Home  / 
Pejabat Negara Menyelam dan Dapat Brevet
* Oleh Ahmad Wijaya
Jumat, 12 Januari 2018 | 22:26:00
Kapal Selam KRI Nagapasa 403 yang sedang berlabuh di perairan Benoa, Selat Badung, Bali, tak seperti biasanya kali ini mendapat kehormatan ditumpangi pejabat negara.

Saat itu, Rabu (10/1), di dalam kapal selam itu ada sejumlah pejabat negara Republik Indonesia berkumpul, yaitu Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Kepala Kepolisian RI Jenderal Pol Tito Karnavian, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi dan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono. Selain itu ada juga Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Mereka semua menyelam di dalam kapal selam usai upacara Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengukuhkan KRI I Gusti Ngurah Rai 332 untuk melengkapi sejumlah kapal perang sebelumnya dalam upaya menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saat acara seremonial tersebut semua pejabat negara masih menggunakan pakaian dinas resmi, tapi saat memasuki kapal salam semua berganti kaos lengan panjang warna hitam dan baret berwarna hitam, dengan tertulis nama di dada kanan masing-masing pejabat negara.

Para pejabat tinggi negara itu akan mendapat kesempatan berlayar dengan kapal selam yang melakukan penyelaman di kedalaman 30 meter di bawah permukaan laut di perairan Benoa, Selat Badung.

Saat pelayaran di kedalaman 30 meter itu, para pejabat negara didampingi oleh KSAL Laksamana TNI Ade Supandi dan sejumlah awak kapal selam yang selama ini bertugas di situ.

Para pejabat melaksanakan peran menyelam dan bertempur di kapal selam serta menyaksikan langsung bagaimana sebuah kapal selam beroperasi.

Salah satunya mendeteksi posisi kawan dan lawan melalui periskop, serta mencoba mengoperasikan alat-alat yang ada di kapal selam seperti alat deteksi dan navigasi.

Usai melaksanakan pelayaran dan penyelaman, selanjutnya para pejabat negara diangkat warga kehormatan Hiu Kencana, yang ditandai dengan penyematan brevet kehormatan Hiu Kencana di dada sebelah kanan oleh KSAL Laksanama TNI Ade Supandi.

Penyematan dilakukan dalam suatu upacara di bawah air laut di dalam lambung kapal selam yang berlayar di bawah permukaan laut.

Bentuk penghormatan upacara penyematan brevet kehormatan Hiu Kencana yang dilakukan itu merupakan salah satu bentuk penghormatan dan penghargaan dari TNI AL khususnya satuan kapal selam kepada seluruh tokoh, warga serta jajaran TNI dan TNI Angkatan Laut yang memiliki jasa, perhatian, perjuangan, maupun pengorbanan untuk kejayaan TNI Angkatan Laut, utamanya berpartisipasi demi kemajuan pengembangan kapal selam, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Brevet Hiu Kencana sejatinya merupakan simbol pengakuan terhadap profesonalisme prajurit kapal selam, dalam taktik dan teknik peperangan bawah permukaan laut, yang dapat menumbuhkan kebanggaan dan jiwa korsa bagi para pemakainya.

Demikian juga personel pengawak di kapal selam, memerlukan berbagai kriteria khusus yang harus dipenuhi, baik aspek fisik, kesehatan, kejiwaan dan kesamaptaan jasmani, serta mampu bekerja sama sebagai tim kerja yang solid.

Tuntutan kriteria ini menjadi pembeda antara prajurit kapal selam dengan prajurit yang berdinas di tempat lain. Atas dasar itu, pemimpin TNI Angkatan Laut memberikan penghargaan bagi personel pengawak kapal selam dengan atribut kebanggaan, yaitu Brevet Hiu Kencana.

Bagi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi penyematan brevet ini amanah dan bagi dirinya merupakan tantangan untuk bisa memberikan suatu yang lebih berarti bagi kejayaan dan kemajuan laut Indonesia.

Menhub mengakui banyak sekali tantangan di laut Indonesia mengingat posisinya yang sangat strategis dan dilalui banyak kapal asing yang memerlukan pengawasan.

Penyematan brevet ini akan memberikan semangat kepada dirinya juga Kementerian Perhubungan untuk berkolaborasi dengan TNI khususnya Angkatan Laut, juga Polri untuk menjaga keamanan dan keutuhan perairan Indonesia.

Soal perlu stamina yang luar biasa saat memasuki kapal selam dan berlayar di kedalaman air, Budi Karya mengakui memang sangat membutuhkan stamina yang luar biasa untuk bisa berlayar di kedalaman air laut berjam-jam.

"Terus terang tadi saya sempat sedikit merasa pusing dan mual juga, sekalipun tidak harus berjam-jam di kedalaman laut, katanya.

Setelah melihat sendiri bagaimana beratnya tugas TNI AL menjaga perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Menhub sangat setuju jika kekuatan Angkatan Laut perlu dioptimalkan dengan terus menambah dan memperbaharui armada, sehingga siap dalam menghadapi tantangan dan ancaman dari pihak luar.

Kementerian Perhubungan pun menyatakan siap mendukung dan kerjasama dengan TNI Angkatan Laut untuk bersama-sama memperkuat kekuatan armada kapal di laut yang selama ini dinilai masih belum terlalu optimal.

Usai melaksanakan kegiatan tersebut, di hadapan wartawan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyampaikan bahwa menaiki kapal selam lebih tajam sensasinya karena banyak prosedur yang harus dilakukan dengan ruangannya sempit begitu masuk ke dalamnya, dan apa yang harus dilakukan di sana.

Para awak kapal selam lebih baik menyelam dari pada di permukaan, karena kalau di dalam sama sekali tidak ada ombak, nyaman, tetapi ikut menyelam beberapa menit saja merasakan dan prajurit kapal selam ini harus mendapat perhatihan khusus.

"Jalesveva Jayamahe", di Lautan Kita Jaya. (Ant/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Gerak Jalan Beregu dan Jalan Santai Brigade Kartini AMPI Medan
BI dan DPRD Harus Kordinasi Atasi Pengangguran dan Kemiskinan di Medan
KPU Gelar Coklit Serentak Nasional di Hamparanperak
Wagubsu Jenguk Bocah Korban Penganiayaan dari Paluta di RS Adam Malik
Gubsu Tengku Erry Harapkan JCI Medan Bisa Tingkatkan Peran Pemuda
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU