Home  / 
Revolusi Mental dalam Al-Quran
* Oleh Islahuddin Panggabean SPd (Staf Media Centre Gerakan Islam Pengawal NKRI)
Jumat, 21 September 2018 | 20:47:56
Provinsi Sumatera Utara kini tengah mempersiapkan diri untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional 2018. Even nasional tahunan tersebut  dilaksanakan mulai 4 sampai 13 Oktober 2018 di dua daerah yaitu Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang.

Adapun tema yang diusung pada kesempatan kedua Sumut menjadi tuan rumah MTQ Nasional sepanjang sejarah ini adalah "MTQ Mewujudkan Revolusi Mental Menuju Insan Yang Qurani", MTQ Nasional. Sementara logo yang ditampilkan adalah Masjid Raya Al Mahsun, sedangkan maskotnya adalah ayam jago.
Terbaru, Gubernur baru Sumatera Utara, Edy Rahmayadi membagikan 285 tenda becak Musabaqah Tilawatil Quran Tingkat Nasional (MTQN) XXVII tahun 2018 kepada para pengemudi becak (abang becak), Senin (17/9). Diharapkan para abang becak maupun masyarakat dapat berpartisipasi mensosialisasikan dan mensukseskan MTQN itu.  Tentunya, sebagai masyarakat Sumatera Utara, bergembira menjadi tuan rumah pagelaran bertaraf nasional. 

Tema MTQ Nasional juga menarik untuk diperbincangkan karena sesuai dengan slogan pemerintahan Presiden Jokowi saat ini yakni revolusi mental, tepatnya MTQ Mewujudkan Revolusi Mental menuju Insan yang Qurani. Tema tersebut sebenarnya bernada harapan dan misi yang diinginkan melalui arena musabaqah ini. 

Dr Iskandar Z, M.Ag dalam Revolusi Mental: Perspektif Al-Quran (2016) menerangkan bahwa istilah revolusi berasal dari bahasa latin: revolutio, sesungguhnya lebih dahulu muncul sebagai istilah teknis dalam sains. 

Secara denotatif, revolusi berarti "kembali lagi" atau "berputar arah"; ibarat musim yang terus berganti secara siklikal untuk kembali ke musim semula. Maka, dalam sains, istilah revolusi mengimplikasikan suatu ketetapan (konstanta) dalam perubahan; pengulangan secara terus-menerus yang menjadikan akhir sekaligus awal. Pengertian seperti inilah yang terkandung dalam frase "revolusi planet dalam orbit".

Istilah revolusi ketika dikaitkan dengan mental tidak lagi dalam pengertian teknis, tetapi bergeser secara konotatif menjadi yang didefinisikan Thomas Kuhn sebagai "perubahan dalam susunan paradigma". Dalam hal ini, revolusi mental berarti "suatu perubahan dalam cara fikir dan bertindak sesuai dengan keyakinan yang melatarinya".

Sementara itu, M. Quraish Shihab dalam Kumpulan 101 Kultum tentang Islam (2016) menjelaskan, paling tidak ada dua ayat yang sering diungkap dalam konteks Revolusi Mental/ Perubahan Sosial, yakni firman-Nya dalam QS Al-Anfal : 53 dan QS Ar-Ra'd ayat 11.

"..karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Al-Anfal ayat 53). "..Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." (QS Ar-Ra'd : 11).

Kedua ayat di atas berbicara tentang perubahan sosial, bukan perubahan individu. Ini dipahami dari penggunaan kata kaum yakni masyarakat. Kedua ayat juga berbicara tentang dua pelaku perubahan. 

Pertama, Allah yang mengubah apa saja yang dialami oleh satu masyarakat, atau sisi luar/lahiriah masyarakat, sedang pelaku kedua adalah manusia, dalam hal ini masyarakat yang melakukan perubahan pada sisi dalamnya. Dalam istilah kedua ayat maa bi anfusihim (apa yang terdapat dalam diri mereka).

Dari situ ditekankan bahwa perubahan yang dilakukan oleh Allah pada masyarakat haruslah didahului oleh perubahan yang dilakukan oleh masyarakat menyangkut sisi dalam mereka. Tanpa perubahan itu, mustahil terjadi perubahan sosial. Bisa saja terjadi perubahan kepemimpinan atau bahkan sistem, tapi jika sisi dalam itu tidak berubah, maka keadaan akan tetap bertahan seperti sedia kala. 

Di sini perlu ditegaskan bahwa Al-Quran menjelaskan hal yang pokok untuk keberhasilan perubahan sosial ialah perubahan sisi dalam atau revolusi mental. Sisi dalam manusia itulah yang nantinya melahirkan aktivitas, baik positif maupun negatif dan bentuk, sifat serta corak akivitas itu yang mewarnai keadaan masyarakat. 

Sisi dalam manusia dalam Al-Quran dinamakan nafs inilah yang merupakan wadah besar. Wadah tersebut menampung qolbu dan bawah sadar. Quraish Shihab mengibaratkan nafs dengan wadah besar yang berisi kotak yang berisi segala sesuatu yang disadari manusia. Kotak itu adalah qolbu. Selain hati atau qolbu, apa yang dinamai para ilmuwan sebagai alam bawah sadar juga berada di wadah nafs, tetapi di luar kotak qolbu tadi. 

Terkait konteks revolusi mental atau perubahan sosial, Quraish Shihab menjelaskan setidaknya ada tiga hal pokok yang dapat ditampung dalam nafs. Pertama, nilai-nilai yang dianut dan dihayati oleh masyarakat. Semakin luhur dan tinggi suatu nilai, semakin luhur dan tinggi pula yang dapat dicapai. Oleh karena itu, nilai yang membentuk pola dan sikap hidup masyarakat yang pertama harus diubah atau jika suatu nilai itu masih dianggap baik, maka mantapkanlah nilai itu sehingga dapat menghasilkan perilaku yang sesuai dengan nilai. 

Hal Kedua adalah iradah atau tekad yang kuat yang menghasilkan aktivitas jika disertai kemampuan. Iradah lahir dari nilai-nilai atau ide yang ditawarkan dan diseleksi oleh "akal". Jika akalnya sehat, ia akan memilih dan melahirkan iradah yang baik. Semakin jelas nilai yang ditawarkan dan semakin cerah akal dalam menyeleksi, semakin kuat pula iradahnya. 

Hal ketiga adalah kemampuan. Kemampuan terdiri dari kemampuan fisik dan non fisik atau pemahaman. Contoh konkrit sebagai gambaran ialah ibadah haji yang baru-baru ini dilaksanakan oleh kaum muslimin seluruh dunia. Tentu sebelum mengamalkan haji, calon jamaah pasti memiliki iradah dan untuk mewujudkannya harus memiliki isthita'ah (kemampuan).

Risalah Al-Quran yang diemban Nabi berlangsung dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari. Tepatnya dimulai dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 Zulhijjah Haji Wada tahun 63 dari kelahiran Nabi. Dalam sebuah sabdanya, Nabi mengutarakan bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk memuliakan akhlak manusia. Dengan kata lain, Risalah Al-Quran hadir untuk membentuk pribadi yang mulia baik intelektual, mental spiritual dan emosional. 

Penutup
MTQ Nasional yang merupakan pagelaran syiar Al-Qur'an, harus mampu menjadi saat yang tepat bagi masyarakat khususnya pemerintahan baru Sumatera Utara untuk menetapkan nilai-nilai Qurani agar menjadi landasan bagi Sumatera Utara dalam pembangunan. Jangan sampai tema MTQ hanya sekadar tulisan belaka. Jangan sampai ayat-ayat Al-Quran yang bakal menggema di arena tidak diperhatikan, dihayati dan diamalkan. Wallahu'alam. (q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pengurus dan Kader PKS Binjai Mundur Massal
Pemprovsu Tak Bisa Bantu Keberangkatan Tim ke Pesparani Katolik di Ambon
Biaya Kampanye Politik di Indonesia Sangat Mahal
Kapolda: Terduga Teroris yang Tewas di Tanjungbalai Jaringan Syaiful
Pemilih Milenial Dinilai Cenderung Cuek Pada Politik
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU