Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Danau Toba: Apa Kabarmu Kini?
* Oleh : Irjen Pol Drs. M. Wagner Damanik, M.AP
Senin, 16 Oktober 2017 | 14:56:51
Pemerintah telah menetapkan target kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 20 juta pada tahun 2019. Pencapaian target ini menjadi sangat strategis karena sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa terbesar keempat pada tahun 2015 (Data BPS 2015). Demi mencapai target tersebut beberapa kebijakan telah ditetapkan termasuk menciptakan"10 Bali Baru" , yang salah satunya pengembangan Kawasan Danau Toba dengan membentuk Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) sesuai Peraturan Presiden Nomor 49 tahun 2016. Pemerintah melalui BPODT ini sudah harus merancang dan mulai mengembangkan kawasan Danau Toba menjadi destinasi wisata berkelas dunia (world class).

Program pengembangan destinasi wisata Danau Toba yang dicanangkan pemerintah sudah mulai terasa dampak positifnya, yakni meningkatnya jumlah kunjungan wisata. Namun berbagai persoalan lain belum terselesaikan dengan baik, antara lain sifat dan karakter masyarakat lokal yang cenderung belum siap menjadi tuan rumah yang baik, infrastruktur jalan menuju tempat-tempat wisata masih perlu perbaikan,sarana dan prasarana yang terkait dengan moda transportasi, kuliner, tempat parkir, serta berbagai prasarana lainnya masih jauh dari memadai, sehingga mendesak untuk segera dibenahi.

Aspek Aksesibilitas, Amenitas dan Atraksi
Aksesibilitasya itu kemudahan akses untuk menuju kawasan destinasi wisata, meliputi fasilitas bandara, kemudahan transportasi, sarana jalan menuju dan di tempat wisata serta infrastruktur penunjang lainnya.Jika aspek ini dihubungkan dengan situasi Danau Toba terkini, tentu masih sangat banyak yang perlu diperbaiki dan dibangun. Bandara berkelas internasional harus segera diwujudkan khususnya Bandara Silangit, sehingga dapat disinggahi pesawat-pesawat berbadan besar baik dalam negeri maupun luar negeri. Demikian juga jalan-jalan penghubung antar daerah wisata di kawasan Danau Toba yang masih belum memadai. Aspek ini menjadi salah satu ketertinggalan Danau Toba jika dibanding dengan wilayah lain, seperti Bali. Untuk keindahan alamnya, tentu Danau Toba tidak kalah dengan Bali.Namun dari jumlah kunjungan wisatawannya, Danau Toba jelas jauh tertinggal, hal ini mungkin disebabkan ketertinggalan aksesibilitas seperti yang dikemukakan di atas.

Amenitas, yaitu fasilitas pendukung yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan para wisatawan selama berada di destinasi wisata, seperti halnya hotel, motel, home stay, restoran, bar, diskotik, coffee shop, shopping center, souvenir shop, termasuk jaringan internet serta pendukung fasilitas lainnya. Aspek ini juga masih dirasakan kurang, apalagi menyangkut konsumsi makanan halal bagi wisatawan muslim, termasuk sarana ibadah (masjid dan mushola). Hal ini harus menjadi prioritas untuk diadakan agar para wisatawan semakin banyak berkunjung dan betah untuk berlama-lama tinggal di lokasi wisata tersebut.

Atraksi berupa penciptaan daya tarik pariwisata yang menjadi fokus perhatian dan motivasi utama wisatawan berkunjung ke destinasi wisata. Kawasan Danau Toba sekitarnya dihuni setidaknya 5 (lima) Suku Batak, yaitu Simalungun, Toba, Karo, Pakpak dan Mandailing. Masing-masing suku ini kaya dengan budaya baik bendawi maupun non-bendawi yang menarik dan unik, yang bisa dipertunjukkan kepada wisatawan seperti halnya Museum, Rumah Bolon, Makam Raja termasuk seni budaya berupa tari-tarian/tor-tor, menenun ulos, teater cerita rakyat/opera, musik dan lagu. Selain itu tentu masih banyak atraksi lain yang bisa dikembangkan seperti wisata agrikultur, hutan alam, fasilitas olah raga air, para layang, kereta gantung dan bahkan bisa saja menciptakan pertunjukan tentang bagaimana terbentuknya Danau Toba (Kaldera Toba). Namun yang kita lihat sekarang ini masih jauh dari harapan. Pertunjukan yang menampilkan karya seni dan budaya sangat jarang dilaksanakan termasuk pameran produk-produk hasil karya budaya masing-masing kabupaten.Padahal menurut hasil Passangers Exit Survey menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia 60% ketertarikannya adalah karena faktor budaya, sedangkan sisanya faktor keindahan alam dan kuliner.

Persoalan di depan mata
Jika menilik pada latar belakang budaya, semua suku Batak berasal dari kerajaan-kerajaan kecil yang berasal dari marga-marga. Keadaan historis  demikian terbawa juga dalam sistim kekerabatan dan upacara-upacara adat, yang selalu ada unsur yang berkedudukan sebagai "Raja", dan itu berlaku pada semua marga. Mungkin latar belakang demikianlah yang menjadi penyebab munculnya sikap sebahagian masyarakat yang sulit berperilaku sebagai pelayan, merasa berkuasa, merasa pintar, susah diatur, mau menang sendiri dan sebagainya. Sungguhpun demikian masih banyak juga hal-hal positif dari budaya tersebut.  Menghadapi sikap demikian maka peranan semua pihak, seperti halnya tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan tokoh agama sangat diperlukan guna mengubah karakter tersebut sehingga terbentuk budaya melayani dari masyarakat yang berada di kawasan wisata Danau Toba.

Faktor keamanan dan kenyamanan tentu juga menjadi salah satu pertimbangan yang sangat berpengaruh ketika seseorang ingin berwisata ke suatu tujuan. The Economic's Intelijen Unit (EIU) baru-baru ini merilis setidaknya ada 4 (empat) faktor keamanan yaitu: Pertama, Keamanan digital berupa keamanan dari gangguan cyber, privasi dan keamanan dari pencurian identitas melalui kegiatan internet/digital; Kedua, Keamanan kesehatan berupa biaya dan kualitas pelayanan kesehatan yang baik, lingkungan yang nyaman dan bersih, serta kualitas udara dan air yang baik; Ketiga, Keamanan infrastruktur yang meliputi kondisi jalan yang baik dan nyaman, jembatan dan bangunan yang aman, serta kenyamanan dan keselamatan transportasi; dan Keempat, Keamanan pribadi yaitu bebas dari tindakan kejahatan atau kekerasan, sehingga terbangun persepsi bahwa keamanan pribadi juga dijamin oleh negara.

upaya strategis
Dalam pengembangan kepariwisataan khususnya menuju destinasi wisata berkelas dunia, peranan dari beberapa komponen ini juga tidak boleh dinafikan antara lain :pemerintah, pelaku industri pariwisata, masyarakat dan wisatawan itu sendiri.

Pemerintah mempunyai peranan penting dalam menetapkan kebijakan yang berpihak kepada pengembangan pariwisata dan memastikan bahwa kebijakan tersebut berjalan dengan baik. Kemudahan -kemudahan dalam perizinan, pengembangan budaya bendawi dan non-bendawi, penyiapan infrastruktur jalan, pembangunan tempat-tempat atraksi wisata, kebersihan, keamanan, pameran atau promosi wisata melalui penyelenggaraan event-event yang menarik baik skala nasional maupun internasional dan kegiatan kepariwisataan lainnya. Mengingat luasnya cakupan wilayah Danau Toba, sangatlah penting dilakukan pemerataan pembangunan kepariwisataan di beberapa titik kabupaten, sehingga dengan menyebarnya lokasi wisata tersebut, akan dapat memperpanjang masa tinggal para wisatawan. Atas dasar itu maka peran strategis dan sinergitas pemerintah melalui BPODT  bersama pemerintah daerah di Sumatera Utara khususnya kawasan Danau Toba, sangatlah ditunggu kiprahnya.Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah penegakan hukum bagi setiap tindakan maupun perilaku yang menghambat pengembangan pariwisata.

Pelaku Industri Pariwisata juga berperan untuk menciptakan suasana wisata yang berkembang maju, termasuk penyediaan akomodasi berupa hotel dan rumah sakit berstandar internasional, home stay yang layak huni, moda transportasi yang murah dan nyaman, rumah makan/restoran yang kesemuanya dilengkapi dengan daftar harga, demikian juga informasi pelayanan pariwisata lainnya melalui pemanfaatan teknologi terkini dalam bentuk e-tourism. Salah satu yang sangat mendesak untuk segera dipersiapkan adalah bidang kuliner. Kehadiran Raja Salman dengan masa tinggal yang cukup lumayan lama di Bali tentu merupakan peluang sekaligus tantangan bagi Danau Toba. Negara-negara Arab yang tergolong kaya merupakan potensi yang harus digarap, namun persoalan kuliner merupakan satu hal yang cukup kritis karena di kawasan Danau Toba belum ada penataan yang baik terkait dengan kuliner. Wisatawan Timur Tengah (Middle East) umumnya beragama Islam tentu sangat menyaratkan wisata halal, yakni pelayanan wisatawan yang merujuk pada konsep Islami. Konsep ini bukan sesuatu yang sulit dilaksanakan, karena Indonesia sudah dua tahun berturut-turut (2015 & 2016) meraih kemenangan  dalamWorld Halal Tourism Award.

Komponen lain adalah Masyarakat yang tinggal di kawasan wisata yakni menyiapkan masyarakat yang sadar wisata. Dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk hal ini, baik dari tokoh masyarakat, pemerintah, pelaku industri pariwisata dan pihak-pihak terkait lainnya. Mengingat masyarakat Batak mempunyai karakter budaya yang khas seperti saya sebutkan di atas, maka diperlukan upaya konsistensi yang terus menerus menggali dan mengaktualisasikan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Filosofi "Dalihan Na Tolu" (tungku berkaki tiga), yaitu somba marhula-hula, (hormat kepada keluarga dari istri), manat mardongan tubu (menghargai sesama saudara/semarga) dan elek marboru (mengasihi keluarga suami dari saudara perempuan), harus digali nilai-nilai luhurnya untuk ditransformasikan guna mewujudkan budaya pelayanan. Hula-hula dalam dunia pariwisata diibaratkan sebagai wisatawan, karena mereka inilah yang harus kita hormati dan layani.Semakin banyak dan lama mereka berkunjung, maka semakin banyak pula devisa negara maupun pemasukan bagi ekonomi masyarakat. Untuk itu wisatawan harus diperlakukan baik dan hormat bagaikan seorang raja (parrajaon dalam budaya Batak). Dongan Tubu diibaratkan mitra dalam membangun dan mengembangkan kepariwisataan yaitu pemerintah dan pelaku industri pariwisata, yang harus diajak bekerjasama untuk menciptakan suasana wisata yang aman, nyaman dan menyenangkan. Sedangkan Boru dimaksud adalah sikap dan perilaku sebagai boru memperlakukan hula-hulanya yaitu menghormati,melayani dengan 3 S (senyum, sapa, salam), ramah dan jujur serta berusaha memberikan yang terbaik kepada hula-hulanya (wisatawan). Perlakukan boru yang baik dan simpatik akan membuat wisatawan puas, sehingga tidak mustahil mereka akan datang kembali berwisata.

Komponen yang juga tidak kalah penting adalah Wisatawan itu sendiri. Kehadiran para wisatawan jangan sampai menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan masyarakat di kawasan wisata. Diharapkan ada pengaturan dan sosialisasi yang sistematis oleh pemerintah maupun pelaku industri pariwisata, guna mencegah timbulnya kasus-kasus kriminal seperti peredaran narkoba, minuman keras, seks bebas, prostitusi, pedofilia, porno aksi dan lain sebagainya.Wisata sehat, halal, ramah lingkungan dan hal positif lainnya harus terus menerus dikampanyekan, sehingga tercipta sikap wisatawan yang kondusif bagi pengembangan wisata Danau Toba.

Semua hal ini hanya bisa terwujud apabila ada sinergitas optimal dari seluruh pihak yang terkait dengan kepariwisataan seperti yang diutarakan di atas. Danau Toba adalah milik kita bersama yang perlu dirawat, dipelihara dan dikembangkan sehingga dapat berkontribusi dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Semoga terwujud. (Penulis adalah Tenaga Pengkaji Lemhannas RI/c).


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Anggun Raih 2 Penghargaan Sekaligus dalam Bama Music Awards di Hamburg Jerman
Barang-barang John Lennon yang Dicuri Ditemukan tapi Polisi Tak Bisa Tangkap Tersangkanya
Kendall Jenner Model Termahal Setahun Berpenghasilan Rp28,6 Miliar
Animator Sohor Jepang Ditangkap Kasus Pornografi Anak
Foto Bagian Sensitif Madonna Saat Remaja Dilelang
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU