Home  / 
Salah Posisi, Tempat Sampah Berbahaya Bagi Kesehatan
* Oleh: Aprilia Simamora
Sabtu, 10 Februari 2018 | 15:53:29
Siapa yang tidak mengenal tempat sampah?  Tempat sampah merupakan barang yang wajib ada di setiap rumah tangga, untuk menampung segala sesuatu yang tidak kita gunakan lagi ataupun yang tidak kita inginkan. Kita bisa membuang bahan makanan, barang rumah tangga, dan menampungnya ke dalam suatu tempat yang sering kita sebut dengan tempat sampah. Ketika kita menempatkan tempat sampah di titik yang tepat di rumah kita, tentu saja tidak menimbulkan efek merugikan bagi kita. Namun bila kita menempatkannya di posisi yang salah, hal ini dapat menimbulkan kerugian bahkan bahaya bagi penghuni rumah tersebut.

Posisi tempat sampah yang tidak tepat di rumah misalnya, ditempatkan di dekat lemari tempat penyimpanan makanan. Cepat atau lambat akan mempengaruhi kualitas makanan yang ada dan menimbulkan kontaminasi silang. Kontaminasi silang ini terjadi karena adanya pengaruh dari lingkungan sekitar makanan yang tidak bersih dan mencemarkan makanan yang berada di dekatnya. Sampah yang sudah dihinggapi lalat juga dapat mempengaruhi makanan yang ada di sekitarnya, bila lalat juga hinggap di makanan yang ada di lemari penyimpanan ketika kita membuka lemari tersebut. Lalat berkembang biak di kuku hewan, kotoran, sampah dan selokan. Dimana tubuh dan kaki lalat merupakan tempat menempelnya bakteri dan jamur, kemudian hinggap di makanan kita. Karena lalat memakan kotoran-kotoran, lalat dapat mengandung patogen usus di antaranya adalah Salmonella. Sehingga ketika lalat menghinggapi makanan kita, maka mutu makanan tersebut sudah rusak karena dicemari oleh mikroba tersebut. Beberapa penyakit yang dapat ditularkan oleh lalat melalui makanan adalah disentri, diare, kholera, tiphoid, gatal-gatal pada kulit (Puslitbang Ekologi Kesehatan Badan Litbang kesehatan, Depkes Jakarta).

Ada juga beberapa hewan lain yang sering terdapat di tempat sampah, yaitu kecoa, binatang pengerat (tikus) dan hewan peliharaan seperti anjing dan  kucing. Kecoa adalah hewan yang meninggalkan bau khas pada benda dan mengotorinya dengan feses yang agak cair. Hewan ini menyukai makanan berpati, keju dan bir, tetapi juga memakan hewan-hewan mati, kulit dan kertas dinding. Kecoa membawa kotoran yang mengandung patogen pada kaki dan tubuhnya. Jika kita meletakkan tempat sampah berdekatan dengan lemari penyimpan makanan, pastilah ada peluang bagi hewan ini untuk menghampiri sumber makanan yang disukainya.Ketika kecoa hinggap di makanan kita, kemungkinan hewan tersebut telah mengeluarkan bakteri juga telur dalam makanan. Selain itu kecoa juga dapat menyebarkan bakteri melalui air liurnya. Tifus adalah penyakit akibat infeksi bakteri yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi. Penyakit ini paling sering diderita oleh anak berumur 5 sampai 9 tahun. Penyakit ini dihantarkan oleh kecoa melalui makanan yang dihinggapinya, sanitasi (kebersihan lingkungan) yang buruk akan membuat penyakit ini sulit untuk dideteksi. Kecoa yang mengeluarkan air liur yang dapat menimbulkan alergi terhadap kulit seperti gatal-gatal, memancing gejala asma muncul.

Binatang pengerat seperti tikus membawa penyakit pada kulitnya. Salah satu mikroba penyakit tersebut adalah Salmonella thyphimurium, Salmonella enteritidis dan Salmonella newport. Salmonella merupakan bakteri yang terdapat pada usus manusia ataupun usus hewan dapat menginfeksi manusia melalui makanan yang terkontaminasi bakteri, melalui hewan ataupun melalui lingkungan sekitar. Beberapa orang dapat beresiko tinggi mengalami infeksi karena bakteri ini seperti anak-anak dibawah usia 5 tahun, lansia diatas 65 tahun dan orang yang menderita penyakit imunitas lemah. Gejala yang timbul akibat infeksi bakteri Salmonella ini setelah kita mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi kira-kira 12-72 jam dengan mengalami diare, demam, kram perut. Sakit ini biasanya berlangsung selama 4-7 hari dan kebanyakan sembuh tanpa pemberian antibiotik. Urin tikus juga dapat menyebabkan penyakit leptospirosis disebabkan oleh bakteri leptospira. Penularannya melalui urin tikus yang masuk ke genangan air yang ada di rumah kita, bila kita sedang terkena luka dan air tersebut mengenainya akan menularkan penyakit ini. Penderita penyakit Leptospriosis ini umumnya akan merasakan demam, meriang, disertai pegal atau nyeri. Pada penderita yang sudah parah akan mengalami kekuningan, mata kemerahan dan yang fatal adalah gagal ginjal. Kutu yang terdapat pada tikus juga dapat menyebabkan penyakit pes akibat bakteri Yersinia pestis. Bakteri ini menular melalui gigitan kutu yang hidup pada tikus. Gejala yang muncul adalah demam tinggi dan nyeri pada bagian lipatan paha atau ketiak. Pada penderita yang sudah parah dapat mengalami gangguan pernafasan dan menyebabkan kematian.

Hewan yang juga mungkin tertarik dengan mencari makanan di tempat sampah adalah kucing. Apalagi ketika yang kita buang adalah tulang ikan, atau olahan ikan, pasti kucing segera mencari dimana sumbernya. Ternyata hewan ini banyak mengandung Salmonella yang berasal dari makanannya. Hal ini bisa dihindari dengan cara menjauhkan binatang peliharaan dari makanan yang masih ingin dimakan dan bersih. Infeksi Salmonella terjadi ketika kita memakan bahan mentah, mengkonsumsi makanan yang kontak dengan bahan mentah yang terkontaminasi, mengkonsumsi makanan dan minuman yang sama (berbagi) dengan orang yang terinfeksi.  Infeksi dapat dihindari dengan cara  memakan masakan yang dimasak dengan baik, membersihkan buah dan makanan sebelum dikonsumsi, mengurangi kontaminasi silang dari bahan mentah dengan makanan jadi, mencuci tangan setelah memegang hewan peliharaan, dan tidak menggunakan daerah persiapan makanan menjadi tempat permandian hewan peliharaan. Bagian yang juga menyebabkan penyakit dari hewan kucing ini adalah bagian rongga mulutnya mengandung bakteri Bartonella henselae yang akan menyebabkan kerusakan jaringan kulit bagian dalam dan peradangan yang sulit disembuhkan oleh luka biasa.  Kotoran kucing mengandung parasit toksoplasmosis yang dapat terbawa angin dan terhirup oleh wanita hamil, akan masuk pada plasenta bayi dan mengiritasi organ janin dan menyebabkan bayi lahir cacat. Bulu kucing yang tanpa sengaja masuk dalam saluran pernafasan melalui mulut atau rongga hidung dapat menyebabkan asma kambuh. Parasit toksoplasmosis jika masuk pada pembuluh darah menuju paru-paru dapat menyebabkan jaringan paru menjadi iritasi dan timbul peradangan. Sehingga oksigen yang akan masuk ke dalam tubuh menjadi terhambat dan sistem pernafasan menjadi rusak.

Untuk mencegah potensi bahaya yang disebabkan oleh penempatan yang salah dari tempat sampah di rumah tangga, kita dapat meletakkan tempat sampah jauh dari tempat pengolahan dan penyimpanan makanan dan sebaiknya tempat sampah dilengkapi dengan penutup agar dapat mengurangi hewan-hewan kontaminan, serta dilakukan pembersihan rutin dari tempat sampah rumah tangga. Beberapa bahaya yang ditimbulkan dari penempatan yang salah dari tempat sampah cukup mengancam kesehatan kita sendiri sebagai penghuni seperti terkena diare, gangguan pernafasan, penyakit tifus, dan penyakit lainnya yang disebabkan oleh makteri yang terkandung dari hewan yang sering terdapat pada tempat sampah. Sehingga kita perlu menempatkan tempat sampah pada posisi yang benar di rumah kita. (Penulis alumni FP USU/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sektor Swasta Diajak Dukung Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan Infrastruktur di Danau Toba Terbaik dan Paling Cepat
Peredaran Hoax Makin Memprihatinkan
Bagikan Buku, Kapoldasu: Generasi Penerus Bangsa Harus Cerdas
4 Tersangka Kasus Khashoggi Diduga Orang Dekat Putra Mahkota Saudi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU