Home  / 
Peranan Jasa Produksi Dalam Menguatkan Employee Engagement di PT Taspen (Persero)
* Oleh Dr Pirma Simbolon MM
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 16:41:04
Keterikatan karyawan (employee engangement) menjadi pokok pembahasan penting di kalangan akademisi, para pakar manajemen sumberdaya manusia dan perilaku organisasi (Khan,1990). Demikian juga halnya di kalangan praktisi bahwa isu keterikatan karyawan menjadi mengemuka dibicarakan dan dicari solusinya. Fenomena ini hampir terjadi di berbagai perusahaan  di belahan dunia. Secara praktis, berbagai kebijakan, strategi dan upaya-upaya ditempuh guna mempertahankan bahkan meningkatkan keterikatan karyawan.

Hasil penelitian (Gallup.org) tentang employee engangement di beberapa negara termasuk  di Indonesia, menempatkan Indonesia berada pada posisi terbawah dari lima negara  Filipina, Thailand, Malaysia, Singapura dan Indonesia), di mana employee engagement Indonesia yaitu terikat 8 persen sedangkan yang tertinggi dimiliki oleh Filipina terikat (engaged) 29 persen. Hal ini mengindikasikan betapa krusialnya permasalahan di Indonesia termasuk di PT Taspen (Persero) sebagai sebuah Badan Usaha Milik Negara. Oleh karenanya penting dan menarik untuk diteliti karena variabel employee engangement dapat berdampak terhadap menurunnya kinerja individu dan kinerja korporasi serta potensi tingginya turn over karyawan, yang pada akhirnya mempengaruhi eksistensi perusahaan. 

Penelitian terdahulu menemukan bahwa employee engagement dipengaruhi oleh beberapa variabel antara lain lingkungan kerja (Hough,  Cristie., et.al, 2015 dan Idaya Husna Mohd., et.al, 2016), penghargaan innovatif (Ghose, Sudip Kumar and Pradip Kumar Mohanty, 2016), kepercayaan organisasi (Hough,  Cristie., et.al, 2015 dan Chunghtai, Amir Ali and Finian Buckly, 2011 serta Hui, LIU.,et.al, 2015), penghargaan finansial (Idaya Husna Mohd., et.al, 2018), work life balance (Mohd, I. H., et.al, 2016), kerjasama tim (Ravukumar, 2013), budaya kerja (Ravukumar, 2013), kepemimpinan (Ravukumar, 2013), kompensasi (Ravukumar, 2013), insentif (Deckop, John R., et.al, 2016), internal komunikasi (Mishra, Karen., et.al, 2014), strategi penghargaan (Ghose, Sudip Kumar and Pradip Kumar Mohanty, 2016), penghargaan yang efektif (Lardner, S., 2015).

Sejauhmana jasa produksi dapat berperan menguatkan employee engangement di PT Taspen (Persero). Penelitian ini menggunakan metode sensus  dengan analisis regresi sederhana  dengan menyebarkan kuesioner kepada seluruh karyawan berjumlah 364 orang yang tersebar di setiap unit kerja tanpa membedakan strata jabatan, dimana kuesioner yang kembali adalah sebanyak 320 atau 87,9 persen.

Kajian Pustaka
Pada dasarnya employee engangement adalah sama dengan motivasi namun bukan merupakan sinonim, di mana employee engangement mengacu pada suatu keadaan intrinsik yang mengakar, dengan rasa komitmen yang dalam, kebanggaan, dan loyalitas yang tidak mudah terhapus. Sedangkan motivasi dipengaruhi faktor eksternal khususnya ekspektasi tertentu yang akan menghasilkan penghargaan yang bernilai seperti pemberian bonus dan lain-lain (Marciano, 2010). Sedangkan menurut Michael Koscec (2007) employee engangement adalah karyawan yang secara emosional terkoneksi dengan organisasi dan rekan kerja mereka. Karyawan yang merasa terikat akan bekerja dengan bersemangat dan merasakan hubungan yang mendalam dengan perusahaan ditandai dengan dorongan inovasi dan menggerakkan perusahaan ke masa depan sebagaimana dikemukakan oleh Buckhingham and Coffman (pada Michael Koscec,2007). Pendapat ini senada dengan pendapat yang dikemukan Sarah Cook (2008) yang mengatakan bahwa employee engangement juga dapat  dipersonifikasikan oleh semangat dan energi karyawan yang memberikan kemampuan terbaiknya, memberikan upaya diskresi yang berkelanjutan demi suksesnya organisasi di masa datang. Konsep employee engagement  yang sedikit berbeda adalah sebagaimana dikemukakan oleh Calbonara (2013) yang mengatakan bahwa seorang karyawan yang engaged, tidak bergantung pada situasi yang merangsang kepuasan, akan tetapi malah menemukan pemenuhan kebahagiaan dari perannya  dalam bekerja (Calbonara, 2013).

Callen dan Robinsons (2016) mengatakan bahwa bonus finansial sebagai bagian dari total reward  dapat mempengaruhi employee engangement. Snell and Bohlander (2010) mendefinisikan jasa produksi atau bonus sebagai suatu pembayaran insentif yang diberikan kepada karyawan selain upah dasar. Alasan pemberian bonus didasarkan pada pencapaian sasaran perusahaan dan konstribusi setiap orang atas kinerja tersebut haruslah dihargai (Newstrom and Davis, 2002) dan (Armstrong, 2013). Alasan pemberian bonus kepada karyawan bukan saja karena pencapaian sasaran perusahaan akan tetapi juga atas adanya kinerja luar biasa yang dihasilkan oleh karyawan (Wirawan, 2015).

Pembahasan
Hipotesis penelitian ini adalah jasa produksi atau bonus berpengaruh langsung positif terhadap employee engangement. Berdasarkan hasil uji hipotesis bahwa jasa produksi berpengaruh langsung positif terhadap keterikatan karyawan dimana thitung sebesar 4,330 dan ttabel sebesar 1,967 yang dapat diperlihatkan melalui simbol thitung 4,330  > ttabel 1,967. Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan SPSS 22 diketahui pengaruh jasa produksi terhadap employee engangement yaitu sebesar 0,253. Artinya, employee engangement dipengaruhi oleh  aspek jasa produksi atau bonus sebesar 25,3%. Hasil ini membuktikan bahwa kebijakan pembayaran jasa produksi yang berlaku di PT Taspen (Persero) turut menguatkan employee engagement.  Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian Hannes Zacher dkk (2014) yang menemukan bahwa bonus sebagai salah satu strategi kompensasi berpengaruh langsung terhadap keterikatan karyawan. 

Hasil analisis deskriptif, terdapat  37,50 % persen  karyawan yang memberikan skor jasa produksi dibawah rata-rata. Ternyata indikator "besarnya bonus yang diterima" mendapat rerata skor terendah yakni sebesar 3,48 dari skala 5 dalam mempengaruhi variabel jasa produksi. Hal ini disebabkan besaran bonus yang diterima karyawan dirasakan belum memadai terutama "kebutuhan pangan dan sandang" dan "ketidaknyamanan yang membuat belum optimal untuk betah tetap bekerja di perusahaan" dan faktor motivasi lain yang belum optimal "mendorong karyawan memberikan yang terbaik bagi masa depan perusahaan".  Selain itu, indikator "formula yang digunakan" juga mendapat rerata skor sebesar 3,70 dari skala 5. Hal ini disebabkan "formula perhitungan jasa produksi yang belum optimal dikaitkan dengan hasil penilaian individu, unit kerja dan korporasi".

Implikasi kebijakan bagi PT. Taspen (Persero) terkait pembayaran bonus adalah pentingnya pembayaran jasa produksi didasarkan pada kinerja individu, unit kerja dan laba perusahaan guna meningkatkan rasa keadilan yang pada gilirannya akan meningkatkan kegairahan kerja dan dapat menciptakan rasa aman serta memiliki keterikatan secara permanen bekerja hingga pensiun di dalam organisasi. 

Kesimpulan 
Berdasarkan hasil analisis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa jasa produksi atau bonus berpengaruh langsung positif terhadap employee engangement. Artinya makin baik kebijakan pembayaran jasa produksi diprediksi akan menguatkan keterikatan karyawan. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa indikator kesetaran dan periode waktu pembayaran "jasa produksi" berperan lebih besar dalam mempengaruhi keterikatan karyawan.

Implikasi
Implikasi kebijakan yang penting diambil segera oleh organisasi adalah merumuskan dan menetapkan formula dan besaran faktor pengali jasa produksi dikaitkan dengan kinerja individu, kinerja unit kerja dan laba yang dihasilkan perusahaan. Implikasi kebijakan ini akan berdampak pada rasa keadilan bagi karyawan dalam perusahaan. Implikasi lainnya adalah menetapkan kriteria yang permanen dalam pemberian penghargaan, yang akan dapat meningkatkan kedisplinan kerja, kegairahan kerja, loyalitas dan dedikasi kerja yang pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas dan keterikatan karyawan. (Penulis adalah leader dan member examiner di Forum Ekselen BUMN/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Anak Didik SMA GKPS 1 Pamatangraya Dapat Sosialisasi Bahaya Narkoba
Mendikbud Minta PPDB Ditiadakan Mulai Tahun Depan
Kemendikbud Siapkan Lulusan SMK Jadi Pengusaha
1.938 Siswa Ikut Dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional
Kunci Sekolah Bermutu Ada Pada Proses Pembelajaran
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU