Home  / 
Indonesia Bersatu untuk Perang Melawan Terorisme
* Oleh Budi Setiawanto
Selasa, 15 Mei 2018 | 20:02:40
Serangan teroris terjadi di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu pagi. Peristiwa itu kembali mengguncang rasa aman bangsa ini hingga ke seluruh dunia.
Dari peristiwa itu terdapat korban jiwa hingga Minggu malam sebanyak 13 orang dan 43 orang luka-luka, Serangan di tiga tempat ibadah umat Katolik dan Kristen itu merupakan peristiwa di luar batas kemanusiaan yang berlangsung secara beruntun dalam satu pekan ini.

Sejak kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan Klas II dan Rumah Tahanan Salemba Cabang Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada Selasa (8) malam lalu yang berakhir Kamis (10/5) yang menewaskan lima anggota Brimob dan satu orang tahanan serta kasus penusukan terhadap anggota Brimob Bripka Marhum Frenje hingga tewas oleh pelaku Tendi Sumarno pada Jumat (11/5) dini hari yang juga di sekitar Mako Brimob Kelapa Dua, bangsa ini seolah terpuruk dalam kesedihan mendalam.

Serangkaian ledakan bom yang terjadi berulang-ulang ini membuat Presiden Jokowi mengajak masyarakat Indonesia bersatu melawan terorisme.

"Kita harus bersatu melawan terorisme," kata Presiden Joko Widodo di RS Bhayangkara Polri Surabaya, Minggu sore, didampingi Menkopolhukam Wiranto, Panglima TNI Marsekal Budi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan Kepala BIN Budi Gunawan, saat menyampaikan pernyataan setelah meninjau lokasi kejadian ledakan bom dan menjenguk korban.

Kepala Negara mengajak semua anggota masyarakat untuk bersama-sama memerangi terorisme, memerangi radikalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai luhur kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan dan nilai-nilai kebhinekaan.

Pada Minggu pagi berturut-turut dalam jeda kurun waktu sekitar lima menit, terjadi tiga ledakan bom sejak pukul 07.30 WIB di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat di Jalan Arjuna.

Kepala Negara sudah memerintahkan kepada Kapolri mengusut tuntas jaringan-jaringan pelaku sampai ke akar-akarnya. Seluruh aparat negara tak akan membiarkan tindakan pengecut semacam ini.

Pelaku diduga satu keluarga yang melakukan serangan ledakan bom bunuh diri.

Pelaku peledakan bom di Gereja Pentakosta Pusat Jalan Arjuna yaitu pria bernama Dita Supriyanto, diduga menggunakan mobil dengan bom yang dipangku. Sebelumnya ia menurunkan istrinya Puji Kuswati dan dua anaknya, Fadilah Sari (12) dan Pamela Rizkita (9), yang melakukan aksi di GKI Diponegoro dengan menggunakan bom yang dibelitkan di pinggang mereka.

Sementara pelaku peledakan di Gereja Maria Tak Tercela adalah dua laki-laki yang diduga putra Dita yaitu Yusuf Fadil (18) dan Firman Halim (16). Bom yang meledak di gereja di Jalan Arjuna teridentifikasi menggunakan bom yang diletakkan dalam kendaraan setelah itu ditabrakkan. Kapolri memperkirakan ledakan bom terbesar, yakni ledakan yang menggunakan mobil yang ditabrakan itu.

SANGAT URGEN
Ajakan Kepala Negara itu harus disambut secara positif dan proaktif karena persoalan terorisme dan radikalisme merupakan hal yang sangat urgen atau mendesak untuk diatasi.

Kalau dibiarkan atau dianggap masalah enteng maka teror akan terus saja terjadi dan radikalisme kian tumbuh berkembang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Apalagi telah terjadi berkali-kali teror atau ledakan bom yang terjadi selama ini, termasuk selama masa pemerintahan Presiden Jokowi, tak luput dari ancaman terorisme kepada publik.

Sepanjang tahun 2015 saja, misalnya, terjadi beberapa kali ledakan yang mengejutkan publik meskipun setelah diselidiki oleh kepolisian ternyata tidak terkait dengan jaringan teroris.

Ledakan bom rakitan atau bom banting pada 8 April 2015 terjadi di sebuah bedeng di Jalan Jati Bundar 7 RT 16/9, Tanah Abang, Jakarta Pusat, sekitar pukul 14.15 WIB yang melukai empat orang, yakni Rukam alias Suro, Asep Samsuddin, Amir alias Bogel, dan Feri Andiyanto. Dari korban diduga perakit bom dan belakangan satu dari korban luka itu meninggal. Polisi juga menemukan 49 bom banting untuk "perang" antargeng di kawasan tersebut.

Pada 29 Oktober 2015, Kapolda Metro Jaya, saat itu Tito Karnavian, mengungkapkan menangkap satu pelaku peledakan bom di Mall Alam Sutera, Tangerang, Banten, atas nama Leopard Wisnu Kumara yang meledakkan bom pada sehari sebelumnya dan pada tanggal 6 dan 8 Juli sebelumnya untuk meneror manajemen Alam Sutera dengan motif pemerasan uang.

Motif bisnis juga menjadi latar belakang peristiwa ledakan pada sebulan kemudian, dari granat jenis manggis yang dilemparkan ke Gedung Multipiranti Graha, di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Senin (16/11/2015) dini hari, melukai satu petugas satpam.

Sementara baru 14 hari memasuki tahun 2016 terjadi ledakan bom bunuh diri di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, delapan orang meninggal dunia (termasuk empat pelaku ledakan bom yakni Muhammad Ali, Dian Juni Kurniadi, Afif alias Sunakin, dan Ahmad Muhazan) dan 25 orang terluka.

Kapolri saat itu Jenderal Badrodin Haiti menyampaikan bahwa setelah berselang beberapa waktu dari peristiwa ledakan bom di Jalan Thamrin itu, Densus 88 Polri menangkap 12 orang yang diduga terkait serangan teror itu, di Jabar, Jateng, dan Kaltim.

Kemudian serangan pada ledakan bom panci di Taman Pandawa, Jalan Arjuna, Bandung, pada Senin 27 Februari 2017, yang dilakukan oleh Yayat Cahdiyat. Pelaku sempat masuk ke Kantor Kelurahan Arjuna setelah dikejar oleh dua siswa pemberani dari SMAN 6 Bandung, Lupy M dan Syafii Nurhikmah, yang ingin menangkap pelaku. Pelaku yang sempat membakar kantor kelurahan akhirnya tewas dalam kontak senjata dengan polisi.

Markas Kepolisian Daerah Jawa Barat di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, bahkan menjadi sasaran peledakan bom oleh dua orang yang diduga merupakan bagian dari kelompok Yayat.

Kemudian, terjadi ledakan bom bunuh diri lagi di Terminal Kampung Melayu pada Rabu malam 24 Mei 2017 dengan terdengar dua kali ledakan. Bom pertama diledakkan di luar toilet umum sedangkan yang kedua meledak dengan jarak 10 meter dari lokasi ledakan pertama. Dua pelakunya yang tewas, Ahmad Sukri dan Ichwan Nur Salam.

Ledakan menelan korban jiwa sebanyak tiga orang dari anggota polisi yakni Bripda Taufan Tsunami, Bripda Ridho Setiawan, dan Bripda Imam Gilang Adinata dari Unit I Peleton IV Sabhara Polda. Mereka yang terluka juga terdapat enam polisi dan lima warga sipil.

Polri menyebutkan bahwa sepanjang 2017 telah menangkap lebih dari 100 terduga teroris dari berbagai daerah di Indonesia, seperti di Bandung, Bekasi, Bima, Cianjur, Garut, Jakarta, Jambi, Kendal, Malang, Medan, Pandeglang, dan Surabaya.

Penangkapan terhadap teroris ternyata belum dapat memastikan bahwa aksi-aksi terorisme tak terjadi lagi. Bahkan mereka yang sedang menjalani hukuman di penjara pun bisa melakukan perebutan senjata, menyandera, bahkan membunuh polisi, sebagaimana terjadi pada kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan Klas II dan Rumah Tahanan Salemba Cabang Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Bila merunut ke belakang, bangsa Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi serangan terorisme dan selalu dialami dalam pemerintahan dari satu presiden ke presiden lainnya.

Setelah Republik Indonesia merdeka, terjadi teror bom pertama pada 30 November 1957 saat Presiden Soekarno menghadiri HUT ke-15 Perguruan Cikini dan terjadi ledakan granat yang menewaskan sembilan orang. Pelaku yang ditangkap merupakan simpatisan DI/TII dengan maksud membunuh Presiden. Soekarno mengalami berkali-kali upaya pembunuhan, termasuk pada 9 Maret 1960 tatkala terjadi tembakan kanon 23 mm dari pesawat Mig-17 yang dipiloti Daniel Maukar dari Permesta ke istana kepresidenan.

Pada era Presiden Soeharto juga terjadi sejumlah aksi teror bom, termasuk yang bermuatan politis, seperti terjadi pada 4 Oktober 1984 berupa ledakan bom di Bank BCA di Pecenongan, Jakarta Pusat. Beberapa nama terkenal terseret kasus ini, seperti AM Fatwa, Letnan Jenderal (Purnawirawan) HR Darsono, mantan Menteri Perindustrian HM Sanusi. Kebanyakan adalah anggota Petisi 50 yang kritis terhadap cara Soeharto memerintah Indonesia. Menurut pengakuan pelaku di lapangan, aksi ini merupakan pelampiasan kekecewaan mereka atas Peristiwa Tanjung Priok.

Pada 21 Januari 1985 juga terjadi ledakan bom di Candi Borbudur. Ledakan bom ini dikenal sebagai aksi terorisme berlabel jihad setelah pembajakan pesawat Garuda DC 9 Woyla oleh anggota Komando Jihad pada tahun 1981.

Pada 13 September 1991, anak buah gerilyawan Fretilin, Kay Ralla Xanana Gusmao, meledakkan bom di Demak, Jawa Tengah. Jakarta sangat represif pada pergerakan di Dili, Timor Timur, itu yang puncaknya adalah peristiwa Santa Cruz, di Dili, 1991. Satu Hotel juga diledakkan di Surabaya.

Dalam pemerintahan Presiden BJ Habibie juga terjadi berbagai aksi teror, seperti pada 2 Januari 1999 terjadi ledakan bom di Toserba Ramayana, Jalan Sabang, Jakarta Pusat, pada 9 Februari 1999 di Mal Kelapa Gading, Jakarta, pada 15 April 1999 di Plaza Hayam Wuruk, Jakarta Barat, pada 19 April 1999 di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Ada pula teror berupa pembunuhan terhadap sejumlah tokoh ulama, hingga terjadi kerusuhan Ambon yang bermula di Saparua pada 15 Juli 1999.
Pengeboman terhadap sejumlah gereja juga pernah terjadi di era Presiden Abdurrahman Wahid, seperti pada 28 Mei 2000 di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Medan. Lalu ledakan bom di Gereja Santa Anna dan HKBP pada 22 Juli 2001. Pada malam Natal tahun 2000 juga terjadi ledakan bom di sejumlah kota. Selain itu ledakan di Kedubes Filipina pada 1 Agustus 2000 dan di Bursa Efek Jakarta pada 13 September 2000.

Pemerintahan Presiden Megawati juga pernah mengalami peristiwa ledakan bom, seperti pada 12 Oktober 2002 di Paddy's Cafe dan Sari Club, dua restoran di Jalan Legian, Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Tiga ledakan terjadi di dekat kantor konsulat Amerika di Renon, Denpasar. Ledakan di Legian menewaskan 187 orang dan 385 luka-luka. Teror ini terkenal dengan tragedi Bom Bali I.

Pada 5 Agustus 2003, bom meledak di Hotel JW Marriot, Jakarta. Selanjutnya pada 9 September 2004 terjadi ledakan bom di depan Kedubes Australia di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Begitu pula pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, terjadi ledakan bom di Kuta, Bali, pada 1 Oktober 2005, dikenal dengan tragedi bom Bali II. Pada 17 Juli 2009 juga terjadi ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta.

Memenuhi Ajakan Bagaimana bentuk partisipasi masyarakat dalam memenuhi ajakan Presiden Jokowi itu untuk bersatu melawan terorisme dan radikalisme? Apakah mengikuti keberanian dari dua siswa dalam berpartisipasi menangkap pelaku terduga teroris? Atau turut "mengangkat senjata" bersama aparat dalam memerangi teroris? Hal terpenting yang perlu dipahami oleh setiap warga masyarakat adalah memperhatikan lingkungan setempat di tempat tinggal masing-masing. Bila ada hal-hal yang mencurigakan, untuk tidak segan-segan memberitahu atau melaporkan kepada pengurus RT/RW setempat untuk kemudian dilakukan deteksi dini bersama aparat terkait di lingkungan masin-masing.

Saling mengenal antarwarga masyarakat juga menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa lingkungan sekitar aman atau tidak.

Perang melawan teroris tidak selalu berarti turut mengangkat senjata, melainkan bisa dilakukan dengan cara-cara yang damai dan positif yakni dengan memiliki pengetahuan yang memadai dalam melawan terorisme dan radikalisme.

Pada umumnya terorisme dan radikalisme disebarluaskan melalui berbagai penyampaian informasi, bahkan "mencuci otak" sebagian masyarakat yang bersikap skeptis atau bertentangan dengan keyakinannya. Hal seperti itu akan mudah dimasuki oleh pemikiran-pemikiran mereka yang memang ingin menyebarluaskan terorisme dan radikalisme.

Untuk menangkalnya, perlu ada pegangan yang memadai, yakni memiliki kontra-narasi, kontra-propaganda, dan kontra-ideologi.

Konsensus nasional bangsa Indonesia adalah Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Empat konsensus nasional itu sudah merupakan harga mati dan mengikat bagi seluruh bangsa Indonesia.

Ketika ada sekelompok orang yang ingin mengubah konsensus nasional tersebut, apalagi dengan cara-cara menghalalkan segala cara, tentu saja harus diberikan penyadaran agar mereka kembali kepada konsensus nasional tersebut.

Radikalisme perlu dihadapi dengan deradikalisasi atau kontra-radikalisasi. Implementasi dari wujud kontra radikalisasi adalah bagaimana masyarakat, termasuk pemuda, mahasiswa, dan pelajar memiliki kompetensi untuk membuat konten positif dan konten damai yang kemudian disebarluaskan ke berbagai media, termasuk di dunia maya.

Pembuatan konten damai yang dilakukan oleh duta damai untuk melawan penyebaran konten negatif yang berisi ajakan kekerasan, fitnah, hasutan, ujaran kebencia, dan pemahaman keagamaan yang sempit dan terbatas.

Berbagai kegiatan bela negara juga menjadi keniscayaan yang perlu dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.

Perang melawan terorisme dan radikalisme harus menjadi gerakan nasional seluruh warga masyarakat negeri ini. (Ant/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Guru Besar Pidana USU Heran, Banyak Ditangkapi Tapi Masih Banyak Kasus Korupsi Muncul
Pemko Medan Gelar Dzikir dan Doa Bersama Peringati HUT ke 428
Mendikbud Berencana Terapkan Sistem Zonasi di Sekolah Swasta
Banyaknya Caleg Loncat Partai Bukan Karena Ideologi
Pesan Jokowi: Beri Bangsa yang Terbaik
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU