Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Masihkah Gereja Batak Ibu Pendidikan?
* Oleh: Sahat P. Siburian
Kamis, 20 April 2017 | 14:48:46
Sejatinya dalam tubuh gereja Batak melekat citra dan identitas sebagai "ibu pendidikan dan lembaga belajar-mengajar". Ini dituturkan Ephorus emeritus Pdt. Dr JR Hutauruk saat berceramah pada konven pelayan penuh waktu HKBP distrik Medan Aceh, di gereja HKBP Griya Martubung, Medan, Senin (13/3).

Dalam makalah bertajuk "Jemaat Ibu Pendidikan: Arti dan Makna Tahun Pendidikan dan Pemberdayaan", Hutauruk menyebut sosok yang merilis citra dan identitas gereja Batak sebagai ibu pendidikan adalah Johannes Warneck, Ephorus gereja Batak (1920-1932). Warneck menjabarkan tema ini dalam bukunya "Die Inseln harren auf Mich. Ein Rueckblick auf 75 Jahre Batakmission" (Pulau itu Merindukan Kedatanganku: Kilas Balik 75 Tahun Batak Mission), terbitan tahun 1936 di Jerman. "Batak Mission" menunjuk pada lembaga sending Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) di Tanah Batak. Sebutan "Batak Mission" mencerminkan suatu dimensi kontekstual misi RMG.

Menurut Hutauruk, Warneck memilih figur "ibu" untuk menekankan fungsi pengasuhan dengan karakter pendekatan yang lebih persuasif ketimbang instruksional. Warneck melihat citra dan identitas gereja Batak sebagai ibu pendidikan bukanlah suatu konsep atau formulasi dalam dokumen formal. Tetapi merupakan prinsip yang operasional dalam seluruh aktivitas kehidupan gereja Batak pada setiap aras pelayanan. 

Di mata Warneck, para pelayan gereja Batak berhasil memotivasi jemaat-jemaat mengejawantahkan diri sebagai ibu pendidikan dan lembaga belajar-mengajar bagi setiap warganya beserta warga masyarakat. Buah dari kinerja ini menempatkan gereja Batak pada posisi "sudah menjadi guru pendidik bangsa".

Kita tentu tidak bisa menampik pendapat Warneck karena argumentasinya berdasarkan data faktual. Namun kita patut menelisik apa yang membuat gereja Batak menyandang citra dan identitas sebagai "ibu pendidikan dan lembaga belajar-mengajar"? Apakah citra dan identitas tersebut bersifat tetap atau terus-menerus?  Masihkah itu masih melekat dan operasional dalam tubuh gereja Batak sekarang ini?
Fakta Historis
JR Hutauruk memahami gereja Batak sebagai ibu pendidikan berlandaskan fakta historis yang akurat dan tidak terbantahkan. Pada zaman zending RMG (1861-1940), para pelayan serta warga gereja Batak (HKBP) berjerih payah mengobarkan pendidikan Kristen di kalangan jemaat maupun masyarakat.
Mereka memijahkan pendidikan Kristen dengan pola pendekatan informal dan formal, melalui pelbagai aktivitas lisan (khotbah dan mengajar), tulisan (penerbitan buku, majalah) serta mendirikan dan mengelola sekolah-sekolah.

Semua kegiatan tersebut dipersepsi Hutauruk merupakan pengejawantahan dari citra dan identitas gereja Batak sebagai ibu pendidikan. Namun dalam konteks uraian Hutauruk, citra dan identitas tersebut lebih berkorelasi signifikan dengan keberadaan sekolah-sekolah zending dan kualitas murid-murid lulusannya.

Fakta historis sekolah zending pada masa RMG dapat kita simak dari paparan Pdt Prof Dr Jan S Aritonang dalam buku "Luther dan Pendidikan", terbitan Komite Nasional LWF, Pematangsiantar, 2012. Formasi sekolah zending dalam hal ini boleh kita identifikasi dalam dua kategori, yaitu sekolah yang khusus menyiapkan tenaga-gerejani dari kalangan warga Kristen Batak dan sekolah yang terbuka untuk seluruh warga masyarakat.

Zending RMG mendidik tenaga-gerejani untuk menjadi guru dan pendeta di lembaga pendidikan yang disebut Seminari. Juga diselenggarakan "Sekolah Penatua" atau sekolah calon sintua di jemaat-jemaat tertentu (Aritonang, 2012: 38). Pada saat bersamaan, sejak babak awal berkarya, RMG telah menerapkan program "di mana ada jemaat, di situ ada sekolah" (Aritonang, 2012: 37).

Sekolah di setiap jemaat disebut Sekolah Rendah atau Sekolah Rakyat (SR) atau Sekolah Desa. Sekolah ini terbuka untuk umum, dengan masa pendidikan selama tiga tahun.  Kemudian didirikan SR khusus untuk Putri (Meisjesschool), Sekolah Anak Raja dan Sekolah Dasar berbahasa Belanda (Hollands Inlandsche School, HIS) (Aritonang, 2012: 38-39).

Pada tingkat sekolah lanjutan atau menengah, RMG mendirikan Sekolah Industri (=Pertukangan), Sekolah Perawat dan Bidan, Sekolah Pertanian, Sekolah Tenun dan Renda, Sekolah Kepandaian Puteri, Sekolah Bijbelvrouw, Sekolah Lanjutan berbahasa Belanda (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, MULO) (Aritonang, 2012: 39-40).

Aritonang (2012: 40) mencatat jumlah sekolah zending bertumbuh pesat. Pada tahun 1914 terdapat 507 jemaat dengan 159.024 anggota, 510 sekolah dasar, 5 sekolah lanjutan, 789 guru dan  33.099 murid. Kemudian pada tahun 1938 berkembang menjadi 758 jemaat dengan  416.206 anggota jemaat, 646 unit sekolah dasar, 5 unit sekolah lanjutan, 1.110 guru dan 55.481 murid.

Jumlah sekolah zending, tandas Aritonang, jauh melampaui jumlah sekolah pemerintah. Ia menggarisbawahi bahwa faktor utama yang menopang laju pertumbuhan sekolah zending bukanlah subsidi pemerintah, melainkan respons positif dan antusiasme orang Batak, yakni meliputi kesediaan bersekolah serta kerelaannya menyediakan sarana dan prasarana (Aritonang 2012: 27-28). Antusiasme ini semakin bergelora karena kualitas pengabdian dan kesungguhan para pengelolanya (Aritonang 2012: 55).

Menurut J.R. Hutauruk, pendidikan formal di sekolah-sekolah zending terpadu dengan aktivitas pendidikan informal. Semua ini membuat gereja atau jemaat berhasil mendidik, memberdayakan dan menghantar orang Batak memasuki suatu era baru, yaitu "hamajuon". Pada era ini, manusia Batak telah memiliki kompetensi pendidikan yang memadai untuk berkiprah dalam arena sosial, politik dan ekonomi. Manusia Batak juga telah pantas untuk meraih berbagai jabatan dalam tatanan birokrasi pemerintahan.

Namun derap hamajuon itu, disebut Hutauruk, menimbulkan suatu keresahan serius dalam kehidupan masyarakat, termasuk gereja Batak. Keresahan ini berkaitan dengan kegandrungan orang Kristen Batak jadi lebih berorientasi untuk mencapai keberhasilan material dan kurang peduli pada kehidupan spiritual. Tolok ukur hamajuon disandarkan pada pangkat (jabatan) serta jumlah materi yang diperoleh, tetapi cenderung abai terhadap kehidupan spiritual Kristen. Hal ini membuat standar nilai hidupnya jadi lentur dan berangsur rendah.

Aktualisasi Fokus
Tentu reputasi citra dan identitas gereja Batak sebagai ibu pendikan telah terukir dalam perjalanan sejarah etnis Batak. Namun cukup sulit untuk menakar apakah hingga sekarang citra tersebut masih melekat dan operasional dalam tubuh gereja Batak.

JR Hutauruk juga rupanya tidak ingin mengajukan suatu evaluasi. Namun ditegaskan, hamajuon yang terus berkelanjutan telah mengubah konstelasi sumber pendidikan manusia Batak. Konstelasi itu membuat gereja bukan lagi satu-satunya ibu pendidikan dan lembaga belajar-mengajar yang memberi arah hamajuon. Bahkan ditengarai, posisi pendidik dari gereja semakin surut, termasuk karena perkembangan sekolah-sekolah negeri dan sekolah-sekolah swasta milik masyarakat.

Memang sesuai fakta empiris, kita merasakan betapa kejayaan gereja Batak dalam mengelola pendidikan formal sudah semakin redup. Kebanyakan lembaga pendidikan milik gereja Batak (HKBP) berada dalam situasi "bagai kerakap  tumbuh di  atas batu, hidup enggan mati tak mau". Ekspresi sedemikian ini barangkali telah berlangsung sejak tahun sejak tahun 1960-an atau setelah Universitas HKBP Nommensen berdiri pada tahun 1954.

Namun, menurut Hutauruk, eksistensi sebagai "ibu pendidikan dan lembaga belajar-mengajar" tetap berlaku jadi dasar pemikiran untuk mewujudkan jemaat yang kreatif. Yaitu, jemaat yang menyajikan kebutuhan dan menjawab tantangan manusia pada masa kini. Aspek ini dijabarkan Hutauruk dengan contoh konkret. Antara lain program pemerintah Indonesia yang bertekad mengembangkan industri pariwisata di sekitar Danau Toba, termasuk di Kabupaten Samosir.  

Merujuk data statistik tahun 2009, Hutauruk mencatat  jumlah penduduk Kabupaten Samosir adalah 131.549 orang. Terdapat 56,85% Kristen dan  41% Katolik Roma. Mayoritas dari orang Kristen adalah warga HKBP yang tersebar dalam 23 resort.

Dalam pandangan Hutauruk, program pengembangan industri pariwisata Danau Toba merupakan suatu kesempatan berharga bagi gereja Batak. "Inilah saatnya gereja sebagai ibu pendidik dan lembaga belajar-mengajar bertindak, keluar dari birokrasi dan administrasi gereja yang membebaninya selama ini," kata Hutauruk. 

Hutauruk berharap agar para pendeta HKBP proaktif berkontribusi untuk mendidik dan memberdayakan warga jemaat dalam bidang pariwisata. Berbekal wawasan parawisata, warga Kristen Batak akan mampu hidup aktif dan kreatif meningkatkan kualitas pariwisata di sekitar Danau Toba.

Pada simpul itu, Hutauruk tampak mengintroduksi pentingnya mengaktualisasi fokus pelayanan jemaat dalam bingkai perannya sebagai ibu pendidik dan lembaga belajar-mengajar. Aktualisasi fokus pelayanan menghendaki setiap jemaat mesti giat merespons agenda sosial, politik dan ekonomi dalam interaksi bersama masyarakat. Pemahaman ini juga pekat mewarnai kiprah zending RMG. Jajaran pelayan zending RMG memfokuskan pelayanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan aktual pada zamannya.

Aktualisasi fokus pelayanan niscaya akan menghindarkan gereja Batak dari apa yang disebut dengan "romantisme sejarah". Yaitu kegandrungan terbuai mengagungkan kegemilangan masa lalu belaka, tanpa mencerap suatu pembelajaran untuk masa kini dan masa depan (Rahadian Rundjan, 2015).
Tentu sah-sah saja merasa bangga bahwa gereja Batak dalam suatu periode sejarahnya merupakan sentra kemajuan dan sekaligus sebagai turbin perubahan sosial. Pada masa zending RMG, gereja Batak menempati posisi sebagai referensi utama dalam kehidupan masyarakat dan garda terdepan untuk menggapai hamajuon.

Namun kini semua itu telah berubah dan mengalami degradasi. Sekarang ini gereja Batak tidak lagi mengatur sendiri segalanya, melainkan harus mengindahkan konteks hidup warganya. Kondisi ini menghendaki suatu sikap akomodatif terhadap perubahan zaman. Tanpa akomodasi, gereja hanya akan menjadi eksklusif dan eksentrik.*** (Penulis adalah pendeta, bertugas di kantor HKBP distrik Medan Aceh/d)



Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Banyak Pengungsi di Inggris jadi Tunawisma dan Miskin
Pertama Kali, Obama Tampil di Depan Publik Setelah Tidak Lagi Menjabat
Pria Thailand Bunuh Bayi 11 Bulan dan Disiarkan Via Facebook
Aksi Demo di Venezuela Terus Berlanjut, Korban Tewas Telah Mencapai 24 Orang
Pemberontak Maois India Serang Polisi, 24 Petugas Tewas
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU