Home  / 
Indonesia Upayakan TRHS Keluar dari Status Bahaya
* Oleh Aubrey Kandelila Fanani
Rabu, 18 April 2018 | 17:21:10
Indonesia masih terus mengupayakan situs alam warisan dunia berupa Hutan Hujan Tropis Sumatera atau Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS) keluar dari status bahaya pada 2018.

Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Warisan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Najamudin Ramli di Jakarta, Senin.
Sidang Komite Warisan Dunia Ke-41 di Krakow, Polandia telah mengeluarkan pernyataan untuk mempertahankan Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera dalam daftar warisan dunia dalam bahaya.

Hutan Hujan Tropis Sumatera yang memiliki luas 2,5 juta hektare dan terdiri atas tiga taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan itu, telah berstatus bahaya sejak 2011.

Masuknya Hutan Hujan Tropis Sumatera dalam status bahaya salah satunya karena masifnya pembangunan infrastruktur yang merusak kawasan tersebut.
Tak hanya itu, pembalakan liar, perburuan, perluasan kepala sawit, dan fragmentasi hutan hujan utuh untuk jalan baru turut andil merusak kawasan tersebut.
Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) mencatat Hutan Hujan Tropis Sumatera menjadi tempat tinggal bagi 10 ribu jenis tumbuhan, 580 jenis burung, dan 201 jenis mamalia.

Hutan Hujan Tropis Sumatera memiliki keanekaragaman hayati tinggi, seperti tempat tinggal spesies khusus Sumatera seperti Orangutan Sumatera, Harimau Sumatera, Rafflesia Arnoldi, serta bunga tertinggi Amorphophallus titanum.

Hutan tersebut juga difungsikan sebagai mata pencaharian bagi suku yang tinggal di dalamnya, seperti Suku Mentawai dan Suku Anak Dalam.

Salah satu spesies yang terdampak adalah Gajah Sumatera. Balai Konservasi Sumber Daya Alam pada 2015 mencatat populasi Gajah Sumatera ada 2.400 ekor tersebar di seluruh kawasan Indonesia, di mana hanya tersisa 500-530 ekor di Provinsi Aceh.

Jumlah Harimau Sumatera dari Aceh hingga Lampung diperkirakan hanya tinggal 400 ekor.
International Union for Conservation on Nature (IUCN) mencatat jumlah Badak Sumatera tinggal 300 individu saja dan masuk dalam katagori kritis, sedangkan jumlah Orangutan di Sumatera sekitar 14.600 ekor, di mana menurut IUCN selama 75 tahun terakhir populasi Orangutan Sumatera telah mengalami penurunan sebanyak 80 persen.

Najamudin mengatakan Tim IUNC atau Uni Internasional Untuk Konservasi Alam telah meninjau kawasan tersebut dan meminta Indonesia untuk memperbaiki kerusakan yang ada akibat pembangunan infrastruktur dan perambahan hutan yang ditetapkan sebagai warisan UNESCO pada 2004.

IUNC adalah organisasi internasional khusus konservasi sumber daya alam yang didirikan pada 1948. Lembaga tersebut bertujuan untuk membantu komuntias di dunia dalam konservasi alam.

Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera harus dipertahankan keasliannya.

"Sejak Hutan Hujan Tropis Sumatera kita berjanji bahwa warisan alam tersebut tidak dijamah oleh siapapun dan harus dipertahankan aslinya. Saat ini taman tersebut masih dalam keadaan bahaya dan pada sidang Komite Warisan Dunia ke-41 di Krakow, Polandia kita komitmen untuk mengeluarkan hutan tersebut dari status bahaya pada tahun ini," kata Najamudin Ramli.

Dia mengatakan UNESCO berharap Hutan Hujan Tropis Sumatera tetap menjadi paru-paru dunia dan rumah bagi berbagai macam makhluk hidup.

Hutan Hujan Tropis Sumatera juga memiliki peran mengatur iklim global dengan cadangan karbon yang besar di lahan gambut dan hutan dataran rendah.

Kepala Bidang Sejarah Dunia Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Dohado Pakpahan mengatakan selama lima tahun ada beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mengeluarkan status Hutan Hujan Tropis Sumatera dari daftar bahaya, yang salah satunya memastikan tidak ada pembalakan liar.

Selain itu, Indonesia telah berupaya menaikkan populasi spesies kunci yang ada di dalam Hutan Hujan Tropis Sumatera, seperti badak, harimau, orangutan, dan gajah.

"Sejak ditetapkan statusnya dalam bahaya hingga kini, sudah ada peningkatan jumlah populasi dari spesies kunci. Mudah-mudahan kita dapat menerima kabar baik pada 2018 ini," kata dia.

Dia mengatakan Kementerian Koordinator PMK akan melakukan koordinasi dengan beberapa kementerian terkait seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membuat infrastruktur yang tidak memutus rantai habitat hewan-hewan yang ada di kawasan itu.

"Sekarang ini yang terjadi adalah pembangunan infrastruktur yang masif sehingga memutus rantai habitat hewan yang ada di sana. Misalnya saja badak yang butuh ke pesisir untuk mencukupi kebutuhan garamnya, namun karena ada aspal dia tidak sampai ke sana sehingga itu memutus rantai makanan mereka," kata dia.

Padahal, kata dia, jika ada badak di hutan maka dia dapat membantu mematikan api jika ada kebakaran hutan, sama seperti gajah.

"Maka tidak heran kebakaran hutan terjadi merajalela karena habitatnya telah rusak," kata dia.

Indonesia memiliki 17 situs yang diakui menjadi warisan dunia oleh UNESCO, di antaranya empat warisan alam, empat warisan benda, dan sembilan warisan tak benda.

Warisan alam dunia yang ada di Indonesia adalah Hutan Hujan Tropis Sumatera, Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, dan Taman Nasional Lorentz.

Selain Hutan Hujan Tropis Sumatera, Taman Nasional Lorentz di Papua yang termasuk taman nasional terbesar di Asia Tenggara tersebut juga masuk ke dalam status bahaya. (Ant/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Melamar Wanita yang Sama, 2 Pria Berkelahi di Tempat Umum
Suami Palsukan Kematian, Istri dan Anak Bunuh Diri
Demi Sembuhkan Anak, Orangtua Beli Pulau Rp 2,2 Miliar
Lumpuh Setelah Jatuh dari Ranjang Saat Bercinta
Demi Balas Budi, Seorang Pria Bangun Vila Rp7 Miliar Buat Anjingnya
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU