA ini sekitar 85.000 ton/tahun dengan proporsi produksi oleh PT AN sebanyak 40%, masyarakat sebanyak 35%, dan PT SP sebesar 25%. Produksi ikan ini sudah melebihi daya dukung lingkungan (produksi lestari) Danau Toba yang hanya 50.000 ton/tahun. Dengan demikian bilamana kita mau mewujudkan kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata internasional maka salah satu faktor yang harus diperhatikan adalah penataan KJA di Danau Toba.

KJA DAN PENCEMARAN AIR DANAU TOBA
Banyaknya unit KJA di Danau Toba yang sudah melewati daya dukung lingkungannya merupakan salah satu sumber pencemar utama air Danau Toba. Bahan pencemar dari KJA ini umumnya berupa feces dan urine ikan yang secara otomatis terbuang ke badan air Danau Toba. Urine ikan akan larut dalam air sedangkan feces ikan akhirnya mengendap di dasar perairan Danau Toba. Baik urine dan feces ikan akan memperburuk kualitas air Danau Toba apalagi jumlah KJA yang sudah melebihi daya dukung lingkungan Danau itu sendiri.

KJA yang umumnya ditempatkan di daerah pesisir Danau Toba atau dengan kedalaman yang relatif dangkal membuat pengendapan feses ikan ke dasar danau menjadi relatif lebih cepat sehingga dapat menimbulkan pengendapan (sedimentasi) bahan organik (feces ikan) yang tebal di atas dasar danau. 

Sedimentasi dari feces ikan di dasar danau yang tebal bisa menjadi bahan pencemar utama dan mematikan terhadap kehidupan biota dalam kolom air di atasnya bilamana terjadi proses pengangkatan sedimen ke atas atau proses pengadukan sedimen dengan kolom air di atasnya. 

Proses pengangkatan sedimen atau air dasar danau ke permukaan dapat terjadi bilamana angin yang relatif kencang berhembus sejajar dengan garis pantai yang disebut dengan proses upwelling. Sedimen atau air dasar danau bisa juga tercampur dengan kolom air di atasnya bilamana angin yang relatif kencang berhembus di daerah pesisir.  Proses ini disebut percampuran vertikal (vertical mixing) yang mengakibatkan sedimen dari dasar danau tercampur dengan kolom air di atasnya. 

Proses upwelling dan vertical mixing umumnya membawa dampak positif bahwa kehidupan di daerah pesisir atau lautan karena proses ini akan membawa banyak nutrien dari dasar perairan atau perairan yang lebih dalam ke permukaan.  Umumnya nutrien lebih banyak dijumpai pada dasar perairan atau perairan yang lebih dalam.  Akan tetapi proses upwelling dan vertical mixing dapat menjadi bencana terhadap kehidupan biota di permukaan bilamana konsentrasi bahan organik sangat tinggi di dalam sedimen atau dasar danau.

Proses upwelling atau vertical mixing diduga sebagai penyebab kematian massal ikan yang terjadi di dalam keramba jaring apung (KJA) kawasan Danau Toba, Kelurahan Pintu Sona, Kecamatan Pangurunan, Kabupaten Samosir dalam beberapa hari yang lalu. Patut diduga bahwa konsentrasi bahan organik (feces ikan) sudah sangat tinggi di dasar danau sehingga dengan adanya proses upwelling atau vertical mixing maka bahan organik (feces ikan) dari dasar akan tercampur ke kolom air di bagian atasnya dan bahan organik ini akan menyerap dengan cepat oxygen terlarut dalam kolom air sampai pada titik nol. Bilamana konsentrasi oxygen terlarut dalam kolom air sampai titik nol maka ikan yang ada dalam kolom air itu tidak bisa bernafas dan mengakibatkan kematian dengan cepat. Kondisi kolom air dengan kandungan oxygen terlarut pada titik nol disebut dengan kondisi hypoxia dan bilamana kondisi ini terjadi maka semua mahluk hidup akan mati seketika dalam kolom air tersebut dan itulah sebabnya kondisi ini disebut sebagai "dead zone". 

Kejadian hypoxia pada suatu kolom air umumnya dapat disebabkan oleh masuknya bahan organik  dalam konsentrasi tinggi ke dalam badan air melalui aliran sungai atau melalui proses upwelling dan vertical mixing. Kejadian hypoxia dalam suatu perairan yang diakibatkan oleh input aliran sungai yang mengandung banyak bahan organik umumnya terjadi bilamana terjadi hujan besar dan air yang terbawa oleh aliran sungai itu berasal dari daerah pertanian yang banyak menggunakan pupuk dan bahan pestisida.  

MANAJEMEN KJA DI DANAU TOBA
Untuk mendukung upaya menjadikan Kawasan Danau Toba menjadi tujuan wisata internasional, maka kualitas air Danau Toba harus diperbaiki. Salah satu upaya untuk memperbaikinya adalah mengurangi jumlah KJA yang ada sampai kepada tingkat daya dukung maksimal danau itu sendiri. Daya dukung lingkungan atau produksi lestari ikan Danau Toba hanya sekitar 50.000 ton/tahun dibanding total produksi saat ini sekitar 85.000 ton/tahun. Untuk memenuhi daya dukung lingkungan atau produk lestari ikan Danau Toba serta meningkatkan kualitas air Danau Toba maka jumlah KJA harus dikurangi paling tidak setengah dari jumlah yang ada saat ini. Saat ini jumlah KJA di Danau Toba sekitar 11.781 unit sehingga perlu dikurangi sampai hampir setengahnya.

KJA yang saat ini banyak ditempatkan di daerah pesisir dengan kedalaman sekitar 5-20 m perlu dipindahkan ke tempat yang lebih dalam, paling tidak pada kedalaman >30 m.  Hal ini ditujukan untuk memperbaiki pemandangan di sekitar pantai dan mengurangi dampak negatif akan kematian ikan massal akibat proses upwelling dan vertical mixing. 

Tata ruang KJA perlu juga dilakukan dengan sistem zonasi sehingga KJA tidak menumpuk pada suatu lokasi namun tersebar.  Lokasi KJA juga agar diperbanyak di tengah danau (kedalaman maksimal) dan mengurangi di daerah pesisir. Lokasi KJA di tengah danau (kedalaman maksimal) akan mengurangi dampak pencemaran dari feces ikan karena feces ikan akan terakumulasi di dasar danau yang relatif sangat dalam dan sulit terbawa kembali ke permukaan. 

Selain itu, pemerintah perlu membuat peraturan kepada pemilik KJA agar menerapkan zero waste untuk setiap KJA yang ada di badan air Danau Toba dengan memasang net (jaring) di bawah KJA untuk menampung feces ikan sehingga feces ikan tidak terakumulasi ke dasar perairan.

Keindahan Danau Toba hanya dapat dikembalikan bilamana masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama bekerja keras dan sungguh-sungguh untuk mengurangi sumber pencemar ke badan air Danau Toba. Peningkatan kualitas air Danau Toba adalah dasar untuk terwujudnya Kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata internasional. (f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
60 Persen Kasus yang Ditangani KPK Merupakan Korupsi Politik
Ketua PGI Kota Medan Minta Rohaniawan Gencar Beri Siraman Rohani
Catat! Ini Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama 2019
Dewan Pers akan Jelaskan Kematian Jurnalis di Kalsel di Forum UNESCO
PPP Kubu Rommy Nilai Kepengurusan PPP Humphrey Hanya Ilusi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU