Home  / 
Seruan Doa dan Ucapan Syukur Tahun Baru 2018
Mewujudkan Damai Sejahtera Kristus
* Oleh Bishop Kristi Wilson Sinurat STh MPd
Selasa, 9 Januari 2018 | 16:56:34
Kita sudah mengarungi samudera kehidupan di Tahun Baru 2018. Sebagai umat yang percaya, hal ini dapat diartikan sebagai suatu kesempatan yang Tuhan berikan agar setiap orang bersyukur dan menempatkan dirinya pada barisan perjuangan kehidupan yang dikehendaki Allah. Oleh karenanya, hal ini harus diimani dan menjadi sebuah momen pemaknaan hidup bagi setiap orang guna mewujudkan panggilan identitasnya sebagai orang yang percaya pada Tuhan dan sebagai bagian dari suatu komunitas orang percaya (gereja).

Walaupun pada saat bersamaan, ketika kita mensyukuri tahun yang baru ini, dunia internasional sedang dilanda kebencian berwujud perang saudara, ancaman perang antar negara dan semakin menguatnya terorisme atas nama agama. Dalam skala nasional, tahun ini bangsa Indonesia akan menggelar 171 Pilkada serentak. Jika kita belajar dari tahun yang lalu, maka pemilihan Gubernur, Bupati, Wali Kota, kita harapkan penuh dengan damai sejahtera, tidak terjadi kebencian berwujud kerusuhan karena perbedaan agama, suku atau etnis.

Tanpa melupakan prestasi kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo dengan keberhasilan pembangunan infrastruktur dan sistim pembangunan ekonomi yang baik, Indonesia masih harus berhadapan dengan persoalan korupsi, kemiskinan serta kehidupan yang jauh dari kehidupan yang dikehendaki Allah. Pada faktanya, bangsa kita masih menjadi sasaran peredaran narkoba dan semakin rusaknya alam semesta ciptaan Tuhan. Juga masih adanya pergumulan akibat bencana alam yang merusak sendi-sendi kehidupan dan menyisakan penderitaan bagi keluarga-keluarga korban yang selamat.

Realitas kehidupan demikianlah yang harus diperhatikan umat Tuhan dan terus menjadi bagian pergumulan mewujudkan panggilan gereja. Walaupun pada saat yang bersamaan gereja selalu terancam perpecahan akibat adanya perbedaan paham dalam mewujudkan peran institusinya. Maka, dalam realitas dan panggilan kesadaran demikian, gereja memaknai momen tahun baru saat ini pada pemaknaan waktu sebagai "kairos". Di dalamnya terkandung anugerah, berkat, mujizat kuasa Tuhan yang memberi hidup secara berkesinambungan. Pemaknaan waktu sebagai kairos, akan menjadikan hidup bukan pada kehidupan sirkulatif, yang berulang-ulang tetapi sebuah kesempatan guna mewujudkan panggilan identitas umat Tuhan dalam praktek hidup bergereja.

Yesus Memberi Identitas
Panggilan mewujudkan identitas diri sebagai umat beriman dalam realitas konteks hidup umat Tuhan menjadi salah satu pergulatan teologis terpenting dalam warisan sejarah gereja. Sebab faktanya, khotbah atau pengajaran dan keterlibatan Tuhan Yesus dalam kehidupan pelayanan-Nya adalah sebuah tindakan mewujudkan misi kerajaan Allah guna mewujudkan damai sejahtera bagi dunia. Kehadiran dan pelayanan Yesus juga menjadi sebuah proses penyadaran makna beriman bagi kelompok-kelompok keagamaan yang berkembang subur pada masa pelayanan-Nya.

Para pewaris agama Yahudi berbendera Zelotisme selalu memaknai kehidupan iman dalam wujud kekerasan guna menumbangkan penguasa dunia. Iman kaum Zelotisme dibangun pada kesadaran bahwa setiap hal yang tidak seturut pada nilai-nilai kerajaan Allah harus dihabisi dengan cara kekerasan karena dianggap benar atas nama agama Yahudi. Demikian juga dengan pewaris iman eseni. Kelompok ini memahami iman dengan hanya berdoa serta menjauhkan diri atau tidak peduli dengan kehidupan masyarakat karena dunia dianggap penuh dengan kenajisan dan dosa. Dan pihak Farisi dianggap sebagai orang yang paham aturan agama Yahudi tetapi tidak menjalankan ajaran agamanya dalam realitas kehidupan sosial pada masa itu.

Jadi, kehadiran Tuhan Yesus menjadi jawaban atas pemaknaan iman dalam realitas konteks hidup sebagaimana dipahami kelompok-kelompok keagamaan pada masa pelayanan-Nya. Yesus tidak hanya berdoa, tidak hanya tahu ajaran agama Yahudi. Dan pada saat bersamaan, Tuhan Yesus hendak memperbaiki realitas sosialnya tetapi bukan dengan kekerasan. Itulah yang kita lihat dalam khotbah di atas bukit. Dalam Matius 5, Tuhan Yesus menyatakan suatu identitas bagi para pengikut-Nya.

Pemberian identitas dimaksud, bersifat aksiomatik serta berfungsi imperatif dalam konteks hidup umat Tuhan bahwa "Kamu adalah garam dan terang dunia". Pada prakteknya, identitas dimaksud adalah sebuah panggilan suci (berufung) bagi umat Tuhan untuk menggumuli identitasnya dalam menjalani kehidupannya. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus memberi sebuah nilai mulia bagi setiap orang beriman dengan pernyataan, "Berbahagilah orang yang membawa damai sebab mereka adalah anak-anak Allah".

Model pengajaran demikian menjadi sebuah panggilan agar murid-murid Tuhan Yesus belajar mengenai iman dalam setiap proses interaksi langsung dan melalui pendengaran atas pengajaran, serta dengan melihat tanda-tanda mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus. Dengan praksis kehidupan kemuridan demikian, Tuhan Yesus telah mengajarkan arti dan makna iman dalam realitas kehidupan umat itu sendiri. Metode ini bukan didasarkan pada teori filsafat atau rumusan teologis mengenai iman. Sebaliknya, Tuhan Yesus hendak mengajak kesadaran para murid untuk merumuskan arti iman melalui praktek hidup guna mewujudkan identitas dirinya.

Kesadaran teologis demikian juga kita lihat pada jemaat mula-mula. Walau mengalami penganiayaan karena identitas iman pada Yesus, mereka tidak lari dari realitas hidup atau melawan penguasa dengan kekerasan. Mereka mewujudkan identitas berimannya dengan hidup dalam damai sejahtera dan disukai banyak orang. Mereka menjadikan peristiwa kebangkitan Yesus sebagai dasar iman percaya. Pengertian iman, lahir melalui setiap persekutuan umat Tuhan yang merayakan kebangkitan Tuhan Yesus. Dengan adanya kebaktian, jemaat mula-mula masuk dalam communion (persekutuan) yang nyata dengan Allah, kemudian merumuskan keyakinan iman tentang Allah. Dengan demikian, pemahaman mengenai iman tidak dipisahkan dari praktek hidup guna mewujudkan identitas diri sebagai umat Tuhan.

Gerakan Methodist Wesley
Kesadaran identitas demikian selalu diwariskan dan dipraktekkan dalam kehidupan umat beriman sebagaimana diungkapkan dalam sejarah gereja. Pergulatan teologis yang menggugah John Wesley sebagai pemimpin pergerakan Methodist dalam memperjuangkan identitas dan panggilan imannya dalam realitas konteksnya menjadi penting dikemukakan dan diwarisi sampai masa kini dalam Gereja Methodist sedunia. Sebab pada faktanya, sebagai seorang yang memiliki pendidikan yang baik di Oxford University, John Wesley dan saudaranya Charles Wesley terpanggil dalam mewujudkan imannya dalam realitas kehidupan sosial ekonomi di Inggris Raya masa itu.

Walau mengalami pengucilan dari Gereja Anglikan sebagai gereja induknya dan tempat ayahnya sebagai seorang pendeta, John Wesley hidup dengan ugahari dan konsisten memanggil orang-orang miskin, orang berpendidikan untuk menyadari dan memaknai identitas dirinya sebagai garam dan terang dunia untuk menyatakan damai sejahtera Allah. Ia menyadari bahwa magnitude nasionalisasi masalah gerakan Methodist oleh Gereja Anglikan tidak lebih penting dari magnitude pergulatan mewujudkan identitas panggilannya.

John Wesley selalu menyimpan uang dari hasil pelayanannya guna membantu orang-orang miskin. Praktek hidup ugahari demikian bukan atas dasar karitatif tetapi buah dari kehidupan yang ugahari, sederhana dan rela membantu orang miskin. Sebagai sebuah catatan bandingan bahwa ketika Wesley berpenghasilan 30 pounds setahun dia memakai 28 pounds dan mempersembahkan 40 shilling atau 2 pounds. Tahun berikutnya Wesley menerima 60 pounds, dia mempertahankan pengeluaran sebesar 28 pounds dan memberikan 32 pounds. Demikian juga pada tahun ketiga, dia menerima 120 pounds, namun tetap hidup dengan 28 pounds dan memberikan 92 pounds untuk orang-orang miskin. Diperkirakan, selama hidupnya John Wesley telah memberikan 30.000 pounds (Rp 19 miliar).

Bapak pergerakan Methodist ini, sampai akhir hidupnya secara konsisten mempraktekkan kehidupan ugahari, sederhana, berdisiplin, sehat sehingga mempunyai dinamika pelayanan yang hebat dan berdampak besar sampai saat ini. John Wesley sangat gigih berkotbah di tempat terbuka bagi orang miskin dan tidak berpendidikan. Sehingga banyak buruh tambang di Liverpool mampu meninggalkan cara hidup yang mabuk karena minuman beralkohol dan senang berkelahi menjadi buruh berkelakuan baik yang bertangungjawab.

Mereka telah membawa Inggris pada transformasi rohani dan sosial. Itulah sebabnya, dalam sejarah perjuangan etika politik dunia dicatat bahwa perjuangan John Wesley dengan gerakan Methodist telah menyelamatkan Inggris dari revolusi sosial sebagaimana terjadi di Francis. Inggris dapat diselamatkan dari perpecahan antara orang kaya dan miskin, perang antar suku. Transformasi rohani dan sosial membuat perubahan di Inggris dengan penuh kasih, perdamaian dan kehidupan ugahari.

Revitalisasi Panggilan Gereja
Walaupun gereja selalu diancam perpecahan karena adanya nilai-nilai manusiawi dalam wujud institusinya, tetapi pada saat bersamaan gereja tidak boleh lupa bahwa Yesus Anak Allah di dalam Roh Kudus adalah pemimpin, gembala agung dan pemilik gereja. Kesadaran iman ini menjadi dasar bertindak praktek bergereja bagi setiap umat Tuhan untuk berada dalam dunia guna mewujudkan panggilan identitas bagi kehidupan yang damai sejahtera. Praktek bergereja juga harus mampu memperbaiki kehidupan ekonomi, kesehatan, pendidikan, etika, moral, keugaharian sebagai pemaknaan hidup damai sejahtera.

Itulah sebabnya, Gereja Methodist Indonesia, dalam program kerjanya tahun ini mencanangkan program revitalisasi terhadap setiap elemen pelayanannya. Guna percepatan tujuan program ini, sangat dipentingkan perihal pembinaan sumber daya manusia secara khusus bagi para pendeta sebagai pemimpin dan pelayan dalam gereja. Para pendeta diharapkan mampu sebagai penggerak utama perwujudan damai sejahtera dengan memahami dan mempraktekkan pelayanan Tuhan Yesus dalam perspektif teologi Wesley, etika hidup Methodist. Dengan pemberdayaan sumber daya manusia para pendeta akan berdampak kuat pada setiap umat Tuhan di unit pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial yang dikelola gereja Methodist Indonesia.

Keyakinan iman dan prakatek bergereja demikian akan memampukan umat Tuhan untuk hidup dalam damai sejahtera dan menghadapi realitas dunia saat ini yang diancaman peperangan, ancaman perpecahan dan kekerasan sosial bernuanasa SARA khususnya dalam Pilkada serentak di Sumatera Utara.

Dengan program revitalisasi Gereja Methodist Indonesia, akan berdampak pada praktek hidup sebagai garam dan terang menciptakan masyarakat yang damai sejahtera, sehat, berpendidikan, ugahari dan berkeadilan sosial. Sehingga warisan sejarah pergerakan Methodist di Inggris akan mampu dihadirkan oleh Gereja Methodist Indonesia sebagai bagian dari anak Bangsa di Republik Indonesia.

Akhirnya, dengan mengingat limpahan berkat dan karunia yang diberikan Tuhan dalam kehidupan kita di tahun 2017 lalu, saya mengajak kita untuk memanjatkan doa pengharapan dan mensyukuri tahun baru 2018 ini sebagai kairos Tuhan guna memampukan kita mewujudkan identitas sebagai garam dan terang demi kehidupan damai sejahtera dari Kristus Yesus. Sehingga kehadiran Gereja Methodist Indonesia menjadi saluran kasih damai sejahtera Kristus dalam memberkati seluruh ciptaan Tuhan. Selamat Menjalani Kehidupan di Tahun Baru 2018. (Penulis adalah Pimpinan Gereja Methodist Indonesia/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Partai Perindo Target 70 Persen Suara untuk Pasangan Jokowi - Amin di Sumut
Ratusan Warga Porsea Berangkatkan dan Doakan Caleg DPR RI Partai Hanura Edison Manurung
Bupati Karo Launching Musik Campursari Diatonis dan Pentatonis di Berastagi
Penyanyi Cilik Berdarah Indonesia Dapat Golden Ticket American Idol
Nostalgia Artis 3 Generasi Lantunkan Lagu Top-40
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU