Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Tut Wuri Handayani di Pulau Terluar
* Oleh Aditya Ramadhan
Rabu, 19 April 2017 | 17:41:18
Di suatu desa tertinggal pulau terluar di ujung timur Indonesia, guru yang selalu dinanti-nanti tidak datang selama berbulan-bulan dan anak-anak di desa itu pun hampir melupakan pendidikan.

Desa Popjetur di Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, adalah salah satu desa tertinggal di antara 117 desa yang ada di Kepulauan Aru. Orang-orang di sana sudah cukup bahagia hidup dengan memakan hasil kebun dan buruan di darat maupun di laut. Anak-anaknya cukup gembira dengan bermain setiap hari meski tak sering mendapat ilmu pengetahuan.

Di Aru, dengan kualitas pendidikan paling terbelakang dari 13 kabupaten yang ada di Provinsi Maluku, ada istilah untuk tenaga pendidik berupa sebutan "Guru Ujian". Yaitu istilah untuk guru-guru bertugas mengajar di sekolah-sekolah di desa pedalaman yang tidak pernah datang mengajar dalam keseharian, tapi hanya datang saat ada ujian.

Bupati Kepualauan Aru sendiri Johan Gonga yang mengatakan itu. Istilah itu pun diiyakan dan dibuktikan oleh Daniel Hendrik beserta kawan-kawan Program Sarjana Mengajar di daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar (SM3T) yang ditugaskan mengajar di Kabupaten Kepulauan Aru.

Rasanya sulit untuk kering keringat Hendrik dalam memberikan pendidikan pada anak-anak Desa Popjetur sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berkantor di bilangan Senayan.

Sepertinya jauh dari pantas memang seorang siswa SMP kelas 1 berusia 19 tahun atau siswa berumur 18 tahun pun bahkan belum mengenal huruf. Tapi memang begitu adanya.

"Benar-benar setengah mati untuk mengajak mereka sekolah," kata Giri Peranginangin, pemudi asal Medan yang ditugaskan menjadi guru Bahasa Indonesia di SMP N 1 Popjetur. Giri, Hendrik dan satu rekan lainnya harus mendatangi rumah warga satu per satu untuk mengajak anak-anak di Desa Popjetur agar mau sekolah, terkadang perlu dengan marah-marah.

"Anak-anaknya itu, memang susah sekali untuk sekolah," kata Khujatul Arifin, guru Matematika SMPN 9 Rebi, Kecamatan Aru Selatan Utara, yang logat bicaranya sudah terdengar ketimuran.

"Saya sedang mengajar di sini," dia menunjuk tempatnya duduk. "Di sana anak lainnya malah main bola,"Arifin menunjuk tempat yang hanya berjarak tiga meter di depannya.

"Kesal sekali kan?" ucap Arifin terbawa emosi. "Lalu kita kejar mereka, malah lari. Larinya ke hutan," ujar dia diikuti gelak tawa teman-temannya satu angkatan SM3T penugasan Kepulauan Aru di ruang tamu Pendopo Kabupaten Kepulauan Aru, di Dobo, pekan lalu, setelah berbincang dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

Watak anak-anak di Aru memang sedikit berbeda dengan di wilayah lainnya, khususnya dalam hal pendidikan. Cara lembut sudah pasti tidak akan mempan agar anak-anak itu mau mendengarkan guru-gurunya.

Arni Dwi Purwanti, guru prakarya, yang kebetulan ditempatkan di sekolah di Kota Dobo, Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Aru, diajarkan oleh guru setempat agar jangan terlalu lembut dalam mendidik. "Ibu, kalau bicara jangan terlalu lembut, harus keras sedikit. Kalau perlu pakai rotan," kata Arni menirukan gaya bicara ucapan guru lokal yang memberikannya saran untuk bersikap lebih tegas dan keras.

Ketika musim hujan tiba, kata Arni, murid satu kelas yang biasanya sebanyak 30 orang menurun drastis menjadi hanya lima orang yang datang ke sekolah.
Hendrik mengira, sulitnya keinginan belajar bagi anak-anak di pulau yang berbatasan dengan perairan Australia ini karena lingkungannya yang sudah terbiasa tanpa pendidikan. Di Desa Popjetur, SMPN 1 Popjetur baru berdiri mulai tahun ajaran 2016/2017 dan SMP tersebut satu-satunya yang ada di desa. Belum lagi ditambah tenaga pendidikan yang terkadang hanya datang pada saat ujian.

Di Desa Popjetur uang tidak ada artinya. Uang tidak berlaku di sana karena tidak ada yang bisa dibeli. Jika lapar, warga desa tinggal pergi ke kebun, berburu rusa atau tikus tanah dengan panah. Jika ingin minum berjalan 100 meter menyusuri padang ilalang untuk mengambil air langsung di mata air. Mandi sehari-hari tinggal menceburkan diri di telaga.

"Makanya kita tiga bulan sekali pergi ke kota beli makanan. Pulang-pulang ke desa bawa makanan seperti mau buka warung," kata Hendrik.

Untuk mencapai Desa PopJetur memakan waktu sembilan jam membelah lautan menggunakan "motor", istilah warga lokal menyebut perahu cukup besar dengan mesin motor. Transportasi lainnya perahu kecil seperti sampan bertenaga mesin gergaji.

Tak jarang perjalanan sembilan jam bisa molor menjadi dua hari jika gelombang Laut Arafura sedang ganas. Setelah itu, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 22 kilometer untuk benar-benar sampai ke desa Popjetur.

Hendrik tak sepenuhnya menyalahkan anak-anak Aru yang terkadang malas untuk belajar. Dia bisa melihat antusiasme anak-anak timur Indonesia ini dalam menuntut ilmu, terlebih pada hal-hal baru yang bagi mereka masih asing. Pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika lebih disukai oleh anak-anak Aru ketimbang Bahasa Indonesia.

Hendrik menceritakan satu orang muridnya bernama Yustinus Palem, siswa SMPN 1 Popjetur berusia 18 tahun, yang dididiknya mulai dari belajar membaca. Setelah kedatangan guru-guru SM3T di Popjetur pada 1 September 2016 hingga ujian akhir semester, Yustinus Palem bisa menyelesaikan ujian Matematika dengan mendapat nilai 80.

"Sebenarnya mereka mau belajar. Tapi lingkungan sekitarnya itu lebih dominan mempengaruhi," kata Hendrik.

Warga di desa setempat terlalu nyaman dengan kehidupannya yang sudah terpenuhi oleh tanah yang subur dan hutan yang dihidupi hewan-hewan buruan.
Pernah ia dan rekan-rekannya mengadakan pelatihan membuat tempe untuk para ibu rumah tangga di Popjetur. Namun dari sekira ratusan orang perempuan dewasa di desa, hanya 10 orang yang mau mengikuti pelatihan.

"Di sana pemuda seumuran saya, bangun pagi duduk-duduk, merokok, ngobrol, sorenya main voli, kalau lapar pergi ke kebun atau ke hutan," kisah Hendrik.
NOL FASILITAS
Hendrik, Arifin, Arni dan Giri adalah peserta SM3T angkatan keenam dan merupakan angkatan yang ketiga penempatan di Kabupaten Kepulauan Aru. Mereka mengikuti program SM3T selama satu tahun mulai 1 September 2016 hingga 31 Agustus 2017 dan dilanjutkan Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai syarat untuk memperoleh sertifikat profesi guru.

Selama mengajar di Aru, peserta SM3T tidak pernah mengajar dengan media ajar, bahkan buku yang paling utama dalam pendidikan pun tidak ada. Peserta SM3T Kepulauan Aru baru mendapatkan bantuan buku seberat satu ton belakangan ini. SMPN 1 Popjetur dengan siswa 32 orang pun tidak punya bangunan sekolah, ruang kelas menumpang di bangunan SD setempat.

Rumah yang disediakan khusus untuk guru pendatang pun kini lebih pantas disebut gubuk. Dindingnya kayu berwarna coklat kusam yang lapuk dan bolong-bolong, jendela melompong tanpa kaca dan beratapkan jerami.

Rumah untuk guru ialah satu-satunya bangunan yang atapnya masih jerami di desa itu. Alhasil para peserta SM3T menumpang tinggal di rumah kepala desa atau kepala sekolah.

Tidak ada listrik di sana. Malam hanya terang ketika bulan mencapai fase purnama, yang biasa disebut warga lokal sebagai "bulan terang", selebihnya gelap gulita. Nyamuk anopheles penyebab malaria masih berkeliaran pada malam hari. Hendrik pernah hampir menderita malaria dengan separuh tubuhnya bagian kanan lumpuh tak bisa digerakkan.

Ada Puskesmas di Popjetur, tapi sepi peminat karena warga lokal masih lebih percaya dengan tanaman-tanaman herbal sebagai obat. Hendrik membuktikannya ketika menderita malaria selama dua minggu hanya sembuh dengan meminum sari daun pepaya setiap hari.

"Mengajar di Kepulauan Aru itu bukan daerah 3T lagi, tapi 10T. Tertinggal, terisolasi, tersiksa, terparah, hahahaha...." kata Hendrik nyeletuk, seraya menertawakan kesedihannya sendiri.

Sempat terlintas perasaan masa bodo menyangkut di kepala para peserta SM3T mengingat perjuangan yang dilaluinya teramat sulit. Gaji peserta SM3T per bulan Rp2,5 juta untuk keseluruhan, wilayah terisolasi, fasilitas mengajar tidak ada, lingkungan warga sulit diajak berkembang, dan siswa yang diajar pun terkadang tidak mau menerima pendidikan.

Tapi masing-masing peserta merenungkan bahwa tidak ada lagi yang akan mengajari anak-anak di desa terpencil di Aru dengan benar kecuali para sarjana SM3T yang sudah ada di sana. "Terkadang, ah bodo amat bukan kampung gua ini, tapi ini negeri kita," kata dia.

Arifin juga sempat merenungkan tentang isu tidak adanya lagi program SM3T setelah angkatannya. Memang Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mengubah pola pengiriman peserta SM3T ke daerah.

Yang tadinya dikirim ke daerah lebih dulu lalu Pendidikan Profesi Guru (PPG) akan berubah menjadi PPG lebih dulu selama enam bulan, dan enam bulan sisanya dikirim ke daerah sesuai permintaan pemerintah daerah setempat. Kebijakan baru ini akan diterapkan mulai 2017.

"Sempat berpikir, kalau memang SM3T sudah nggak ada lagi, lalu bagaimana sekolah anak-anak ini setelah kami pergi," ujar Arifin penuh pertimbangan.
Para peserta SM3T penempatan Kabupaten Kepulauan Aru, yang rata-rata merupakan lulusan perguruan tinggi angkatan 2011-2012, sebisa mungkin menikmati perjuangannya menerapkan slogan pendidikan Tut Wuri Handayani yang dicetuskan Ki Hadjar Dewantara, yang memiliki makna: dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan.

Mereka mencoba menghibur diri dengan melakukan hal-hal baru seperti berburu, mengunjungi pantai-pantai terpelosok, hingga tertawa bersama warga kampung.

"Ada cerita lucu di tempat saya mengajar," kata Arifin memulai.

"Pernah suatu ketika semua laki-laki satu kampung pergi berburu hiu dengan 'motor', tapi mereka melewati batas perairan sampai memasuki perairan Darwin, Australia. Nah, ditangkaplah mereka oleh petugas Australia, dan mereka dipenjara selama tiga bulan! Selama tiga bulan itu satu kampung tidak ada laki-laki sama sekali," katanya.

Arifin menghela napas dan membetulkan posisi duduknya, kemudian melanjutkan, "tapi lucunya, selama di penjara itu mereka malah senang! Karena mereka dikasih makan enak secara teratur dan makan macam-macam buah." "Setelah tiga bulan mereka akhirnya dilepaskan, 'motor'nya dibakar, dan pas pulang-pulang ke desa mereka jadi gemuk, kulitnya jadi lebih putih dan bisa berbahasa Inggris," ujar Arifin menutup ceritanya diikuti gelak tawa yang berhamburan di antara peserta SM3T. (Ant/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Prof Dr Dian Armanto Harapkan Mahasiswa Lebih Mandiri dan Berkualitas
IPB Serukan Semangat Cinta Tanah Air
Mhd Lailan Arqam Raih Doktor Islam UINSU
Putri Sulung Ephorus HKBP Raih Spesialis THTKL dari USU
Program USAID Prioritas Telah Mengubah Peningkatan Mutu Pendidikan di Deliserdang
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU