Home  / 
Pergulatan Hidup Cosmas Batubara
* (Oleh Sabam Leo Batubara, Jurnalis Senior)
Rabu, 17 Januari 2018 | 17:07:29
Perjuangan hidup Cosmas Batubara berawal dari langkah kecil orangtuanya. Peluang yang telah dirintis oleh bapaknya Karel Batubara dan ibu kandungnya Moraenim Alexia Saragih direspon Cosmas dengan langkah-langkah besar.

Bob Hutabarat, wartawan Kompas usai melakukan pekerjaan jurnalistik ke Tapanuli puluhan tahun lalu menulis di surat kabarnya bahwa sebagian besar tanah Tapanuli Utara berbukit-bukit. Hanya sebagian kecil yang bisa diolah jadi ladang dan sawah. Oleh karena itu jika sepasang keluarga memiliki anak 5 atau 6 orang, hanya satu yang boleh tinggal di desa untuk meneruskan pekerjaan orang tuanya sebagai petani. Anak-anak yang lain harus meninggalkan desa orang tuanya dan mencari peluang hidup lebih baik di daerah lain, seperti Sumatera Timur, Riau dan lainnya.

Jauh sebelum tulisan di Kompas itu, untuk mengatasi peta kemiskinan desa leluhur (bona pasogit)-ketika itu Hindia Belanda belum membuka jalan Tarutung, Balige, Pematang Siantar-pemuda Karel meninggalkan orang tuanya, yang kemudian dikenal sebagai Ompu Jeta di Batubara Toruan. Dengan perahu dia mendayung meninggalkan Balige dan mendaratkan biduknya di Haranggaol.

Karena Karel sudah pernah bersekolah dua tiga tahun, oleh penguasa Belanda dia diangkat mampu menjadi penjaga pesenggarahan wisma peristirahatan Belanda di tepi Pantai Haranggaol. Kemudian dia diangkat menjadi mandor Pekerjaan Umum (PU) jalan raya Haranggaol-Purba Saribu-Purba Hinalang, ketika jalan itu selesai dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda.

Karel ingat adik-adiknya di Balige. Mereka bergiliran dipanggil, pertama Herman (kemudian dikenal sebagai Ompu Henry). Menyusul Simon (Ompu Ida) dan Manase (Ompu Manginar). Tiga Batubara lain keluarga dekat juga berdatangan seperti Paterus, Lamisana dan Peter. Dalam perkembangannya Herman menjadi mandor PU Purba Hinalang-Saribudalok-Merek perbatasan tanah Karo. Paterus menjadi mandor PU di sekitar Pematang Raya. Karena Instansi Irigasi membangun tali air di Kisaran dan sekitar Pardagangan, Lamisana pindah ke Kisaran, Simon ke Pardagangan dan Peter ke Mariah Bandar. Si bungsu Manase berangkat ke Purworejo, Jawa Tengah. Dia diterima menjadi tentara Belanda, di bawah Komandan Batalion Pamurahardjo.

Di zaman Belanda kehidupan 4 putera Ompu Jeta sejahtera. Kemudian Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan NKRI. Untuk mempertahankan kemerdekaan, warga negara siap memberi pengorbanan. Manase menjadi laskar tanpa gaji di Balige. Gaji tiga mandor tidak cukup lagi menghidupi keluarga. Para isteri harus banting tulang menjadi petani. Rumah-rumah termasuk dua rumah toko milik Mandor Herman, yang letaknya di jalan utama Saribudolok dibumi hanguskan oleh laskar. Alasannya, revolusi memerlukan pengorbanan rakyat. Mencegah bangunan dipakai tentara Belanda yang segera datang, semua bangunan harus dibakar.

Ketika ekonomi keluarga tiga mandor lagi memburuk, jajaran Ompu Jeta dirundung kemalangan. Tidak tanggung-tanggung, pemimpinnya Mandur Karel dipanggil menghadap Tuhan Maha Pencipta tahun 1946 pada usia 49 tahun. Beliau meninggalkan 10 anak dari dua isteri. Isteri pertama br.Tambunan melahirkan satu putera, Jeta dan 5 puteri Selly, Naimi, Marianna, Yosephin (menjadi suster biara) dan Dinaria. Putera Jeta ketika masih anak-anak tenggelam ketika belajar berenang di Sungai Bah Bolon Pematang Siantar.

Adat Batak Toba pada waktu itu harus ada anak laki-laki. Musyawarah keluarga memutuskan Karel harus kawin lagi. Beliau menikahi Moraenim Alexia Saragih. Dari ibu Saragih Karel meninggalkan 4 putera dan satu puteri : Tail (usia 13 tahun), Cosmas (8), Resti (5), Sihol (3) dan Mulia (1 tahun). Pada usia 12 tahun gadis kecil Resti meninggal karena sakit.

Meskipun Karel telah meninggalkan keluarga Ompu Jeta, beliau meninggalkan legacy. Poda (nasehat atau ajaran) yang ditularkannya pertama, jadilah petarung. Kedua, tirulah perilaku 4 putera dan 2 puteri Ompu Jeta, yang saling mengasihi. Sesama anggota keluarga Ompu Jeta pantang bertikai, harus kompak. Ketiga, motto keluarga adalah "rap tudolok, raptu toruan". Yang di bawah siap mendorong yang di atas. Yang di atas menarik yang di bawah. "Tiga life qualities tersebut dengan setia dipedomani oleh putera-puteri 4 bersaudara itu. Cucu-cucu generasi ke-3 Ompu Jeta masih percaya 3 poda tersebut adalah kata kunci keberhasilan keluarga.

Siapa penerus tongkat kepemimpinan, yang sebelumnya dimotori oleh Karel, yang ketika masih remaja marsolu (mendayung perahu) dari Balige ke Haranggaol untuk mengubah nasib? Tak salah, dia adalah anak tertua generasi ke-2 Ompu Jeta, Maruli (kemudian pernah jadi anggota DPR/MPR). Tamat IMS-setara SMP-putera Mandur Herman itu berangkat naik kapal kelas dek menuju Jakarta pada tahun 1950. Empat tahun kemudian dia memanggil Sabam Leo Batubara, yang baru lulus SMP RK Pematang Siantar. Maruli yang biasa dipanggil Pak Henry tidak mendaftarkan Leo ke SMA. Dukungan dana tidak memungkinkan. Leo dimasukkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) Santa Maria Jalan Medan Merdeka Timur No. 2 Jakarta, yang diasuh oleh broeder-broeder Belanda. Sekolah itu menjanjikan karena berbeasiswa dan berasrama. Sisa beasiswa masih ada uang saku. Luar biasa meringankan beban keluarga.

Enam bulan menjelang ujian akhir Leo sakit dan dirawat hampir 5 bulan di RSCM, 2 kali dioperasi karena ginjal kanannya penuh batu. Pinggang kanan masih dibalut, tetapi harus berangkat ke Pematang Siantar menyertai abangnya Maruli dan kakaknya H.V. br. Pandiangan yang sedang hamil tua. Apa pasal? Ibu Intanim Purba sakit keras. Ternyata sakitnya sudah setahun kena kanker. Di bulan-bulan terakhir hidupnya dia tinggal di rumah anak tertuanya Korlina, yang adalah isteri dari  Muhamad Jusuf Nasution, Jalan Kartini No. 7 Pematang Siantar. Di keluarga itu tinggal juga adik saya Oloan, siswa SMP (kemudian pernah jadi Jaksa Tinggi Bengkulu) dan Cosmas siswa kelas 3 Sekolah Guru Bawah (SGB).

Malam pertama saya tidur di samping kanan ibu. Air mata saya membasahi ibu. Ibu saya tadinya cantik. Saya tidak tahan melihat pipi kirinya berlubang penuh nanah dan berdarah. Gigi kelihatan. Kanker ganas merusak wajah ibu. Besoknya saya tanya Oloan, siapa yang membersihkan luka-luka Inang, jawabnya:
"Cosmas yang paling rajin." Dua hari kemudian hari Minggu 2 Juni 1957 digelar pertemuan dengan keluarga terdekat. Ada Inang Tua ibu kandung Cosmas.
Pertemuan keluarga membicarakan desakan ibu yang sakit untuk segera kembali ke desa tempat lahirnya Purba Hinalang. Dia merasa akhir hidup sudah sangat dekat. Persoalannya siapa yang merawat di kampungnya? Siapa yang masak? Karena Purba Hinalang jauh dari sumber air, bagaimana mengatasinya?
Keputusannya, ibu yang sakit kembali ke rumah mandor PU di Saribudolok pada Selasa 4 Juni. Besok paginya Rabu 5 Juni 1957 ibu mendesak agar berangkat ke Purba Hinalang, yang jaraknya 4 setengah Km dari Saribudolok. Dengan truk PU pengangkat batu ibu dibawa ke desa tempat lahirnya. Tiba di desa itu penderitaan inang berakhir pada usia 45 tahun.

Usai pertemuan keluarga di Jalan Kartini Pematang Siantar (2/6), saya Leo dipanggil Inang Tua ibunya Cosmas ke satu sudut. Saya selalu mengingat pesan Inang Tua itu : "Saya masukkan Cosmas ke SGB dengan harapan dia mendapat tulage, beasiswa berikatan dinas. Ternyata sudah tiga tahun tidak dapat. Saya tidak mau sogok orang. Boan ma anggim si Cosmas hu Jakarta ase boi banajolma nadear. Bawalah adikmu si Cosmas ke Jakarta agar dia jadi warga yang baik."

Menurut adat Batak Simalungun yang berlaku di sebagian daerah, karena Cosmas berusia lebih muda dari saya, dia adalah adik saya. Adat Batak Toba tegas. Bapak selalu mengajari kami 3 puteranya harus memanggil Cosmas dengan abang. Bahkan kepada adik-adiknya yang lebih muda saya selalu menaati titah bapak saya.

Inang Tua ibu Cosmas melanjutkan : "Ketika Bapak Tuamu meninggal, ibu-ibu tetangga datang melayat. Mereka meratapi (martangis-tangis/mengandungi) Bapak Tuamu. Salah seorang ibu menyuarakan tangisnya dengan nyaring : "Bagaimana nanti nasib eda ini. (Eda panggilan seorang ibu kepada ibu lain). Suaminya meninggal. Anak-anak masih kecil. Tanah sawah yang ditinggal tidak seberapa." Inang Tua Ibu Cosmas melanjutkan ujarannya : "Sabam ! (Di kampung, saya tidak dipanggil dengan nama Leo). Saya mau marah, tetapi tidak bisa. Karena, demikianlah cara di kampung mengekspresikan duka citanya. Tapi ratapan duka cita ibu tetangga itu sepertinya pandang enteng kepada saya. Hal itu mendorong saya dengan bertekad dan mohon perlindungan Tuhan agar saya dapat mengupayakan semua anak-anak saya jadi orang."

Saya merenung. Daur kehidupan berulang. Amang Tua Karel membuat bapak saya Herman jadi orang. Puteranya, Maruli membuat saya jadi orang. Tugas saya untuk menindaklanjuti pesan Inang Tua ibu Cosmas saya maknai sebagai perintah Ompu Jeta dari makamnya di Batubara Toruan, Balige.

Saya kembali ke Jakarta. Yang pertama saya lakukan adalah menemui Broeder Faustinus, Pimpinan Broederan Aluysius, yang mengelola SGA Santa Maria. Saya berujar: "Terima kasih banyak Broeder sudah mengasuh dan memberi saya beasiswa selama tiga tahun ini. Karena sakit, saya boleh mengulang lagi di Kelas 3, Broeder masih berkenan membiayai saya." Saya lanjutkan : "Keluarga saya  menghadapi persoalan. Saudara sepupu saya Cosmas tamat kelas 3 SGB Pematangsiantar. Bapaknya sudah lama meninggal. Ibunya menyampaikan permohonan kepada Broeder agar menyekolahkan dia di SGA kita ini. Dia lebih baik, lebih rajin dan lebih tekun beribadat dari saya." Selama tiga tahun di asrama Broeder, saya sangat hormat kepada pengasuh SGA Santa Maria dan para broeder mempercayai saya. Broeder Fautinus menjawab : "Baik. Suruh Cosmas segera datang. Jangan terlambat mengikuti ajaran baru." Saya surati Cosmas.
Kedatangannya di Jakarta adalah permulaan langkah-langkah besar Cosmas.

LANGKAH-LANGKAH BESAR
Capaian (achievements) yang diraih Cosmas dalam pergulatannya di Jakarta adalah buah dari langkah-langkah besarnya. Pertama, lima puluh tahun usia perkawinan zero konflik, usia menjelang 80 tahun masih sehat bahkan menduduki jabatan-jabatan penting. Pada Minggu 17 Desember 2017 Cosmas dan Cypriana P. Hadiwidjana merayakan pesta emas perkawinannya di Yogyakarta, dimana 50 tahun sebelumnya mereka menerima sakramen perkawinan.

Pada acara Missa berwujud syukuran di gereja St. Antonius Kota Baru yang berlangsung mulai pukul 16.30, di tengah khotbah Pastor, Cosmas diberi kesempatan berbicara. Dia menyatakan: "Saya dan istri saya diberkati di gereja ini 50 tahun persis pada hari, tanggal dan jam yang sama. Terima kasih yang tak terhingga atas berkat Tuhan Maha Pengasih. Saya mengenal istri saya, karena kami sama-sama aktif di pergerakan. Saya pengurus PMKRI Pusat di Jakarta dan istri saya pengurus di PMKRI Cabang Yogyakarta.

Kami berlatar belakang berbeda. Cypriana dari suku Jawa, saya dari suku Batak. Kami membangun kerjasama dalam perbedaan tersebut. Istri saya selama ini tidak pernah meminta apapun lebih dari apa yang saya mampu berikan. Saya disebut tidak pernah marah kepada istri saya. Bagaimana saya harus marah, karena istri saya berperilaku yang tidak patut dimarahi.

Capaian Cosmas selalu rukun dengan istrinya dan tetap sehat dan masih aktif bekerja menjelang usianya 80 tahun tentu saja buah dari langkah besar Cosmas. Rahasianya sudah diungkapkan di gereja St. Antonius (17/12). Kiat lain adalah, bagi Cosmas makan berarti utamanya bukan enak di lidah, tetapi kontribusi makan itu mendukung kesehatan apa tidak. Dia selalu rajin dan disiplin menjaga kesehatannya antara lain dengan teratur berolah raga. Dia selalu membawa alat ukur, apakah beban olah raganya sudah memenuhi standar kesehatan. Dia bisa mengatasi munculnya gangguan seperti frustasi, stres karena dia dan istrinya pasrah kepada penyertaan Tuhan Maha Pengasih.

Kedua, Cosmas pernah 15 tahun menteri dan pernah menjadi Presiden International Labor Organization (ILO) pada 1991. Capaian tersebut diraih karena Cosmas melangkah dari bawah mulai dari Ketua Umum PMKRI Cabang Jakarta, kemudian Ketua Umum PMKRI Pusat. Dia menjadi Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Pusat. Pernah menjadi anggota DPR/MPR.

Ketiga, Cosmas meraih gelar doktor dari Universitas Indonesia pada 2002. Capaian tersebut adalah buah dari semangatnya untuk belajar. Mulai dari SGB, SGA, Perguruan Tinggi Publistik (B.A) Jakarta, 1964. Meraih Drs dari FISIP UI pada 1974. Sangat mungkin hanya Cosmas yang bisa meraih gelar doktor di Universitas Indonesia yang pendidikannya berasal dari SGB. Bagi Cosmas pendidikan yang baik adalah paspor terbaik untuk meraih keberhasilan.

Keempat, menjelang usia 80 tahun Cosmas masih aktif menduduki berbagai jabatan. Sekarang ini dia Direktur Utama PT Agung Podomoro Land, President Commisioner PT Multi Bintang Indonesia Tbk, yang memproduksi bir bintang, dosen Universitas Indonesia, Rektor Podomoro University, Ketua Umum Pengurus Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (PPM). Dia masih memegang berbagai jabatan lainnya.

Kelima, Cosmas tercatat telah menerima berbagai penghargaan seperti "Bintang Mahaputrra Adipradana Republik Indonesia (1982)", "Order of Diplomatic Service Merit Heung-in Medal, Republik Korea, 1979", "Grand Officier de L'orde National du Merite, Republik Perancis, 1987",

Pada tahun 2013, di Aek Sombaon Desa Sialang,Kecamatan Sayur Matinggi, Tapanuli Selatan Komunitas marga Rambe, Batak Mandailing memberi gelar kepada DR Cosmas Batubara sebagai Patuan Panuturi. Raden Ayu Cypriana Pudyati Hadiwidjana diberi gelar Ratu Namora Oloan.

Menurut hemat saya penghargaan itu adalah cerminan dari hidup Cosmas dan Cypriana sesuai konsep Batak, seperti nasehat Joko Widodo kepada menantu dan putrinya pengantin Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu br Siregar dalam Pesta Adat di Medan pada Sabtu 25 November 2017. Nasihat perkawinan itu disampaikan dalam bahasa Batak Mandailing.

Pertama, holong do marobandomu, domu maroban parsaulian, Kasih Sayang membawa persatuan, persatuan membawa kebaikan bersama.

Kedua, hangoluan, teas hamatean, yang berarti harus menjaga sopa santun, kalau melanggarnya akan mendapat malapetaka.

Ketiga, suan tobu di bibir dohot ate-ate, yang artinya manis bukan hanya di mulut tapi juga di hati, kebaikan dilakukan harus sepenuh hati.

Keempat, tangi di siluluton, inte disiriaon, yang mengartikan jika ada kemalangan walaupun tidak diundang wajib datang dan menolong. Namun, jika ada kegembiraan, jangan datang jika tak diundang.

Kelima, bahat disabur sabi, anso bahat salongon, yang artinya kalau kita banyak menanam maka kita akan banyak memetik hasilnya. Banyak-banyaklah berbuat kebaikan, agar kalian memetik kebahagiaan (Warta Kota, 26/11/2017).

Dari rincian di atas tersimpul, komunitas marga Rambe, Batak Mandailing memberikan gelar kepada Dr. Cosmas Batubara dan istrinya Raden Ayu Cypriana P. Hadiwidjana adalah karena pergulatan hidup mereka selama ini berhasil sangat baik. Selain sesuai dengan lima nasehat di atas juga mereka konsisten melaksanakan tiga poda Ompu Jeta.

Langkah-langkah besar yang dilakukan Cosmas Batubara yang membuahkan capaian-capaian luar biasa adalah respon Cosmas kepada langkah-langkah kecil bapak dan ibunya. (h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bacaleg DPRD SU Jan Rismen Saragih Suarakan Pemekaran Kabupaten Simalungun
Kapolres Tes Urine Mendadak Personil Satres Narkoba Polres Simalungun
Partai Golkar Simalungun Gelar Rapat Koordinasi Atur Strategi Perolehan Suara di Pileg dan Pilpres 2019
Seratusan Pengemudi Angkutan Online Unjukrasa ke Kantor DPRD P Siantar
Kelompok Tani di Sumut Dapat Bantuan Hibah Sapi dan Kambing
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU