Home  / 
Tanaman Pintar Jadi Menu Masa Depan Asia
* Oleh Roy Rosa Bachtiar
Rabu, 30 Mei 2018 | 15:39:03
Nasi merupakan makanan pokok bagi mayoritas penduduk di negara-negara kawasan Asia selama ribuan tahun, namun pada zaman modern konsumsi nasi mengalami penurunan pada sejumlah negara.

Salah satu contohnya ialah Taiwan, yang menurut Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO), konsumsi beras per orang telah turun lebih dari dua per tiga dalam 50 tahun seiring munculnya "tanaman pintar" dan "makanan super" ke dalam menu panganan.

Fakta ini merupakan penurunan paling signifikan di Asia kala urbanisasi, peningkatan pendapatan, perubahan iklim dan kekhawatiran tentang kesehatan serta persediaan makanan mendorong adanya alternatif pangan masa depan, seperti serealia (millet) dan asupan yang lebih kaya protein.

Salah seorang warga Taipei, Taiwan, Guan-Po Lin, sebagaimana dikutip laporan Reuters mengatakan dirinya lebih banyak makan nasi ketika berumur lebih muda, tapi sekarang mengubah asupan makanannya dengan lebih banyak sayuran, ikan dan daging.

Orang-orang menghabiskan lebih banyak uang untuk makanan yang sehat, dan nasi tidak termasuk ke dalamnya, kata pemuda berusia 24 tahun tersebut.
Sekitar 90 persen dari produksi dan konsumsi beras global ada di Asia, rumah bagi 60 persen populasi dunia.

Namun tren di Taiwan, Jepang, Korea Selatan dan Hong Kong menunjukkan konsumsi nasi akan menurun secara signifikan karena pola makan yang berubah.
Data FAO menunjukkan, konsumsi per kapita telah turun sekitar 60 persen di Hong Kong sejak tahun 1961, dan hampir setengahnya di Jepang. Di Korea Selatan, telah merosot 41 persen sejak 1978.

Bersamaan dengan itu konsumsi ikan, daging, susu, buah-buahan dan sayuran telah meningkat secara signifikan.

"Beras akan tetap menjadi tanaman paling penting di kawasan ini karena menjadi kunci dalam diet dan simbol budaya Asia, tetapi tidak akan terus mendominasi di tahun-tahun mendatang jika melihat angka tersebut, karena makanan baru muncul," kata ekonom senior FAO David Dawe di Bangkok.

Ia mengatakan bahwa masa depan Asia berada pada individu yang memiliki performa baik dengan asupan gizi yang baik pula, dan hal ini tidak bisa didapatkan jika hanya mengandalkan nasi. Lebih banyak ikan, daging, buah-buahan dan sayuran yang dibutuhkan, katanya.

DIBUAT MENARIK
Beras pertama kali didomestikasi di lembah Sungai Yangtze di China lebih dari 10.000 tahun yang lalu.

Dulu di Asia, beras kebanyakan dikonsumsi oleh orang kaya hingga terjadi Revolusi Hijau tahun 1960-an yang menyebabkan konsumsi beras terjadi lebih luas, ketika pemerintah memperkenalkan benih unggul dan pupuk yang lebih baik untuk meningkatkan produk dan menyediakan pangan bagi populasi yang terus bertambah.

Di Taiwan, millet adalah makanan pokok masyarakat pribumi dan perdesaan, dan memiliki status lebih tinggi dalam upacara ritual daripada beras.

Di India, malnutrisi adalah salah satu alasan pemerintah mendorong millet yang lebih kaya protein, serat, dan mikronutrien daripada beras atau gandum, kata SK. Gupta, seorang ilmuwan utama di Institut Penelitian Tanaman Pangan Internasional iklim Tropis Kering (ICRISAT) di Hiderabad.

Dalam prosesnya, millet juga hanya membutuhkan lebih sedikit air dan dapat tumbuh di tanah asin dan mampu menahan iklim yang lebih hangat, yang menjadi isu penting pada kasus kenaikan permukaan laut di Asia Selatan.

Secara historis, masyarakat asli sebagian besar mengonsumsi millet dan jagung, tetapi ketika mereka pindah ke daerah perkotaan justru beralih ke beras dan gandum, kata Gupta.

Ia berpendapat, konsumen bisa didorong untuk kembali mengonsumsi millet jika sudah tersedia, dan petani akan menanam lebih banyak jika mereka mendapatkan harga yang lebih baik.

Pergeseran konsumsi beras di negara-negara Asia yang kaya sudah dijelaskan oleh Hukum Bennett, yang berpendapat bahwa ketika pendapatan meningkat, orang cenderung membelanjakan lebih sedikit pada makanan pokok seperti beras.

Beras dianggap "inferior" ketika pendapatan per kapita mencapai lebih dari Rp33 juta di negara-negara Asia, menurut perkiraan FAO.

Perubahan sudah terlihat di China daratan dan beberapa negara Asia Tenggara, di mana orang mengonsumsi makanan yang lebih kaya protein, seperti daging dan ikan, kata Dawe.

Di Filipina, salah satu pengimpor beras terbesar di dunia, pemerintah telah mempertimbangkan penggantinya seperti jagung, pisang, ubi jalar, singkong, talas dan biji serealia.

Di sisi lain, perusahaan makanan dan para koki menanggapi permintaan untuk diet sehat dengan millet dalam roti, pasta, bahkan bir craft.

Memang masih butuh waktu untuk membuat orang tertarik dengan biji-bijian yang kurang dikenal, seperti ragi (finger millet), sorgum, dan kodo, kata Thomas Zacharias, seorang koki di "The Bombay Canteen", salah satu di antara restoran-restoran terkenal di Asia.

Restoran tersebut menyajikannya dengan cara-cara baru dan menarik yang sesuai dengan generasi saat ini, walaupun kadang menemui ketidakcocokan dari pelanggan, katanya.

Fakta FAO lainnya, karena gencarnya pemasaran, produksi quinoa atau biji-bijian yang berasal dari Dataran Andes, Peru, turut meningkat lebih dari 70 persen dari tahun 2000 hingga 2014 di negaranegara berkembang karena dijual dengan label "makanan super".

TANAMAN PINTAR
FAO mempromosikan makanan alternatif pengganti beras tersebut sebagai "tanaman pintar" untuk membuat komoditas ini lebih menarik.
Hal ini juga sebagai promosi budi daya udang, ikan mas, dan nila bersama padi untuk membantu petani meningkatkan pendapatan sambil membuat ikan yang lebih murah bisa tersedia.

Petani di Asia tidak akan kaya jika hanya menanam padi di lahan pertanian kecil.

Sejumlah negara juga mulai memperhatikan isu-isu kekurangan gizi, defisiensi mikronutrien dan obesitas secara serius.

Malnutrisi dan perubahan iklim juga menjadi perhatian utama para ahli biologi dan pemulia padi, kata Rod Wing, seorang profesor Universitas Arizona yang baru saja menyelesaikan pengurutan genom dari tujuh varietas padi liar.

Menurut dia, beras merupakan makanan dari kalangan ekonomi lemah dan selama ada kelebihan penduduk serta kemiskinan, maka orang-orang akan tetap makan nasi, kata Wing dengan merujuk pada fakta bahwa 60 persen kelaparan dunia berada di Asia Pasifik.

Oleh karenanya, penting bagi kita untuk dapat menanam varietas yang memiliki nilai gizi lebih tinggi dan jejak lingkungan yang lebih kecil. (Ant/d)


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Polres Siantar Ringkus Dua Pria Diduga Terkait Perjudian
Tim Pegasus Polsek Pancurbatu Amankan Tersangka Pencuri
Polsek Patumbak Amankan Pedagang Bawa Sajam
BNN Gagalkan Peredaran 14,5 Kg Sabu dan 63.500 Butir Ekstasi
Miliki Narkotika, 2 Warga Hatonduhan Diringkus Polisi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU