Home  / 
Era Politik: Kampanye Hoax di Media Sosial
* Oleh Resa Ariyanto
Senin, 14 Mei 2018 | 17:50:03
Tahun 2018 dan 2019 merupakan tahun politik, di mana banyak sekali bermunculan calon kepala daerah atau anggota dewan dari berbagai partai politik. Kemendagri merilis ada 171 daerah yang melakukan Pilkada yang memakan biaya triliunan rupiah. Jika calon yang terpilih tidak berkualitas dan berintegritas akan merugikan masyarakat, serta membuang uang negara dengan sia-sia. Hal ini dipengaruhi juga oleh informasi yang tersebar luas di media sosial. Tidak dapat dipungkiri di era modern media sosial merupakan alat kampanye yang utama. Hal ini dikarenakan banyak penduduk Indonesia menggunakan media sosial.

Menurut proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia tahun 2017 mencapai 261 juta jiwa. Laporan Tetra Pak Index 2017 mengungkapkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 132 juta orang. Dari angka tersebut, 40 persennya menggunakan internet untuk mengakses media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan lain-lain.

Dapat dibayangkan alangkah mudahnya melakukan kampanye di media sosial dengan menginformasikan berita-berita hoax untuk mencari pendukung. Masyarakat awam biasanya mudah terpengaruh untuk melakukan broadcast terhadap informasi yang diterimanya tanpa memperhatikan sumber dan dampaknya. Dalam teori Due Careetika bisnis menerangkan bahwa kewajiban perusahaan terhadap konsumen didasarkan pada gagasan pembeli dan konsumen tidak saling sejajar dan kepentingan-kepentingan konsumen sangat rentan terhadap tujuan-tujuan perusahaan yang dalam hal ini memiliki pengetahuan dan keahlian yang tidak dimiliki oleh konsumen (Velasques, 2005).

Dalam teori Due Care informasi yang disampaikan bersifat asimetris antara pembuat pesan partai politik dan penyebar pesan (masyarakat atau pendukung). Hal ini perusahaan sebagai parpol memiliki kepentingan untuk mencari mangsa yang sebanyak-banyaknya dengan memberikan informasi-informasi yang mempengaruhi pembaca secara umum. Informasi dapat berupa citra baik parpol atau berita buruk untuk menjatuhkan parpol lain. Sementara konsumen dalam hal ini masyarakat biasanya hanya menerima pesan sesuai yang dibacanya tanpa memperhatikan sumber pesan tersebut. Pesan yang bersifat provokatif akan mempengaruhi masyarakat sehingga masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup akan menyebarkan informasi tersebut.

Berita hoax di media sosial semakin marak, sebagai citizen dalam menerima pesan harus cerdas membedakan mana yang hoax atau fakta. Pasalnya jika berita hoax yang lebih dominan dibiarkan saja akan mempengaruhi pikiran masyarakat terhadap sebuah parpol atau anggota dewan yang bertarung dalam panggung politik menjadi negatif atau sebaliknya. Pastikan sebagai citizen yang cerdas dalam menerima pesan sebelum diteruskan harus memperhatikan beberapa hal di antaranya (1) pastikan mencari sumber berita lain yang sejenis di internet, (2) cek keabsahan gambar dengan aplikasi yang tersedia, (3) tidak terdapat kalimat provokasi seperti "Sebarkan!", "Viralnya!", atau yang lainnya, dan (4) cek tanggal sumber berita.

Citizen cenderung akan menyebarkan informasi yang hoax (negatif) daripada positif. Menurut Ketua Masyarakat Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menyatakan bahwa masyarakat menyebar berita hoax disebabkan karena penggunaan teknologi yang tidak dibarengi dengan budaya kritis melihat persoalan, sehingga masyarakat pengguna internet cenderung menyebarkan informasi ke orang lain tanpa lebih dulu melakukan validitas kebenarannya. Hal ini karena citizen merasa hebat kalau jadi orang pertama yang menyebarkan informasi (Kompas.com, 8/1/2017).

Sebagai citizen yang cerdas dalam menghadapi tahun politik 2018 dan 2019 penulis menghimbau beberapa hal untuk mewujudkan pilkada yang adil, bersih, jujur, dan transparan. Pertama, gunakan media sosial dengan bijak, jangan langsung membagikan informasi jika sumber tidak jelas atau mengandung unsur provokasi yang dapat merugikan orang lain.Kedua, jangan pernah merasa bangga menjadi orang pertama yang menyebarkan informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya karena orang pertama belum tentu menjadi orang yang paling hebat. Ketiga, gunakan media sosial secara beretika dengan memperhatikan informasi sebelum menyampaikan kepada orang lain, kita harus memiliki tanggung jawab untuk memikirikan apa yang akan disampaikan dan konsekuensinya. Di atas kertas, kita mudah mengenali berbagai perilaku yang etis, namun untuk memutuskan apa yang etis dalam suatu situasi yang kompleks merupakan tantangan tersendiri yang harus dihadapi. (Penulis adalah Mahasiswa Magister Akuntansi FEB UGM Penerima Beasiswa LPDP Kemenkeu RI PK-88/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Indonesia Tawarkan 6 Solusi Bantu Palestina Lewat KTT OKI
Singapura Siap Bantu Malaysia Selidiki Skandal Korupsi 1MDB
Anwar Ibrahim Tuntut Pemulihan Nama Baik soal Sodomi
Konsumsi Antibiotik Tingkatkan Risiko Batu Ginjal
Brokoli Sayur yang Wajib Dikonsumsi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU