Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Sepuluh Desa Wisata Terbaik Versi Pemerintah
* Oleh Hendra Agusta dan Ira Febrianti
Selasa, 16 Mei 2017 | 16:57:22
Menjadi yang terbaik adalah harapan banyak orang atau daerah apalagi untuk tingkat nasional, karena hal itu merupakan pengakuan keberhasilan yang telah diraih, seperti menjadi sepuluh desa wisata terbaik di Indonesia.

Begitu pula terpilih masuk menjadi sepuluh desa wisata terbaik di Indonesia merupakan pengakuan pemerintah bahwa daerah tersebut dianggap berhasil mengembangkan dan mengelola sektor pariwisata.

Seperti diumumkan oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Sandjojo yang memberikan penghargaan kepada sepuluh desa yang berhasil mengelola potensi pariwisata untuk memajukan ekonomi.

"Penghargaan ini menunjukkan bahwa desa mampu berkembang dan berprestasi," katanya saat memberikan penghargaan tersebut dalam kegiatan Expo BUMDes 2017 di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Sepuluh desa penerima penghargaan itu terdiri dari sepuluh kategori, yaitu pertama Nagari (desa adat) Sungai Nyalo di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat terpilih sebagai desa wisata terbaik untuk kategori perkembangan tercepat.

Kedua, Desa Madobak di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat sebagai desa adat terbaik. Ketiga Desa Tamansari di Banyuwangi, Jawa Timur sebagai desa wisata terbaik kategori jejaring bisnis.

Selanjutnya keempat, Desa Pujon Kidul di Malang, Jawa Timur sebagai desa wisata terbaik kategori agro. Lalu kelima, Desa Seigentung, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai desa wisata terbaik kategori ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berikutnya keenam, Desa Ubud di Gianyar, Bali sebagai desa wisata terbaik kategori budaya. Ketujuh, Desa Waturaka di Ende, Nusa Tenggara Timur sebagai desa wisata terbaik kategori alam.

Kedelapan, Desa Ponggok Klaten, Jawa Tengah sebagai desa terbaik pemberdayaan masyarakat. Kesembilan Desa Teluk Meranti Pelalawan, Riau sebagai desa wisata kategori kreatif.

Terakhir, Desa Bontagula di Bontang, Kalimantan Timur sebagai desa wisata terbaik kategori maritim.

Pemberian anugerah bagi sepuluh desa wisata terbaik dilaksanakan dalam rangka mendukung visi pemerintah untuk memajukan daerah melalui pariwisata karena sektor tersebut dinilai cepat dan mudah dikembangkan.

"Melalui penghargaan desa wisata terbaik, diharapkan akan menjadi motivasi bagi desa lainnya bahwa desa mampu berprestasi sehingga pemerataan pembangunan di Indonesia dapat terwujud," ujar Eko Sandjojo.

Menurutnya pada 2017 Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia memiliki empat program prioritas untuk membangun desa yaitu pengembangan produk unggulan, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), membuat embung dan membangun sarana olahraga.
Setiap desa diminta untuk menjalankan setiap program itu melalui pemanfaatan dana desa yang tahun ini dialokasikan sebesar Rp800 juta untuk masing-masingnya.

Tren Desa Wisata Desa wisata saat ini menjadi tren (kecenderungan) dalam pengembangan destinasi baru di Indonesia dan banyak daerah yang melakukan hal itu terutama dalam meningkatkan perekonomian lokal.

Seperti Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padangpariaman, Sumatera Barat yang kini tengah mengembangkan desa wisata untuk ditawarkan kepada wisatawan nusantara dan mancanegara yang ingin mempelajari kebudayaan di pedesaan daerah itu.

"Desa wisata yang sedang dikembangkan itu berada di Korong Lambeh, Nagari (desa adat) Malai III Koto, Kecamatan Sungai Geringging," kata Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Padangpariaman, John Kenedi.

Menurutnya yang ditawarkan di desa wisata tersebut yakni kehidupan pedesaan yang masih memiliki sejumlah tradisi sehingga wisatawan dapat mempelajari kebudayaan masyarakat setempat.

Kelebihan desa wisata Lambeh adalah telah memiliki pelaku ekonomi kreatif seperti pelukis dan ke depan akan diupayakan ada perajin sebagai nilai tambah dari sebuah desa wisata.

Dalam mengembangkan desa wisata di daerah itu pihak Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Padangpariamannya tidak membutuhkan pembangunan infrastruktur, khusus karena konsepnya hanya menggunakan sarana yang dimiliki masyarakat itu sendiri.

"Seperti rumah, tempat ibadah, lahan pertanian, sarana kebudayaan dan sarana olahraga yang telah dimiliki di daerah itu," ujarnya.

Sedangkan Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Padangpariaman, Wiwik Herawati menyebutkan sebelum suatu daerah dijadikan desa wisata, pihaknya akan memberikan pengarahan kepada masyarakat setempat untuk lebih ramah dan menjalankan aktivitas senatural mungkin.

"Diharapkan dengan adanya desa wisata itu orang mengetahui kehidupan kita dan dapat menambah penghasilan bagi masyarakat setempat," ujarnya.
Di Padangpariaman desa wisata yang yang sudah dikembangkan dan telah menerima kunjungan wisatawan adalah Nagari Anduriang, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam dan Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai.

Sementara pembina Kelompok Sadar Wisata di Padangpariaman, Retno mengatakan desa wisata yaitu wisatawan tinggal di rumah warga untuk merasakan kehidupan di pedesaan.

Daerah yang akan dijadikan desa wisata harus memenuhi beberapa kategori yaitu rumah yang akan dijadikan penginapan, pemandu, fasilitas umum dan ada atraksi seni budaya di daerah itu.

"Saya berharap pemandu yang telah dilatih juga membagikan ilmunya kepada masyarakat," kata dia.

Ia menambahkan selain desa wisata, Padangpariaman juga menawarkan wisata desa yaitu wisatawan berwisata di desa dengan jangka waktu sehari atau tidak tinggal di daerah itu.

Kearifan Lokal Direktur Pusat Kajian Pariwisata Universitas Andalas (Unand) Padang, Sari Lenggogeni mengatakan dalam pengembangan desa wisata harus memperhatikan kearifan lokal yang akan ditonjolkan.

"Dalam mengembangkan desa wisata harus ada keunikan dari sebuah desa atau nagari sebagai potensi untuk dikembangkan," katanya.
Menurutnya keunikan-keunikan tersebut bisa berasal dari kearifan lokal yang ada atau pun potensi alam yang akan menunjang keberadaan sebuah desa wisata.

Untuk mengetahui dan menggali potensi tersebut pengembang haruslah memahami strategi identifikasi destinasi wisata untuk memilih keunikan yang terkuat untuk ditonjolkan.

"Untuk mengidentifikasi keunikan tersebut setidaknya harus memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan panca indra," tambahnya.

Sebagai contoh untuk mengidentifikasi berdasarkan panca indra salah satunya melalui indra perasa, maksudnya makanan apa yang bisa diunggulkan dan disajikan pada wisatawan.

Selanjutnya pendengaran, hal ini berkaitan dengan musik tradisi yang bisa ditampilkan untuk selanjutnya dapat dinikmati pengunjung.

"Untuk indra penglihatan adalah bagaimana kita melihat potensi wisata alam untuk memanjakan mata wisatawan pada sebuah desa wisata," ujarnya.

Sedangkan Ketua DPD Association of the Indonesian Tours and Travel (Asita) Sumbar, Ian Hanafiah mengatakan daerah ini memiliki potensi untuk pengembangan desa wisata karena kearifan lokal yang dimiliki setiap daerah berbeda-beda.

"Hal pertama yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam pengembangan desa wisata adalah pemetaan terkait potensi desa yang akan dijadikan objek desa wisata," katanya. (Ant/q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Forkada Harapkan Dukungan Kemenko Maritim Bangun Nias
Ka KPH XII : PHPL Berdampak Positif Terhadap Peredaran Kayu
Panitia Konferensi PWI Bona Pasogit Audiensi ke Bupati Taput
Mahasiswa Himmah Pertanyakan Pembahasan P-APBD Tahun 2017 dan KUA-PPAS Tahun 2018
Kerusakan Tembok Penahan Badan Jalinsum di Tarutung Belum Juga Diperbaiki, Ancam Keselamatan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU